Diduga Stres, Oknum Guru Aksi Coret di Kantor Diknas

[Foto: Hermanto Turnip]
AKSI CORET: Oknum guru yang melakukan aksi coret dinding di Kantor Dinas Pendidikan Tobasa, Senin (17/12).

TOBASA- Seorang guru bernama Gurasta Panjaitan melakukan aksi coret dinding di kantor Dinas Pendidikan Tobasa, Senin (17/12) sekitar pukul 15.30 Wib. Berbekal spidol berwarna hitam, Gurasta menuliskan “Bapak Wakil Bupati bohong, Bapak Eston bohong, dan Bapak Sitompul bohong.

Katanya di kantor Dewan ternyata tidak” lengkap dengan tanda tangannya. Dia menuliskan itu di dinding pintu masuk ruang Kepala Dinas. Aksi guru tersebut sempat tidak diketahui para pegawai kantor tersebut. Tidak hanya aksi coret dinding, sang guru pun ikut memarkirkan sepedamotornya di depan pintu.

Sepedamotor yang terlihat masih baru itu masuk dari arah kantin kemudian ditinggalkan begitu saja bersama seragam korpri miliknya usai melakukan aksi coret. Tidak ada satu pun pegawai yang menghalangi aksi Gurasta.

Usai mencoret dinding, Gurasta dimintai keterangan apa maksud dari aksinya itu awalnya sempat menolak dan mengatakan agar ditanya kepada Kepala Dinas. Dia hanya mengaku, hanya seorang guru yang mengajar di SD Siboruon, Kecamatan Balige, kemudian berlalu.

Selang beberapa menit kemudian, dia datang lagi dan kali ini membawa poster yang penuh dengan tulisan. “Ini yang saya tuntut selama ini, kalau gara-gara aksi ini saya dipenjara silahkan. Atau pecat saja saya,” timpalnya.

Dalam poster berukuran kecil itu terdapat pernyataan yang diberi nomor. Pada urutan pertama ditulis, Kalau Gurasta penjahat karantinakan dibui. Poin kedua, gila karantinakan di RS Jiwa, yang ketiga, orang baik hargai kebaikannya.

Lalu tulisan berikutnya, “siapa yang membuat Gurasta itu dapat gaji dari Bank Sumut? 38 bulan kali Rp2.600.000. Banyak amat kerugian negara ini! Dia menunjukkan poster tersebut sambil menangis. Setelah itu, baju korpri dia letakkan di atas sepedamotornya lalu pergi.

Sejumlah pegawai kantor hanya berdiri melihat aksi yang dijalankan Gurasta. Dari percakapan di antara pegawai, guru yang tinggal di Kecamatan Tampahan itu mengidap stres. Bahkan katanya, yang bersangkutan pernah juga membuat kegaduhan.

Sementara, Sekretaris Diknas Tobasa Eston Sihotang saat ditemui di kantor dewan membenarkan bahwa guru tersebut mengidap stres tinggi. Menurut Eston, Gurasta dilaporkan oleh orang tua murid Siboruon karena resah. Pasalnya, muridnya pernah dikurung di dalam ruangan. Karena pengaduan tersebut, Gurasta dipindahkan ke sekolah dasar di Tampahan agar dekat dengan keluarga.

“Permasalahan Gurasta sudah pernah saya tangani ketika saya masih Kabidtendik. Sebenarnya apa yang dialami oleh Gurasta sudah lama terjadi. Biasanya kalau ada beban pikirannya yang berat dia suka bertingkah macam-macam, bahkan dia pernah hampir berantam dengan kepala sekolah,” kata Eston.

Meski telah dipindahkan dari tempat bertugas, kata Eston, tetap saja bertingkah macam macam seperti yang terjadi saat itu. Pihaknya telah berkonsultasi dengan keluarganya agar dibawa ke psikiater. Namun, anak-anak Gurasta tidak berhasil membujuknya.

“Yang bersangkutan tidak mau dan tidak boleh diwakilkan pula oleh siapa pun. Padahal kita ingin tahu bagaimana bersikap. Karena dengan hasil itu (pemeriksaan) dapat kita ambil kesimpulan dipensiun dinikan atau tidak,” tambahnya.

Kendati kadang kala bersikap tidak wajar, kata dia, dari segi pembelanjaran di sekolah, Gurasta diakui cukup pintar. Dia memiliki metode penyampaian kepada murid tergolong baik.

“Tapi itu tadi, sebenarnya dia sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Memang kisah hidupnya cukup memprihatinkan,” ujar Eston. (cr-03)

Komentar