Pahami Pasar Modal, Supaya Terhindar dari Investasi Ilegal

Drs Ronald Hasibuan MPd, Risca Bernadetta, Pintor Nasution, Margaret foto bersama dengan mahasiswa usai acara sosialisasi.
GideonAritonang/MetroSiantar
Drs Ronald Hasibuan MPd, Risca Bernadetta, Pintor Nasution, Margaret foto bersama dengan mahasiswa usai acara sosialisasi.

MetroSiantar.com-Otoritas Jasa Keuangan KR-5 Sumbagut mengadakan sosialisasi pengenalan berinvestasi di pasar modal kepada sejumlah mahasiswa/i Fakultas Ekonomi Universitas HKBP Nomensen Pematangsiantar, Rabu (5/12).

Kepala Bagian Pengawasan Pasar Modal OJK KR 5 Sumbagut, Risca Bernadetta, saat memberikan pemaparan  menerangkan, Dalam sambutannya, Risca Bernadetta menyampaikan tujuan sosialisasi guna memperkenalkan industri pasar modal sebagai alternatif investasi yang merupakan wilayah kerja OJK.

“Harapannya semoga mahasiswa mendapat wawasan baru. Mengenal dan berinvestasi di pasar modal,” ucapnya.

Risca menyebutkan, memahami investasi pasar modal, secara otomatis terhindar dari rayuan investasi ilegal atau investasi bodong.

Wanita berkacamata ini juga menyampaikan, dalam survei nasional dan inklusi yang dilakukan OJK pada tahun 2016, menunjukkan bahwa indesk literasi keuangan mencapai 29,66 persen.

Terkait literasi tentang pasar modal di Indonesia, kata Risca, hasil survei yang dilakukan OJK di tahun 2016 menunjukkan tingkat literasi pasar modal berada pada posisi 4,3 persen.

Menurutnya, pasar modal akan berkembang dengan semakin baik, apabila semakin banyak pihak yang berpartisipasi. Dan diyakini, apabila dimanfaatkan dengan baik, ekonomi daerah merupakan potensi yang sangat besar untuk mendukung perkembangan pasar modal.

Di Indonesia, pasar modal dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan trend menggembirakan.

“Nilai meningkat dari Rp5,753.6 truliun menjadi Rp 6,716 triliun per November 2017,” kata Risca.

Di samping itu, lanjutnya, pasar modal yang sehat juga akan meningkatkan penerimaan negara dari sisi pajak. Selain pajak penghasilan yang dibayar tenaga kerja di pasar modal, negara juga memperoleh penerimaan pajak yang besar dari transaksi perdagangan harian di bursa yang sudah mencapai Rp7 triliun per hari.

“Dengan pajak sebesar 0,1 persen dari penjualan, maka negara mendapatkan penerimaan pajak sebesar Rp7 miliar per hari dari transaksi di bursa,” pungkasnya.

Sementara saat sesi pertanyaan, salah seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi menanyakan terkait perusahaan yang sudah bangkrut dan di dalam perusahaan itu kita memiliki saham.

“Apakah kita ikut mengganti kerugian perusahaan yang bangkrut tersebut,” tanya mahasiswa itu.

Menjawab pertanyaan tersebut, Risca menerangkan bahwa menarik modal pada perusahaan bangkrut tidak serta merta seperti membalikkan telapak tangan. Risca menuturkan, perusahaan tersebut disebut bangkrut setelah melewati proses dalam jangka satu tahun sampai tiga tahun.

“Kalau misalnya perusahaan sepatu. Pada substitusinya orang memakai sepatu kulit, sekarang pakai sepatu kaca. Mungkin perusahaan kulit akan menurun, tidak langsung bangkrut. Sementara perusahaan kaca, kristal akan mengalami kenaikan,” terangnya.

Berdasarkan Undang-undang PT, pemegang saham hanya bertanggung jawab sesuai dengan modal yang disetor.

“Jika seorang investor sudah membeli saham, ada yang Rp30 juta dan Rp100 ribu. Maka sebanyak itu lah tanggung jawab investor kepada perusahaan (bangkrut) tersebut,” ujar Risca.

Selain Risca, narasumber di acara sosialisasi itu yakni, Wakil Dekan I FKIP Univ Nomensen Drs Ronald Hasibuan MPd, Pintor Nasution dari PT BEI KPw Medan serta Margaret dari PT MNC Sekuritas. (cr-05/ms)