Bocah Terdakwa Pencurian Dituntut 3 Bulan Penjara

[Darwis Damanik]
MASIH BERHARAP – DS duduk tertunduk lemas di lantai Ruang Tahanan PN Siantar, seraya berharap dijenguk Ibu.

SIANTAR – DS bocah 11 tahun, warga Jalan Kisaran Ujung, Kecamatan Siantar Marimbun, terdakwa perkara pencurian dituntut 3 bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) R Nainggolan, Selasa (4/6) di PN Siantar.

Selain DS, tuntutan tersebut juga ditujukan kepada rekannya RS (16), warga Jalan Laguboti, Kecamatan Siantar Selatan yang juga salah satu anak di bawah umur yang terlibat dalam perkara pencurian itu.

Dalam persidangan, DS ditemani oleh ibunya Hendina Nainggolan (39). Sedangkan DS, hingga kini tak seorangpun yang menemani.

Pantauan METRO, sidang yang digelar sejak pukul 10.00 WIB di ruang Sidang Anak PN Siantar, berlangsung tertutup. Sidang tersebut dipimpin langsung oleh Hakim Roziyanti dan dibantu Panitera Pengganti Hotma Damanik.

Selain Hendina Nainggolan yang merupakan wali RS, dalam menjalani persidangan tuntutan itu, kedua bocah di bawah umur tersebut didampingi pengacara Tumpal Sinaga SH. Sekira pukul 11.00 WIB, sidang dinyatakan ditutup dan akan kembali dibuka pada Senin (10/6) mendatang dengan agenda pembacaan vonis atau putusan.

Usai persidangan, Hakim Roziyanti ketika dikonfirmasi mengatakan, JPU R Nainggolan menuntut keduanya 3 bulan penjara. ”Jaksa menuntut keduanya 3 bulan penjara. Untuk putusan, seharusnya kita gelar pada Kamis depan. Namun karena libur, terpaksa kita undur hingga Senin mendatang,” ujarnya.

Disinggung mengenai putusan nantinya, Hakim Roziyanti mengatakan, dia masih menggunakan hati nurani. Mengingat bahwa kedua anak tersebut masih harus melanjutkan pendidikannya.

”Sejauh ini si DS tidak memiliki pendamping. Itu salah satu hambatan kita untuk memroses persidangan ini dengan cepat. Sebab, di sini kita hanya mempersidangkan perkara sebagai mana yang didaftarkan oleh tim Jaksa Penuntut Umum,” ujarnya.

Sementara itu, JPU R Nainggolah ketika dikonfirmasi, membenarkan tuntutan tersebut. katanya, tuntutan tersebut sudah tepat diarahkan kepada keduanya.

”Kita tuntut tiga bulan penjara,” ujarnya sembari memperlihatkan Surat Tuntutan Nomor Register Perkara : PDM -74/PSIAN/Epp.2/04/2013.

Selain menuntut keduanya untuk ditahan selama 3 bulan, Jaksa R Nainggolan juga menjatuhkan tuntutan kedua bocah tersebut untuk membayar biaya perkara persidangan sebesar seribu rupiah.

Masih di tempat yang sama, Pengacara kedua terdakwa Tumpal Sinaga mengatakan, dia selaku pengacara terdakwa merasa keberatan. Namun menanggapi tuntutan yang ditujukan kepada kedua kliennya yang masih berusia di bawah umur, ia telah mengajukan pembelaan secara tertulis kepada hakim.

”Kita harapkan keduanya bisa bebas pada sidang putusan nanti. Artinya, penahanan pidana penjara terhadap keduanya cukup sampai pada hari putusan tersebut,” harapnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Komisi Nasional Perlidungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan, tuntutan yang dibacakan JPU R Nainggolan sudah cukup tepat.

Namun dalam konteks selanjutnya, Arist mengharapkan agar hakim dalam menjatuhkan amar putusannya menggunakan perasaan dan jiwa kasih sayang seorang ibu.

”Jika berbicara dari awal, kesalahan berada pada pihak kepolisian yang menangkap dan menahan keduanya yang masih berstatus di bawah umur. Seharusnya sejak awal dapat dilakukan semacam mediasi antar pelaku dan korban hingga masalah ini tidak sampai ke ranah hukum.

Namun itu semua sudah terlanjur dan semoga ini menjadi acuan dan pedoman oleh penegak hukum. Namun untuk hakim, kita dari Komnas Perlindungan Anak meminta agar menolak segala tuntutan jaksa dengan menjatuhkan putusan pengembalian anak ke tangan orantuanya,” ujarnya.

DS: Aku Pasrah
Harapan DS untuk didampingi ibu atau anggota keluarganya yang l;ain saat sidang tetap tak terwujud. Pada sidang kemarin, DS tetap seorang diri.

Meski Hakim Roziyanti sudah menyuruh JPU R Nainggolan menyurati RS agar hadir dan melakukan pendampingan, namun pada persidangan tuntutan, Selasa (4/6), RS tetap tidak hadir.

”Kita sudah menyurati melalui Jaksa Penuntut Umum. Namun hingga kini kenyataannya tidak kunjung hadir. Kita tetap berharap agar RS mau hadir seperti yang dilakukan ibu terdakwa lainnya yang mau mendampingi anaknya,” ujar Hakim Roziyanti.

Sementara itu, ditemui di ruang tahanan PN Siantar, dibatasi jeruji besi sembari duduk bersamaan di lantai yang kotor, DS mengaku pasrah. Namun bocah yang masih duduk di bangku SD itu tetap merasa yakin ibunya masih menyayanginya.

”Mungkin Mamak masih sibuk mengajar,” ujarnya lembut sembari tertunduk lemas. Mengenai tuntutan tiga bulan penjara yang dibacakan JPU R Nainggolan, DS dan rekannya RS, mengaku pasrah.

”Aku pasarah ajalah Bang. Kayak mana lagi mau kubuat,” ujar bocah kelahiran 31 Desember 2001 itu. Ditanya mengenai pesan yang akan disampaikan ke ibunya atau keluarganya, DS menyatakan tidak mau lagi. Alasannya, hal itu percuma dan tidak akan membuat langkah ibu dan keluarganya ringan untuk menjenguknya.

”Lalap kukasih pesan, tapi tidak adanya yang dijenguk aku Bang,” ujarnya.

Kuperlakukan Dia seperti Anak Kandung
Terpisah, RS yang selama ini disebut-sebut sebagai ibu DS mengatakan, dia tidak pernah menelantarkan DS. Dia mengaku sudah melakukan tugasnya sebagai seorang ibu, namun DS yang memang tidak bisa mengikuti aturan yang berlaku di keluarga itu.

Kepada METRO, dia mengisahkan awalnya DS menjadi bagian dari keluarga itu. Katanya, DS dititip oleh ibu kandungnya sejak usia 4 tahun. Awalnya dia berbisnis di kampung ibu kandung DS, Tiga Bolon. Di sanalah RS bertemu dengan ibu kandung DS dan dia juga sering memberi DS jajan dan membonceng DS naik sepedamotor. Dari situlah awal perkenalan dan kedekatan itu.

Namun tak berapa lama, saat DS berusia 4 tahun, ibu kandungnya menitipkan DS kepada RS. Sepengetahuan RS, ibu kandung DS menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia.

“Dia kubuat seperti anak kandungku. Kusekolahkan,” ujar RS dalam pesan yang dikirimkan kepada METRO.

Dia mengatakan, DS tadinya merupakan seorang anak yang baik, namun dia tidak pernah betah di rumah. Dia selalu bermain ke tempat yang jauh. Kalau tidak dicari, DS tidak pernah pulang. Dan saat di rumah, RS mengaku tidak pernah memukul DS.

“Cuma kita ingatkan, kalau sudah sore, harus pulang ke rumah,” sambungnya.

Namun, kata RS, hal tersebut kembali diulangi DS esok harinya. RS juga menyekolahkan DS, namun hanya bertahan sampai kelas 3. Gurunya juga sering marah dan sepulang sekolah, DS tidak langsung ke rumah, malah tidur di rumah kawannya. RS juga tetap berupaya mencari DS karena memang sangat suka di rumah orang.

Hingga akhirnya dia lari ke rumah R br Naibaho. Di sana, RS juga menyuruh DS untuk pulang, namun DS tidak mau. Di rumah itulah DS mencuri dan membawanya ke meja hijau.

RS juga mengaku sangat sedih karena ibu kandung DS tidak tahu kabarnya. Padahal, kata RS, nomor telepon untuk berkomunikasi dengan DS ada pada ibu kandung DS. Namun dia tidak pernah mau menghubungi DS.

“Dan sudah besar begini, dia mencuri. Sedih hatiku, seperti disayat sembilu. Hancur,” kata RS.
RS juga mengaku bahwa dia sangat benci dan taku pada pencuri dan tidak bisa lagi menerima DS. Namun, dia mengaku bersyukur jika memang R br Naibaho bersedia menampung RS jika keluar dari penjara nanti, seperti yang telah disampaikan R Naibaho sebelumnya. (mag-08/ara)

Komentar