Sidang Terduga Maling Tewas Dimassa Ditunda, Oknum Polisi Itu Seharusnya Jadi Tersangka

Ilustrasi
Ilustrasi

MetroSiantar.com, SIMALUNGUN – Sidang lanjutan kasus terduga maling yang tewas dihajar massa di Huta II Nagori Karang Sari, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun, terpaksa ditunda. Hal itu menyusul ketidakhadiran saksi-saksi lainnya.

Dalam persidangan yang berlangsung, Rabu (17/5), di Pengadilan Negeri Simalungun, majelis hakim yang terdiri dari Julius Panjaitan SH sebagai hakim ketua, serta Hendrawan Nainggolan SH dan Nasfi Firdaus SH sebagai hakim anggota, menunda sidang hingga pekan depan, setelah Jan Maswan Sinurat SH sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan bahwa saksi-saksi tidak hadir.

“Hari ini (Rabu) sidangnya masih pemeriksaan saksi-saksi, tapi saksi-saksinya nggak hadir makanya ditunda,” ujar Jan Maswan saat ditemui usai persidangan.

Terkait kelanjutan kasus yang terdakwanya hanya tiga orang yakni Retno Handi alias Andul, Mujimin, dan Dedi Suriawan alias Paulus, kuasa hukum ketiga terdakwa Antonius Purba membeberkan, bahwa dari informasi yang diterimanya seharusnya ada 34 terdakwa dalam kasus itu.

“Sesuai informasi, ada 34 orang yang melakukan penganiayaan itu,” bebernya.

Fakta lainnya, lanjut Antonius, Bripda S yang merupakan salah seorang personel Satuan Lalu Lintas Polres Siantar, seharusnya menjadi tersangka.

“Harusnya dia (oknum polisi) jadi tersangka. Dia itu kan memborgol korban dan pemborgolan yang dilakukan itu tidak sesuai SOP. Kenapa diborgol? Kan korban tidak melakukan perlawanan,” jelasnya.

Antonius menambahkan, bahwa alasan lainnya mengapa harus ada tersangka lain dalam kasus ini, karena ketiga terdakwa mengaku memukul korban dengan tangan kosong. “Tiga terdakwa mengaku memukul dengan tangan kosong. Apa mungkin dipukul dengan tangan kosong bisa meninggal?,” ungkapnya.

Dalam persidangan sebelumnya, keterlibatan Bripda S juga dibeberkan oleh dua saksi yang tak lain merupakan personel Polsek Bangun yakni Syahruddin Siregar, dan Hamdan Siregar. Keduanya menceritakan kronologis kejadian itu. Mereka bercerita bahwa pada 16 Mei 2016, pihaknya mendapatkan informasi dari pangulu nagori setempat tentang adanya seorang terduga maling yang dihajar massa.