Berpeluang Jadi Sentra Produksi Kopi

[RANO HUTASOHIT]
PANEN: Seorang petani di Kecamtan Raya sedang memanen kopi. Saat ini harga kopi turun.

SIMALUNGUN– Di tengah anjloknya harga kopi, membuat para petani terus mengeluh dan berharap ada kenaikan. Namun, sebanyak 11 dari 31 kecamatan di Simalungun, masih tetap menjadi prioritas sentra pengembangan tanaman kopi Arabika.

Kepala Dinas Perkebunan Amran Sinaga melalui Kepala Bidang Produksi Banua Pane mengatakan, jika bicara masalah harga, Disbun tidak bisa banyak berkomentar.

Namun pihak Disbun akan tetap berusaha meningkatkan produksi kopi asal Simalungun termasuk memperjuangkan hak paten.

“Usaha yang dapat dilakukan di tengah gejolak harga, diharapkan adanya peran aktif kelompok tani dalam mengelola kopi di tingkat rumah tangga melalui kerjasama pelatihan dengan berbagai perusahaan produsen kopi seperti starbucks,” ujarnya.

Anjloknya harga kopi beberapa bulan terakhir, kata Banua, tidak lantas membuat petani harus menebang kopinya. Ke-11 kecamatan itu, yakni Raya, Purba, Haranggaol Horizon, Dolok Silau, Pamatang Silimakuta, Silimakuta, Dolok Pardamean, Pamatang Sidamanik, Sidamanik, Pane dan Girsang Sipangan Bolon.

Menurut Banua, sesuai data Disbun tahun 2011 dengan 2012, sebenarnya ada peningkatan produksi kopi jenis robusta (kopi ateng, red). Total produksi tahun 2011 mencapai 8.487 ton.

Sementara tahun 2012 mencapai 9.515 ton diikuti penambahan jumlah produksi dan luas areal. Tahun 2011 luas areal 7.067 hektare, dan tahun 2012 sudah 7.370 hektare. Sementara tahun 2011 jumlah kepala keluarga 16.981 dan tahun 2012 mencapai 17.369.

“Dari data itu bisa diketahui, kalau animo masyarakat untuk bertani kopi sebenarnya meningkat. Namun kondisi anjloknya harga kopi sekitar 6 bulan terakhir belum bisa disimpulkan akan menurunkan animo masyarakat untuk bertanam kopi. Hanya saja, anjloknya harga kopi pasti akan berpengaruh,” ujarnya.

Masih kata Banua, sudah selayaknya sesuai hukum ekonomi jika harga kopi naik, maka masyarakat akan berlomba menanam kopi. Namun saat harga kopi turun, maka permintaan akan bibit kopi juga menurun. Kualitas kopi Simalungun sesuai pengakuan pengusaha kopi internasional, memiliki kualitas yang sangat baik dan dapat bersaing dengan kopi dari luar negeri.

“Kondisi geografis dan masih lebih alaminya kopi Simalungun menjadi nilai lebih. Tidak tertutup kemungkinan ada rencana pembukaan pabrik kopi untuk wilayah Simalungun. Namun hal itu berlum pernah dibicarakan.

Hingga saat ini masih difokuskan agar para petani kopi dapat lebih mandiri dengan mengelola kopi dengan industri rumah tangga dan sedang diperjuangkan pengusulan hak paten atau label kopi Simalungun,” ujarnya.

Terpisah, R br Saragih (35) petani kopi asal Raya, mengeluhkan anjloknya harga kopi saat ini. Saat ini harga kopi jenis arabika (kopi ateng, red) sangat turun drastis dalam kurun waktu setengah tahun terakhir.

“Harga kopi biji mentah Rp3.300 per kg, padahal sebelumnya mencapai Rp10 ribu per kg. Kita berharap harga kopi ini dapat segera pulih,” ujarnya. (rah)