Persilum Tuntut Polisi Supaya Bebaskan Guru Tersangka Kejahatan Seksual

Pelajar SMK Bintang Timur melakukan aksi damai ke Polres Siantar, Senin (13/11) menuntut pembebasan gurunya.
GideonAritonang/MetroSiantar
Pelajar SMK Bintang Timur melakukan aksi damai ke Polres Siantar, Senin (13/11) menuntut pembebasan gurunya.

MetroSiantar.com--Perhimpunan Siswa/i-Alumni SMK BT Pematangsiantar (Persilum) menggelar aksi unjuk rasa di Mapolres Siantar, Senin (13/11).

Sebelum masuk ke lapangan Mapolres Siantar, ratusan pelajar dan alumni SMK Bintang Timur menggelar pawai keliling Jalan Sutomo-Merdeka. Sambil membawa beberapa poster, mereka meminta agar tersangka TM dibebaskan dan kasus dugaan kejahatan seksual yang menimpa guru Tehknik Informatika itu dihentikan.

Zetha Sianipar, yang bertindak sebagai orator dan koordinator lapangan menyampaikan langsung tiga hal yang menjadi pernyataan aksi mereka di depan Wakapolres Pematangsiantar, Kompol J M Sagala dan jajarannya.

Dalam pernyataannya, mereka meragukan laboratorium komputer yang menjadi Tempat Kejadian Perkara (TKP) digunakan oleh TM untuk melakukan pencabulan terhadap korban.

“Laboratorium komputer tempat kejadian tidak memungkinkan untuk melakukan pencabulan, karena di dalam laboratorium ada 42  siswa dan tidak ada pembatas tempat di antara yang satu dengan yang lain,”ucap Zetha dengan lantang.

Dan poin kedua, di dalam pernyataan aksi mereka, pihak yang mengaku korban tidak ada rasa trauma pasca kejadian yang dialaminya. Korban bahkan tidak pernah ketakutan bahkan menangis.

Selain itu, korban yang masih tetap melanjutkan pendidikannya di SMK Bintang Timur itu, terlihat gembira tanpa adanya rasa trauma sesuai pengakuan dari orang tua korban.

Mereka menduga adanya permainan dalam kasus yang menimpa TM.

Selain menyatakan pernyataan aksi, ratusan pelajar yang diwakili Zetha Sianipar juga menyampaikan 5 poin tuntutan yang dilayangkan kepada pihak kepolisian dan media.

Diantaranya, mendesak pihak kepolisian agar melakukan proses penyelidikan dengan transparan dan objektif, meminta kepada pihak media  agar tidak memberitakan kasus secara berlebihan.  Sebelum TM terbukti bersalah, TM harus dibebaskan. Kembalikan nama baik SMK Bintang Timur dan nama baik bapak TM.

Wakapolres Siantar, Kompol JM Sagala yang berdialog langsung dengan ratusan pelajar merespon baik aksi unjuk rasa.

Menyikapi pernyataan mereka, Kompol JM Sagala menyampaikan, saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan berkas berkas perkara tersangka. Terkait status tersangka yang saat ini disandang TM, kata Sagala, tidak serta merta menandakan bahwa TM terbukti melakukam pencabulan terhadap korban.

Namun jawaban Kompol JM Sagala tidak dapat diterima para pelajar. Akibatnya, sempat terjadi perdebatan antara pelajar dengan pihak kepolisian.

Tidak ingin berkepanjangan, Kompol JM Sagala memberikan kesempatan kepada penyidik unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim.

Peyidik senior Sat Reskrim Aiptu Darwin Siregar kembali menjelaskan perjalanan kasus hukum tersangka TM yang saat ini masih mereka tangani. Darwin Siregar menjelaskan, pengertian tindak pidana pencabulan menurut Undang-undang RI.

“Biar juga adik adik pahami. Di dalam Undang undang itu dikatakan pencabulan bukan berarti berhubungan badan atau berhubungan suami istri,”terang Darwin, sembari membaca KUHPidana yang dipegangnya.

Ia pun berharap agar pelajar yang melakukan unjuk rasa memberikan kepercayaan kepada Kepolisian untuk bekerja secara profesional. Pihak Kepolisian dalam hal ini, terang Darwin, tidak akan melakukan intervensi.

“Kami memaklumi perasaan kalian. Tapi berikanlah kepercayaan kepada kami untuk bekerja secara profesional,”pungkasnya.

Dikarenakan Polisi masih memiliki tugas yang lainnya, Kompol JM Sagala pun meminta maaf dan meminta kepada para pelajar yang melakukan unjuk rasa untuk membubarkan diri dan kembali ke rumah mereka masing masing. (cr-05/esa/ms)