Si Tatangatur Horja Adat Harus Komit Pertahankan Jatidiri Budaya Simalungun

Si Tatangatur Horja Adat dan Budaya Simalungun peserta TOT, foto bersama dengan pengurus DPP Presidium PMS, DPC PMS Kota Pematangsiantar dan pengurus IKEIS.
HermantoSipayung/MetroSIantar
Si Tatangatur Horja Adat dan Budaya Simalungun peserta TOT, foto bersama dengan pengurus DPP Presidium PMS, DPC PMS Kota Pematangsiantar dan pengurus IKEIS.

MetroSiantar.com-Dalam pelaksanaan acara suka maupun duka di Masyarakat Simalungun, pembawa acara adat (Si Tatangatur Horja) harus komit mempertahankan Budaya Simalungun.

Itulah kesepakatan yang diputuskan 50  Si Tatangatur Horja Adat Simalungun, saat mengikuti Training Of Trainer (TOT) Si Tatangatur Horja Adat Simalungun, yang dilaksanakan Dewan Pengurus Cabang Partuha Maujana Simalungun (DPC-PMS) Kota Pematangsiantar.

Acara TOT digelar Sabtu (16/9) di aula Fakultas Hukum USI.  Diskusi tampak alot ketika membahas banyaknya pengaruh budaya lain yang sudah kerap terjadi pada saat acara pesta adat Simalungun.

Hal itu menurut Januarison Saragih Sumbayak SH MHum yang bertindak sebagai moderator harus dihempang dan tidak boleh dibiarkan. Sebab, bila dibiarkan akan membuat keaslian Budaya Simalungun perlahan-lahan hilang dan nantinya bisa punah.

“Kita harus berani menolak ketika ada upaya pihak lain mencampur baurkan, atau menyusupkan budaya lain saat berlangsung Pesta Adat Simalungun. Minimal ketika kita yang menjadi Suhut ( tuan rumah pesta),” tegas Januarison, saat memulai diskusi.

Sesi pertama TOT, St Lensudin Saragih Sumbayak, Ketua DPC PMS Kabupaten Simalungun yang membawakan materi Horja Adat Pusokni Uhur memaparkan, dalam pesta adat Pusokni Uhur (kematian) dikenal beberapa istilah dalam Suku Simalungun.

Pada dasarnya, yang bisa dilangsungkan adat Simalungun saat orang Simalungun meninggal yakni, Matei Matua, Matei Sayurmatua, dan Matei Layur Matua.

Disebut horja adat Matei Matua, apabila masih ada anak dari orang yang meninggal belum berumah tangga.

Contoh, anak dari yang meninggal ada empat orang, satu dari empat orang ini masih ada yang belum berumah tangga.

Selanjutnya, Matei Sayurmatua yakni, semua keturunan dari orang yang meninggal dunia sudah berumah tangga dan sudah memiliki pahoppu (cucu) pada umumnya. Namun hal ini sering menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat Simalungun.

Polemiknya, ketika orang yang meninggal dunia sudah sangat tua. Tetapi masih ada satu anaknya belum menikah. Apalagi sebenarnya anak tersebut juga sudah patut menikah.

Contoh, ada orang yang meninggal umurnya sudah lebih 60 tahun dan memiliki anak yang sudah lebih berumur 30 Tahun dalam masyarakat Simalungun sudah patut menikah tapi belum menikah.

Pertanyaannya, apakah dalam hal tersebut bisa dibuat horja adat Sayurmatua?. Dalam diskusi menganai contoh itu, berlsangsung sangat hangat. Dan kesimpulannya, pada dasarnya bisa dilaksanakan horja adat Sayurmatua  apabila sudah diputuskan dalam kesepakatan yang disebut dengan Riah Huta.

© 2008 - 2017 MetroSiantar.com - PT. Siantar Media Pers. All rights reserved.