Cintai dan Jaga Budaya Simalungun

SIMALUNGUN – Pedoman Habonaran Do Bona dalam berinteraksi kebudayaan meliputi tiga aspek, yakni tata aturan hubungan antara manusia dengan Tuhan, aturan hubungan antara manusia dengan sesamanya, dan aturan hubungan antara manusia dengan alam.
Intinya, Pedoman Habonaran Do Bona adalah mencintai dan menjaga Budaya Simalungun dengan baik dan benar.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Simalungun, Karshell Sitanggang akhir pekan lalu di Gedung Cadika, Jalan Asahan, KM 4 ketika menjadi narasumber pada lokakarya pengembangan kearifan lokal di Kabupaten Simalungun. Acara dihadiri ratusan peserta dari berbagai organisasi Simalungun.

Narasumebr lainnya pada acara yang membahas tentang budaya Simalungun dalam perkembangan zaman, adalah Kabid Kebudayaan Disbudpar Simalungun Jayamin Sipayung SPd dan Rektor Universitas Simalungun (USI) Drs Hisarma Saragih Mhum.

Pada acara yang dimulai sejak pukul 10.00 WIB itu, para peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan dari ketiga narasumber, mereka juga diberi kesempatan untuk bertanya atau menuangkan pengetahuannya tentang Budaya Simalungun.

Usai mendengarkan presentase Karshell Sitanggang, Jayamin Sipayung SPd dalam presentasenya, menjelaskan tentang fungsi nilai luhur warisan daerah dalam khidupan berbangsa dan bernegara.
Sedangkan Rektor USI Drs Hisarma Saragih Mhum lebih menjelaskan tentang tokoh Simalungun dalam arus perubahan zaman dari tahun 1800-1968.

Hisarma Saragih mengambil beberapa tokoh Simalungun yang memberi inspirasi pelaksanaan Habonaron Do Bona, yakni Tuan Rondahaim Saragih Garingging yang merupakan Raja Raya “Napoleon Van Bataks” yang menentang kolonial Belanda di Simalungun, Sang Naualuh Damanik yang merupakan aja Siantar ke-14 dan juga penantang kolonialisme Belanda di Siantar dan Pdt Jaulung Wismar Saragih yang merupakan tokoh pembaharu dan pelopor Kebangunan Simalungun.

Dalam acara kebudayaan itu, Pemkab Simalungun, pantia, beserta dan narasumber berharap agar seluruh aspek masyarakat khususnya masyarakat Simalungun lebih sadar dalam mencintai budaya lokal dalam zaman era globalisasi ini.

Pada acara tersebut, para peserta diberi cendera mata berupa tas, artikel pembahasan dari masing-masing narasumber dan juga beberapa alat tulis. (mag-08/mer)

Komentar