Camat Kotanopan Pantau Hasil Panen Petani

Babi Hutan dan Monyet Pengaruhi Hasil Panen

MADINA – Camat Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Ikbal Arifin SH memantau musim panen masyarakat di kecamatan itu untuk melihat secara langsung musim panen yang berlangsung sejak sepekan terakhir.

Hasil pantauannya, tahun ini hasil panen petani stabil dari musim sebelumnya.
Ikbal Arifih SH kepada wartawan, Jumat (30/11) mengatakan, dari pantauan mereka beberapa hari terakhir dengan turun langsung ke areal pertanian masyarakat, hasil panen padi untuk musim ini stabil tidak ada kenaikan dan juga tidak turun.

Pemerintah sempat khawatir atas musim hujan yang terjadi selama sebulan terakhir. Namun setelah dipastikan, tidak  mempengaruhi hasil panen petani, padahal sebelumnya pemerintah dan warga petani mengaku cemas dan takut hasil panen mereka turun akibat cuaca ekstrim.

”Cuaca sebulan terakhir ini kan cukup buruk dan sudah sering terjadi banjir di sekitar areal pertanian. Alhamdulillah secara umum hasil panennya stabil. Kalaupun ada yang turun, itu tidak seberapa. Kita akui areal persawahan di seputaran daerah aliran sungai memang sempat terendam air dan hanyut.

Walaupun tidak bisa dipanen, tapi tidak begitu mempengaruhi  hasil panen, karena rata-rata areal persawahan yang banjir ini tidak begitu luas. Kondisi semacam ini memang sering dialami petani setiap musim penghujan.

Karena rata-rata areal persawahan di daerah ini banyak di seputaran daerah aliran sungai. Berungtunglah ketika musim hujan usia, padi sudah tua dan tidak begitu ditakutkan lagi,” ungkap Camat.

Selain banjir yang mengancam, masalah utama yang di hadapi warga adalah hama babi hutan dan monyet serta binatang lainnya. “Belakangan ini populasi babi hutan di daerah ini meningkat, ini terlihat dari banyaknya areal persawahan yang dirusak, begitu juga dengan monyet.

Saya rasa perburuan babi ini di setiap kampung perlu diaktifkan kembali,” ucapnya. Diakui Ikbal, perburuan babi hutan ini sudah jarang di lakukan, jikapun ada, itupun hanya di desa-desa tertentu. Jadi tidak mengherankan populasi babi ini meningkat. Solusinya tidak lain, warga desa diharapkan kembali mengaktifkan perburuan.

”Sekitar dua tahun lalu Pemkab Madina mempunyai anggaran terhadap perburuan yang dilakukan warga. Setiap satu ekor babi dihargai sebagai bentuk motivasi kepada warga. Tapi belakangan ini itu tidak ada lagi. Jadi sekarang  kita harapkan inisiatif warga,” ujarnya.

Amiruddin (50), salah seorang petani di desa Simpang Tolang mengakui hasil panen tahun ini memang stabil dan hampir sama dengan hasil tahun lalu. Hanya saja sebagian petani ada yang mengalami penurunan akibat hama babi hutan yang merusak gabah padi.

“Umumnya hasil panen para petani tahun ini biasa-biasa saja. Artinya tidak turun. Walaupun ada yang turun, satu atau dua orang dikarenakan areal persawahannya sebagian hanyut atau terendam air karena terdapat di seputaran daerah aliran sungai. Dan sebagian lagi karena hama binatang,” ujarnya.

Selain itu, sambung Amir, kendala adalah irigasi. Sebab apabila terjadi banjir, rata-rata irigasi yang ada di sekitar wilayah ini rusak dikarenakan masih bersifat tradisional.

“Rata-rata irigasi di daerah ini masih bersifat tradisional. Jadi kalau sungai banjir, otomatis hulu irigasi akan hanyut. Begitu juga dengan longsoran tanah sering menimpa irigasi.

Kalau hal ini terjadi, maka para petani akan  bergotong royong  memperbaikinya yang terkadang 2-3  hari,” pungkasnya. (wan)

Komentar