Sengketa Lahan Berujung Pembongkaran Kuburan! 8 Tengkorak dan Satu Jenazah Ikut Dieksekusi

Personel polisi melakukan pengamanan saat porses eksekusi lahan pembongkaran kuburan dan tambak di Nagori Tiga Bolon Sidamanik. Rabu (15/11)
Personel polisi melakukan pengamanan saat porses eksekusi lahan pembongkaran kuburan dan tambak di Nagori Tiga Bolon Sidamanik. Rabu (15/11)

MetroSiantar.com-Suasana di lokasi tambak (tugu,red) dan kuburan keluarga besar almarhum Salem Karmidin Simanjuntak alias Oppung Wismar Simanjuntak, di Dusun Sipinggan Nagori Tiga Bolon Kecamatan Sidamanik, tiba-tiba ramai. Suara teriakan, tangisan histeris menggema.

Puluhan keturunan Oppung Wismar silih berganti mengumpat sambil mencoba menghalanghalangi upaya eksekusi atas lahan yang akan dilakukan PN Simalungun, Rabu (15/11) sekira pukul 10.30 WIB.

Tetapi, upaya yang mereka lakukan tidak bergeming bagi petugas yang melaksanakan eksekusi. Begitu putusan eksekusi dibacakan oleh Paniteria PN Simalungun P Hasibuan SH MH, pembongkaran atas sejumlah bangunan berupa tambak dan kuburan yang berada di objek sengketa langsung dilakukan dengan pengawalan ketat dari ratusan personel Polres Simalungun.

Saat proses pembongkaran dimulai, tangisan histeris keluarga Junson Simanjuntak mengiringi proses eksekusi.

Eksekusi dilakukan karena gugatan Viktor Siahaan atas lahan  seluas 2.100  M2  sudah dimenangkan oleh pengadilan. Viktor Siahaan menggugat Junson Simanjuntak, keturunan dari penghuni tugu.

Putusan sita eksekusi dituangkan dalam Surat Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Simalungun Nomor : 09/Pen.Pdt/EKS/2017/ Nomor :29/Pdt.G/2011/PN-Simal tanggal 12 April 2017, yang sifatnya berkekuatan hukum tetap.

Putusan ini tindaklanjut putusan Pengadilan Negeri Simalungun Nomor : 29/Pdt.G/2011/PN-Simal, tanggal 13 Juni 2012, Putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor : 129/Pdt/2013/PT-MDN, tanggal 30 Agustus 2013 serta Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 1556 K/Pdt/2014, tanggal 30 Oktober 2014.

Tugu yang berada di tanah yang dieksekusi dibongkar dengan tujuan dipindah ke tugu yang telah dibangun di luar lahan eksekusi.

Meskipun tergugat masih masih melakukan proses perlawanan (Derden Verjet), yang telah didaftarkan ke Pengadilan Negeri Simalungun tanggal 27 Juli 2017 dan telah terdaftar di Reg Perkara Perdata nomor : 57/Pdt.Bth/2017/PN-Simalungun, pelaksanaan sita tetap dijalankan.

Tim dari Instalasi Jenazah dan Forensik RSUD dr Djasamen Saragih Pematangsiantar dipimpin dr Reinhard Hutahean melakukan pengangkatan delapan tengkorak yang berada di dalam tugu dan satu jenazah yang dikebumikan di atas lahan objek eksekusi.

Adapun delapan tengkorak yang direlokasi dari tugu yakni Almarhum Salem Karmidin Simanjuntak (Op Wismar Simanjuntak) meninggal tahun 1944 dikebumikan di Pangkalan Buntu dan tahun 1980 dipindahkan ke tugu.

Kemudian, tengkorak Loisa Br Siahaan (Istri Op Wismar ) meninggal tahun 1980, Ruben Simanjuntak ( anak Op Wismar ) meninggal tahun 2000, Orlimin Br Saragih ( istri Ruben Simanjuntak ) meninggal tahun 1982.

Selanjutnya, tengkorak Aleksander Simanjuntak (anak Op Wismar ) meninggal tahun 2010, Dameria Br Pasaribu ( istri Aleksander Simanjuntak ) meninggal tahun 2010, Batak Simanjuntak (anak Op Wismar ) meninggal tahun 1986. Boru Rajaguguk ( istri Batak Simanjuntak ) meninggal pada tahun 2014.

Sedangkan satu kuburan yang direlokasi adalah almarhum Firman Parlindungan Simanjuntak ( anak dari Alm Ruben Simanjuntak )  yang meninggal tanggal 4 April 2017 lalu.

Pada saat proses pemindahan tulang belulang dan jenazah, terlebih dahulu dimasukkan ke dalam boks plastik dan tiga peti jenazah. Tetapi tidak langsung dimasukkan ke tugu baru.

Alasannya, pihak keluarga termohon diwakili Rosmaida br Siahaan meminta paniteria meletakkan boks dan peti tersebut ke dalam rumah Almarhum Aleksander Siahaan, pihak termohon Eksekusi. Karena keluarga berencana melakukan acara adat sebelum memasukkan ke dalam tugu yang baru.

Sementara jenazah Almarhum Firman P Simanjuntak dan atas permintaan Sari Br Simanjuntak yang merupakan putri tertua dari Alm Firman P Simanjuntak, agar jenazah ayahnya direlokasi dan dikebumikan di pekuburan keluarga tidak jauh dari lokasi.

Sementara, Maslen Simangunsong SH, pengacara termohon Jumson Simanjuntak mengaku, perkara pertama sudah dimenangkan pemohon Viktor Siahaan, tetapi saat ini pihaknya melakukan perlawanan.

“Dalam perkara terdahulu No.29/Pdt/2011, dan perkara sekarang sedang berjalan No.57/Pdt.bth/2017/Pn.Sim dan sidang berikutnya tingkat Replik dari kita pelawan akan digelar tanggal 27 November 2017 mendatang. Hal inilah kita minta eksekusi ditunda, tetapi dipaksakan oleh pengadilan dan dibantu pihak kepolisian,” tandasnya.

“Kita sangat menyayangkan surat keputusan eksekusi yang menyatakan eksekusi dilakukan dan disaksikan tokoh masyarakat dan Pendeta HKBP Bahal Gajah Tigabolon, namun kenyataannya eksekusi dilakukan tanpa kehadiran tokoh masyarakat dan Pendeta HKBP,” kata Maslen.

Dijelaskan Maslen, seharusnya objek tidak boleh dieksekusi.

“Bagaimana nanti kalau kita menang? Apalagi perkara masih jalan, masa langsung dieksekusi, kecuali perkara tidak jalan lagi, baru kita menyerah,” katanya. (cr-05/adi/esa/ms)