5 Korban Penembakan Polisi Ditahan

Ke-6 korban penembakan menandatangi berita acara penahanan dan penangkapan di Polres Tapsel.

SIDIMPUAN – Lima dari enam korban penembakan yang telah ditetapkan tersangka dalam bentrok warga dan polisi di Polsek Barteng pada Sabtu (23/3) lalu, dan sempat dirawat selama 2 minggu di RSUD Kota Psp, akhirnya ditahan pihak Polres Tapsel, Kamis (4/4).

Mereka dijemput polisi dari RSUD Kota Psp sekitar pukul 11.00 WIB. Sementara seorang lagi yang masih dikategorikan anak-anak, akhirnnya ditangguhkan penahanannya dan dipulangkan. Suasana di ruangan rawat bedah, khususnya Kamar Tulip III RSUD Kota Psp terlihat ramai dengan beberapa petugas dari Polres Tapsel.

Adapun maksud kedatangan mereka adalah untuk menjemput keenam tersangka korban penembakan yaitu Murni Siregar (57), Huala Pulungan (18), Rustam Nasution (35), Masdawiyah Daulay (50), Rayan Pulungan (62), kelimanya warga Aek Buaton dan Amir Pulungan (52) warga Hutabargot.

Genap 2 minggu keenam tersangka dirawat di RSUD Psp, dan baru hari ini dijemput oleh pihak Polres. Proses penjemputan tampak sangat tertib dan aman. Keenam tersangka juga terlihat sangat tenang, tidak ada perlawanan atau pun penolakan.

Namun isak tangis keluarga Masdawiyah Daulay sempat mewarnai proses penjemputan ini.
Satu persatu para tersangka dibawa menuju kendaraan, yaitu dua unit mobil yang telah dipersiapkan di halaman parkir IGD RSUD Kota Psp.

Huala Pulungan, remaja tanggung yang tidak sanggup berjalan ini dibawa dengan menggunakan kursi roda dari ruangan menuju mobil, disusul oleh Rayan Pulungan, Amir Pulungan, Murni Siregar, Rustam Nasution, dan Masdawiyah Daulay.

Setelah sampai di halaman parkir ruangan IGD, keenamnya dimasukkan kedalam dua mobil yang berbeda. Rustam Nasution, ayah dua anak ini tampak sangat sedih sekali, sebab ia tidak ada satupun keluarga yang mendampingi.

“Istriku mengurus anak di rumah. Anak ku masih kecil-kecil. Jadi tak mungkinlah mereka kemari, biarlah kuhadapi sendiri,” ujarnya sedih kepada METRO. Begitu juga dengan Rayan Pulungan, pria yang sudah berusia 62 dua tahun ini juga sangat terlihat bingung dan sedih.

Tanpa alas kaki dengan dibantu petugas untuk naik ke dalam mobil. “Mau kemana rupanya kami dibawa,” tanyanya bingung.

Setelah keenamnya berada di dalam dua mobil, yang masing-masing 3 tersangka berada dalam satu mobil. Selanjutnya kedua mobil itu menuju ke Polres Tapsel. Sekitar 10 menit, sampailah mereka di halaman Polres Tapsel dan langsung menuju ke arah Pendopo yang berada di dekat ruangan Sat Reskrim.

Di situ, masing-masing dari keenam tersangka diminta untuk menandatangani surat penangkapan dan penahanan. Ironisnya, sebahagian besar dari keenam tersangka tidak dapat membaca dan menulis tanda tangan. Hanya Rustam dan Amir yang tahu.

Akhirnya, untuk memudahkan keempat lainnya hanya menggunakan tanda ‘cap jempol’ untuk dibubuhkkan di surat mereka masing-masing. Setelah selesai, Rustam, Amir dan Rayan dibawa menuju ruangan tahanan sementara Polres Tapsel.

Sedangkan Murni, Masdawiyah, dan Huala Pulungan, dibawa ke dalam ruangan PPA untuk diperiksa. Akhirnya Masdawiyah dan Murni dibawa menuju ruangan tahanan wanita, sedangkan Huala, karena masih dikategorikan anak-anak, akhirnnya ditangguhkan penahanannya dan dipulangkan.

Kapolres Tapsel, AKBP A Rizal Engahu melalui Wakapolres Kompol Zainuddin SAg menjelaskan, keenam tersangka resmi hari ini dijemput dari RSUD untuk ditahan. Dan untuk ketiga tesangka yang masih berada di Medan yaitu, Marasundut Siregar (28), Kahar Harahap (50) yang dirawat di RS Bhayangkari Medan, dan Asrian Harahap (35) yang dirawat di RS H Adam Malik Medan, secepatnya  juga akan dibawa ke Polres Tapsel.

“Jadi semua yang kami lakukan sudah sesuai dengan prosedur hukum. Jika para tersangka ingin meminta untuk ditangguhkan, silahkan buat surat permohonan dan akan kita proses,” ujarnya.
Tambahnya lagi, mengenai barang bukti 39 unit kereta dan 1 mobil L 300 juga akan terus diselidiki siapa-siapa pemilknya.

“Masih terus kita selidiki dan kembangkan,” terang Zainuddin. Terpisah, kuasa hukum para tersangka, Yusuf Nasution SH menjelaskan melalui telepon selulernya, sebenarnya tidak ada alasan kepolisian untuk menjadikan mereka sebagai tersangka. Sebab mereka tidak mempunyai bukti jejak pidana yang mereka buat.

“Kami sebagai lawyer hanya bisa berjalan sesuai prosedur untuk mempraperadilkan pihak kepolisian,” tegasnya. (mag-01)

Komentar