2014,Rehab Sekolah di Tobasa Rampung

TOBASA- Dinas Pendidikan Toba Samosir menargetkan pembangunan infrastruktur gedung sekolah selesai tahun 2014. Pembenahan sarana dilakukan demi menunjang terwujudnya sumber daya manusia yang berkualitas dan memberi kesempatan untuk masyarakat mengenyam pendidikan, terutama kelompok usia sekolah.

Melihat dari rasio antara ruang kelas dan murid serta rasio antara sekolah dan murid disimpulkan bahwa Tobasa masih membutuhkan rehab dan pembangunan ruang kelas baru, ketersediaan ruang kelas dan sekolah masih jauh dari angka ideal.

Terlebih kondisi sekolah dan ruang kelas yang ada saat ini, kondisinya masih butuh perhatian. Banyak ditemukan bangunan sekolah dan ruang kelas yang sudah lapuk dan reot. Dan harus menjadi perhatian khusus dalam rangka pembangunan infrastruktur pendidikan.

“Rehab ruang kelas dilakukan secara bertahap. Setiap tahun, diknas sudah mematok berapa ruang yang direhab. Tak bisa dibangun serentak, harus bertahap. Tahun 2014 kami tuntaskan semua,” kata Kepala Dinas Pendidikan Tobasa Mariani MPd, Jumat (21/9) di Balige.

Bicara soal guru, sebut Mariani, undang-undang No 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen sesuai Pasal 1 ayat 1, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Peranan guru selain mentransfer ilmu pengetahuan ke peserta didik, juga dituntut memberikan pendidikan karakter dan menjadi contoh karakter yang baik bagi anak didiknya.

“Tentunya harus diikuti pemerataan komposisi jumlah guru yang ada di ibu kota kabupaten dengan daerah terpencil, maka perlu dilakukan pemerataan dan penataan,” tandasnya.

Dinas Pendidikan sendiri dalam hal ini telah mengeluarkan kebijakan yang mengatur mekanisme tentang pemerataan dan penataan guru sehingga tidak terjadi penumpukan di pusat kabupaten. Kendati demikian, kebijakan yang dibuat tidak serta merta dapat menyelesaikan permasalahan yang ada. Tobasa masih menghadapi masalah tentang infrastruktur seperti sarana jalan, listrik dan air bersih.

“Ditemui kasus guru yang tidak dapat bekerja maksimal karena terkendala kondisi jalan yang rusak parah serta tidak adanya fasilitas air bersih dan perumahan bagi guru. Soal ini, keterkaitannya dengan masalah anggaran. Bila melihat kondisi keuangan daerah, diperlukan dukungan dan perhatian khusus dari pemerintah pusat,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Sahala Hutapea menambahkan, tahun ini, rehab ruang kelas dari sumber dana block grant bisa dimaksimalkan dengan sistem swakelola.

“Sekolah penerima sumber dana block grant bisa mengatur dana sendiri untuk rehab gedung. Mereka berwenang mengelola anggaran, sisanya untuk rehab ruang lain, asal tak menyalahi juknis,” ujar Sahala.
Skala prioritas rehab gedung yang didanai dari sumber dana block grant secara berurutan adalah ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, perpustakaan, dan saluran air.

“Tapi kalau ruang kelas belum rampung, ya harus dirampungkan dulu. Sisanya digunakan untuk perbaikan ruang lainnya, “ sebutnya.

Dari segi pengawasan, Sahala berjanji meningkatkan pengawasan. Selain mengandalkan staf diknas, konsultan pengawas juga diminta untuk mengawasi. Sebab, banyak kepala sekolah yang tak mengerti konstruksi bangunan.  “Konsultan itu kepanjangan tangan dari Diknas. Jadi ya harus mengawasi,” bebernya. (cr-03)