Becak Hias Meriahkan Hari Pariwisata

(Foto: DHEV FRETES BAKKARA)
BERPOSE- Seorang warga yang melintas menyempatkan diri untuk berpose di depan becak-becak hias di Jalan Merdeka Pematangsiantar, Jumat (23/11).

SIANTAR – Ratusan becak bermotor merek Birmingham Small Arm (BSA) yang merupakan warisan sejarah sejak tahun 1940 buatan Inggis, tampil saat acara peringatan Hari Parawisata Dunia, Jumat (23/11) di Jalan Merdeka Lapangan Parawisata Kota Siantar. Akan tetapi, selama acara tidak terlihat satu orang pun Duta Parawisata Siantar yang baru-baru ini dipilih.

Kehadiran ratusan becak yang berjejer di Jalan Sutomo tampak mengundang perhatian masyarakat. Sebab sebagian dari becak tersebut dihiasi dengan corak dari berbagai adat budaya Kota Siantar. Sebelum berangkat keliling kota, di hadapan ratusan Abang Becak, Tuahman Saragih selaku Kadisporabudpar dalam sambutannya menyampaikan, keberadaan becak di Siantar harus tetap dipelihara karena merupakan peninggalan sejarah. Dikatakan, bahwa pihaknya akan mencoba lobi ke pusat agar ada anggaran dana untuk pemeliharaan becak di Siantar.

Sementara itu, salah satu perwakilan Abang Becak, Swarno Saragih saat memberikan sambutan mengatakan, sangat diperlukan perhatian dari pemerintah dalam mempertahankan keberadaan becak Siantar.  “Dulu jumlah BSA sekittar 2.500 unit, sekarang tinggal 300. Kalau tidak ada perhatian, tak tertutup kemungkinan BSA akan punah. Padahal Siantar satu-satunya kota di Indonesia yang masih memiliki kendraan peninggalan sejarah ini,” katanya.

Menurutnya, becak dengan mesin BSA buatan Inggris dan masuk ke Siantar sekitar tahun 1940 saat penjajahan. Onderdil aslinya sudah tidak ada lagi dijual. Namun, keberadaan BSA bertahan hingga saat ini, disebabkan beberapa bengkel yang mampu merawat mesin BSA.

Swarno menegaskan, kehadiran becak buatan Jepang yang beroperasi mengangkut penumpang sangat mempengaruhi semangat mereka. “Mereka bebas beroperasi, sehingga kami komunitas becak ini semakin terjepit. Alhasil bisa menyebabkan himpitan ekonomi yang berujung penjualan becak. Akibatnya BSA bisa punah dari Siantar,” katanya.

Oleh sebab itu, para komunitas Abang Becak mengharapkan ketegasan pemerintah untuk memelihara keberadaan BSA kalau memang dijadikan sebagai ikon wisata.

Buat Anggaran Pemeliharaan
“Jangan menunggu bantuan dari pusat, 1.000 tahun bisa tidak terwujud, jadi saya minta supaya Dinas Parawisata membuat anggaran pemeliharaan rutin terhadap becak,” kata Walikota dalam sambutannya.

Walikota juga meminta kepada Dinas Perhubungan dan kepolisian untuk dapat saling koordinasi dalam penertiban becak penumpang di luar dari BSA.  Dalam surat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu menyebutkan, hari Pariwisata Dunia yang ditetapkan oleh World Tourism Organization (UNWTO) dan diperingati setiap tanggal 27 September dimaksudkan untuk mendorong kesadaran masyarakat internasional akan pentingnya pariwisata sebagai bagian dari pembangunan ekonomi, sosial dan budaya yang berkelanjutan. Sementara thema untuk tahun 2012 adalah Pariwisata dan Energi Berkelanjutan: Menghidupkan Pembangunan Berkelanjutan (Tourism and Sustainable Energy – Powering Sustainable Development)

Duta Parawisata Kecewa
Terpisah, Duta Parawisata Kota Siantar yang bar-baru ini terpilih, saat dihubungi lewat ponselnya, mengaku tidak mengetahui adanya acara perhelatan parawisata tersebut. “Kami tidak ada diundang Bang, makanya kami tidak tahu. Padahal saat momen itu kami perlu belajar. Tapi bagaimana mau datang kalau tidak diundang,” ujar Fera juara Duta Parawista Kota Pematangsiantar dari hasil Audisi 27 Oktober kemarin.

Dia mengaku kecewa tidak bisa mengikuti acara yang bertemakan parawisata itu. Dikatakan sejak mereka terpilih hingga saat ini, mereka tidak pernah dipanggil oleh Dinas Parawista guna membicarakan program atau pelatihan bagi duta wisata yang terpilih.

“Gimanalah ya, kecewa juga sih gak bisa ikut. Padahalkan itu momen yang sangat penting bagi kami. Tapi kalau tidak diundang apa yang bisa kami buat,” ujar Fera yang saat ini sekolah di SMA Sultan Agung ini.

Fera mengaku bingung, apa saja yang harus dilakukan sebagai Duta Pariwisata Kota Siantar. Sebab mereka masih menunggu arahan dari Dinas Parawisata.  Sementara itu, Tuahman Saragih saat ditanya melalui pesan singkat kenapa pada acara tersebut tidak dihadiri Duta Parawisata, tidak membalas.

Belum Serius Perhatikan BSA
Sementara itu Presiden BSA Owner Motorcycles Siantar (BOM’S) Erizal Ginting diwawancarai mengatakan, kegiatan tersebut ditanggapinya dengan positif. Akan tetapi, menurutnya bahwa keberadaan ratusan becak tersebut hanya terkesan serimoni saja.

Namun dalam bentuk pemeliharaan atau keseriusan menjadikan becak BSA sebagai ikon sejarah Siantar, dia menilai Pemko Siantar tidak serius.  “Kita meminta supaya becak dimasukkan sebagai ikon wisata Kota Siantar dengan dilandasi sebuah peraturan daerah (Perda). Tapi tujuh tahun sudah kita usulkan supaya dibuat perdanya, namun hingga saat ini tidak terwujud,” ujar Rizal Ginting yang mengaku tidak bisa hadir karena berada di Jakarta.

Menurutnya, apabila becak sudah resmi sebagai ikon wisata Kota Siantar dengan berlandaskan Perda, maka pemko memiliki payung hukum untuk mengalokasikan anggaran dalam pemeliharaan becak Siantar.  Akan tetapi, sepanjang perda tersebut tidak dibuat maka becak BSA bisa terancam punah.

Perda yang kedua adalah tetang cagar budaya, dengan memasukkan becak juga sebagai cagar budaya, maka pemerintah memiliki kewenangan pemeliharaan becak.  “Kalau sudah ada aturannya, maka tidak bisa lagi sembarangan menjual BCA ke luar daerah. Pada perda tersebut dimasukkan bahwa wisata yang datang menggunakan becak untuk berwisata di Siantar dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah,” katanya.

Menurutnya, kalau sistem dan aturan sudah disahkan, maka para Abang Becak dapat makmur sebab sudah memiliki pendapatan mengantar para wisatawan. Namun bila sistem itu tidak diatur, maka bisa saja pemilik becak menjual becaknya ke orang lain atau luar daerah karena terhimpit ekonomi, apalagi dipengaruhi oleh becak mesin-mesin Jepang dan China.

“Kalau perda sudah disahkan, maka becak tidak bisa lagi dijual keluar daerah. Kalaupun dijual oleh pemiliknnya, maka pemerintah dapat membelinya dengan anggaran dana yang sudah dipersiapkan,” tambahnya lagi.  Rizal menambahkan, pemerintah belum serius memelihara cagar budaya serta mengembangkannya menjadi daya tarik wisatawan. (pra)

Komentar