Bapak, Bersabarlah Sampai Aku Menghadiahimu Cucu

Ini cerita dari seorang gadis yang dulunya tidak diharapkan oleh bapaknya. Namun, setelah lahir justru sangat dekat dengan bapaknya. Gadis itu adalah saya. Saya adalah seorang pekerja biasa, berumur 27 tahun dan belum menikah.
Nama saya Cyndi atau Indy begitu keluarga saya memanggil saya.

Sudah lebih dari 27 tahun, engkau memberikan segala keringatmu untuk seorang gadis yang bengal. Dulu, gadis ini memang tidak sengaja kau inginkan. Kau sudah merasa cukup, karena sudah memiliki dua anak lelaki yang lucu-lucu.

Tapi, setelah beberapa tahun setelah anak keduamu lahir, istrimu mengalami tanda-tanda kehamilan lagi. Kalau orang jawa bilang “kebobolan”, karena tidak sengaja hamil atau memang sudah tidak ingin hamil lagi sebenarnya.

Karena dua kakaknya lelaki, kau pikir yang ketiga ini pun akan terlahir lelaki. Bahkan, kau tidak mempersiapkan apapun untuk kelahiran anak ketiga ini. Kau pikir, si adek terakhir ini akan memakai pakaian atau peralatan bekas kakaknya. Waktu itu belum secanggih sekarang. Sudah ada USG, namun harganya mahal, dan kau pun hanya menerka-nerka saja, tak mengetahui pasti jenis kelamin si bungsu ini.

Kau mempersiapkan si gadis ini seperti seorang lelaki. Kau mendidiknya dengan cara mirip seperti kau mendidik kedua anak lelakimu, mungkin lebih sedikit lembut tapi hanya sedikit. Kau bercerita, sewaktu istrimu hamil si gadis ini, kau tak mau memotong rambutmu sampai si gadis lahir. Entah itu keinginan atau sebuah nazar kau sendiri tak tahu, tapi yang jelas kau menjadi pria pemalas ketika istrimu hamil, “Mungkin bawaan bayi,” begitu katamu.

Kau tak pernah menyisir rambutmu setelah mandi, pakaianmu berantakan setiap akan pergi ke kantor. Kau tak pernah merawat badanmu. Itu berlangsung sampai si gadis ini lahir. Kata istrinya, ketika si gadis ini lahir kau menangis penuh haru, di antara yang lain kau yang paling tersedu. Kata istrimu, kau kaget dan takjub karena anakmu perempuan, tidak seperti yang kau bayangkan.

Ucapmu ketika itu, “Gadis ini akan menjadi pembawa damai di keluargaku.” Kau memperlakukan si gadis ini sama, seperti anak-anakmu yang lainnya. Dia tumbuh seperti lelaki. Tapi, untung saja istrimu adalah seorang perempuan yang lembut. Meskipun, gadismu ini keras, galak, suka berkelahi, tapi dia punya sisi sensitif. Dia suka berdandan dan merawat dirinya.
Ada rasa egois dalam dirimu. Untuk pendidikan, percintaan, dan tingkah laku, terkadang kau memaksanya sesuai keinginanmu, tanpa menanyakan apa maunya gadis itu. Kau memberinya kebebasan hanya dalam hal berkawan, walaupun kau selalu mengintainya dengan jarak.