DHC Angkatan 45 Kecewa Tigor-Suhari Tak Peduli Sejarah

[Foto: Rizki W Siregar]
TUGU JUANG – Tugu juang yang terletak di Simpang Enam, Pusat kota Rantauprapat merupakan peninggalan sejarah Labuhanbatu. Pengurus DHC 45 menilai pembangunan tugu juang ini melanggar konsep yang diajukan.

RANTAU – Dewan Harian Cabang (DHC) Angkatan 45 Kabupaten Labuhanbatu sangat kecewa atas sikap Bupati Labuhanbatu Tigor Panusunan Siregar dan Wakil Bupati Suhari Pane yang tidak peduli dengan nilai sejarah.

Terbukti, janji Tigor-Suhari pada kampanye lalu memperjuangkan rumah dinas Kepala Cabang PLN Rantauprapat menjadi aset pemerintah daerah belum direalisasaikan. Rumah dinas Kepala Cabang PLN Rantauprapat merupakan tempat rapat pembentukan Komite Nasional Daerah Labuhanbatu yang merupakan cikal bakal Pemkab Labuhanbatu.

Ketua DHC Angkatan 45 Labuhanbatu H Bahari Hasibuan melalui Sekretarisnya H Syamhasri SH kepada METRO, Senin (17/12) mengatakan sekitar tahun 2010 lalu Bupati Labuhanbatu Tigor Panusunan saat berkampanye di komplek perkuburan Paindoan mengatakan akan memperjuangkan pengalihan rumah dinas Kepala PLN Rantauprapat menjadi aset pemerintah daerah.

Sebab di rumah tersebutlah tempat diselenggarakanya rapat pembentukan Komite
Nasional Daerah Labuhanbatu. “Seharusnya Tigor-Suhari ingat akan janjinya tersebut, karena janjinya waktu itu akan mengupayakan pengalihan rumah dinas Kepala PLN menjadi aset Pemkab dan dikelola oleh DHC 45 dan kami terus menunggu janji itu direalisasikan,” kata Syamhasri.

Dijelaskan Syamhasri, kekecewaan DHC 45 semakin bertambah ketika pihak Pemkab mengabaikan kesepakatan konsep perbaikan dan perawatan tugu juang yang terletak di Simpang Enam, Pusat kota Rantauprapat dan tugu juang di Jalan Juang Kelurahan Lobusona.

Sebelum perbaikan dilakukan, Pemkab sendiri telah sepakat akan menggunakan konsep yang disampaikan oleh DHC 45. Kenyataanya yang dilaksanakan oleh Pemkab tidak sesuai dengan pengajuan DHC 45.

“Ketika dua tugu juang itu direhabilitasi pada tahun 2012 ini, konsep yang kami sampaikan tidak dilaksanakan, seperti bentuk pagar dan anak tangganya, serta tidak adanya jalan paving blok yang disediakan bagi pengunjung. Sebab sesuai ajuan konsep DHC 45, kami ingin tugu ini menjadi situs sejarah yang dapat dikunjungi bukan hanya dipandangi dari kejauhan,” katanya.

Sementara Wakil Sekretaris DHC 45 Supardi Sitohang SE menambahkan, untuk perawatan tugu juang di Jalan Lobusona juga tidak sesuai seperti yang diharapkan oleh pihak DHC Angkatan 45.

Sebab dana yang dikucurkan oleh Pemkab senilai Rp100 juta tidak membawa banyak manfaat bagi tugu tersebut. Sebab pada tugu juang di Lobusona yang terlihat hanya perubahan warna cat dan beberapa batang besi yang diganti.

“Jadi uang Rp100 juta tidak bisa memberikan manfaat yang besar bagi perawatan tugu juang Lobusona jika memang Pemkab bersungguh-sungguh dalam membenahi situs sejarah yang juga merupakan tempat berkantornya panitia pembentukan Kabupaten Labuhanbatu,” terang Supardi.

Terkait kekecewaan yang disampaikan DHC Angatan 45 ini, pihak Pemkab Labuhanbatu belum memberikan memberikan komentar apapun.

Kabag Humas Pemkab Labuhanbatu Abdurahman Hasibuan ketika dihubungi melalui telepon selulernya tidak menjawab, begitu juga pesan singkat yang dikirim tidak dibalas. (riz)

Komentar