(FOTO Bernad L Gaol) Pembangunan ruang rawat kelas III RSUD Swadana Tarutung yang sudah mulai dikerjakan. TARUTUNG- Ruang rawat inap kelas III Rumah Sakit Swadana (RSUD) Tarutung, Taput, mulai direhap. Dana yang akan diperuntukkan sebesar Rp2,4 miliar lebih bersumber dari APBD Taput tahun 2012. Demikian dikatakan Plt Dirut RSU Swadana Tarutung L Sianipar kepada wartawan, Kamis (26/7). Ia mengatakan, pembangunan rehap ruang kelas III dilakukan mengingat kondisi bangunan lama sudah tidak layak pakai. “Rehap ini sangat dibutuhkan karena kondisi bangunan lama untuk ruang kelas III dan ICU sudah sangat tidak layak lagi difungsikan, jadi harus direhap total. Biayanya sebesar Rp2,4 M lebih dari APBD Taput 2012,” terangnya.
Untuk ruang kelas III nantinya akan difasilitasi 16 tempat tidur, 10 ruang fungsi untuk keperluan pasien dan dokter medis dengan luas areal 13 x 22 meter. Sedangkan ruang ICU akan diisi sebanyak 27 tempat tidur ditambah 12 ruang fungsi untuk dokter dan tenaga medis, serta pasien. Termasuk di dalamnya kamar mandi. Khusus ruang ICU luasnya 23 x18 meter. “Bangunan lama akan dibongkar. Setelah itu baru dibenahi fasilitas sesuai kebutuhan,” ujarnya. Dia mengatakan, saat ini proses pembangunan rehap ruang kelas III dan ICU sedang pada tahap pengerjaan rekanan. Direncanakan selesai bulan Desember mendatang. “Saat ini proses rehap masih pada tahap pengerjaan, rencananya pembangunan akan selesai Desember. Hal itu bisa kita lihat di plang proyek. Di sana semua tertera. Kapan dimulai dan kapan selesai, serta berapa anggaran,” ucapnya.
Informasi dihimpun METRO menyebutkan, pengerjaan proyek ini dimulai tanggal 10 Juli 2012 dan harus selesai 6 Desember 2012 dengan konstruksi beton yang dikerjakan oleh Mindo Amstrong Siregar, Wakil Direktur CV Swina Sinaga dengan nilai kontark Rp2.419.500.000.
Pembangunan sedang berjalan dan diharapkan terlaksana sesuai bestek yang sudah diatur dalam kontrak dan tepat waktu agar mampu memberikan hasil yang memuaskan sesuai fungsi peruntukan rumah sakit. Ketua Lembaga Masyarakat Peduli Lingkungan (LMPL) Taput Ramos H Manalu, Kamis (26/7) di Tarutung berharap masyarakat benar-benar mengawasi pembangunan itu. Sebab sangat dikkhawatirkan terjadi penyimpangan bila pengawasan di lapangan lemah. “Direktur Rumah Sakit selaku penanggungjawab proyek dituntut serius melakukan pengawasan agar tidak terjadi mark up,” imbuhnya.
Dia juga mengharapkan partisipasi masyarakat untuk ikut mengontrol pembangunan tersebut. “Peran serta masyarakat dalam mengontrol juga sangat berpengaruh untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan penyimpangan. Sebab, uang pembangunan RSUD tersebut adalah uang yang mengatasnamakan rakyat,” jelasnya. Selain peningkatan pengawasan menurut Ramos, pelayanan jajaran PNS, tenaga medis juga perlu ditingkatkan. “Perbaikan infrastruktur mestinya harus diimbangi dengan pelayanan tenaga medis yang bertugas di rumah sakit itu,” tandasnya. (cr-01)