Hujan Deras, Peserta Pawai Obor Berhamburan

LAGUBOTI- Pawai Obor (Taptu) di Kecamatan Laguboti, Tobasa yang seharusnya digelar Kamis (16/8) gagal dilaksanakan. Hal itu dikarenakan hujan tiba-tiba saja turun dengan derasnya hingga membuat peserta pawai berhamburan mencari tempat berteduh.

Padahal para peserta yang berasal dari seluruh sekolah mulai dari SD, SMP, SMA, SMK se Kecamatan Laguboti sudah sempat berbaris dengan obor yang siap dinyalakan di Lapangan Tangsi Laguboti. Namun tepat pukul 18.30 WIB, tiba-tiba hujan turun sehingga para peserta berlarian mencari tempat berteduh.

Awalnya pihak panitia sempat menunggu hingga hujan reda untuk melanjutkan kegiatan tersebut. Namun setelah menunggu hampir satu jam hujan tak juga reda. Sehingga pihak panitia memutuskan untuk membatalkan pelaksanaan Pawai obor untuk Tahun 2012.

Sekcam Laguboti W Sibarani kepada METRO mengatakan, setiap tahunnya pada tanggal 16 Agustus mulai sore hari, pihaknya melaksanakan acara pawai obor yang diikuti seluruh siswa/siswi SD, SMP, SMA, SMK se-Kecamatan Laguboti.
Hal ini dilakukan untuk menyambut HUT RI yang dilaksanakan pada esok harinya yakni 17 Agustus. Namun untuk tahun 2012 terpaksa dibatalkan karena faktor hujan. “Kita terpaksa membatalkan acara ini karena hujan lebat, para siswa kita bubarkan karena tak mungkin lagi dilaksanakan. Hujannya sangat lebat, kita takut nanti anak-anak jadi sakit,” kata Sekcam.

Pedagang Obor Raup Rezeki
Sementara di Kota Tarutung, peringatan Malam Taptu (Pawai Obor) dimanfaatkan para pedagang obor untuk meraup untung besar. Pantauan METRO Kamis (16/8), di sepanjang Jalan Di Panjaitan sudah berjejer puluhan penjual obor yang terbuat dari bambu. Lapak-lapak para pedagang musiman tersebut terlihat ramai dikunjungi pembeli.

Lukkas (25) salah seorang pedagang obor, mengaku memanfaatkan momen ini untuk menambah penghasilannya dari hari-hari biasa. “Biasanya saya bertani, untuk menambah penghasilan saya menjual obor untuk dipakai pada Malam Taptu,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, setiap momen HUT RI dirinya selalu menyempatkan diri untuk berdagang obor. Diterangkannya, untuk satu obor dibandrol Rp3 ribu. “Untuk satu obor saya jual Rp 3 ribu, tapi kalau mau ambil 5 obor saya kasih Rp10 ribu. Tidak mahal tapi yang penting laku,” tuturnya.

Menurutnya menjual obor susah-susah gampang, mengingat yang membeli kebanyakan pelajar dan ibu-ibu yang pandai sekali menawar. “Keuntungan tidak begitu banyak, jadi kalau ada yang menawar sampai seribu per obor ya kita tidak kasih,” jelasnya.

Sementara pada kegiatan Malam Taptu, ratusan warga tampak antusias mengikutinya. Mayoritas dari mereka adalah kalangan remaja putra-putri, pelajar, dan bahkan orang dewasa. Semarak pawai obor itu diawali dengan upacara Taptu di SM Raja yang ditandai dengan penyulutan obor peserta. Iring-iringan pawai obor mendapat sambutan meriah dari warga yang menyaksikan di pinggir-pinggir jalan yang dilewati.

Salah seorang peserta kepada METRO, mengaku senang mengikuti pawai obor tersebut. “Saya senang dengan adanya pawai obor ini, suasananya jadi ramai. Meskipun di kampung, tetapi semangat untuk memperingati hari kemerdekaan sangat terasa,” kata Richat Hutabarat (16), salah seorang pelajar.

Para peserta pawai obor ini nampak riang. Masing-masing membawa obor bambu sambil terus menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Iring-iringan pawai obor otomatis memacetkan ruas jalan yang dilalui. Apalagi, warga yang dilintasi oleh pawai obor itu keluar rumah dan berjubel-jubel di pinggir jalan.(cr-01/nasa)