Operasi Zebra Polres Siantar-Simalungun! 5.552 Surat Tilang dan Temuan SIM Palsu

Kasatlantas Polres Pematangsiantar AKP Eridal Fitra memaparkan hasil Operasi Zebra 2017 kepada para wartawan.
GideonAritonang/MetroSiantar
Kasatlantas Polres Pematangsiantar AKP Eridal Fitra memaparkan hasil Operasi Zebra 2017 kepada para wartawan.

MetroSiantar.com-Operasi Zebra 2017 yang digelar serentak di seluruh Indonesia sejak tanggal 1-14 November berakhir. Dari hasil operasi yang digelar Polres Pematangsiantar dan Polres Simalungun, tercatat sebanyak 5.552 surat tilang dikeluarkan.

Untuk Kota Pematangsiantar, surat tilang yang dikeluarkan selama operasi berlangsung sebanyak 1.331 surat. Tingkat tertinggi pelanggaran lalulintas dilakukan oleh pengendara roda dua, yaitu sebanyak 1.030 pelanggar. Kemudian disusul angkutan kota sebanyak 288 pelanggar dan mobil barang 7 pelanggar.

Sementara barang bukti yang disita petugas paling banyak adalah Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) sebanyak 609, SIM sebanyak 607, selanjutnya 115 kendaraan bermotor turut diamankan.

Untuk kategori pelangggar yang terjaring operasi didominasi kalangan pemuda, yakni antara umur 21-25 tahun sebanyak 422 pengendara. Di urutan kedua kategori remaja berusia antara 16-20 tahun.

Sementara kategori pelanggar dewasa berkisar antara umur 26-30 tahun sebanyak 224 pengendara dan selanjutnya umur 31-35 tahun sebanyak 173.

Menyikapi banyaknya pengendara yang didominasi kalangan remaja, Kasat Lantas Polres Pematangsiantar AKP Eridal Fitra mengimbau agar seluruh pengendara, terutama yang masih remaja, untuk mematuhi peraturan lalulintas.

Dari data yang didapat, kata Eridal, kecelakaan lalulintas yang mereka tangani kebanyakan disebabkan pengemudi berusia remaja. Sebab lanjut dia, para remaja saat ini masih dalam masa perkembangan. Dan dominan dari antara mereka masih ada yang belum dapat mengontrol emosi.

“Memang kecelakaan dan pelanggar lalulintas didominasi remaja. Maka dari itu, kita betul betul mengimbau kepada mereka agar dapat mengontrol emosi saat berkendara. Mental mereka di jalan masih kuat, beda jauh sama orangtua,” ucap Eridal di ruang kerjanya, Rabu (15/11).

Mengurangi angka kecelakaan di kalangan remaja, Eridal mengatakan, mereka akan sesering mungkin melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Sosialisasi itu nantinya akan dilaksanakan di hari Senin, tepat saat upacara pengibaran bendera.

“Kita lakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Dari perwakilan sekolah yang masuk PKS-kan kita berikan juga arahan, biar nantinya mereka yang menyampaikan ke teman temannya. Setiap upacara hari Senin kita sosialisasi ke sekolah,” ujarnya.

Memperketat saat pengurusan SIM bagi pelajar, kata Eridal, tidak dapat mereka lakukan. Sebab, pembuatan SIM sudah tertera di Undang-undang.

“Kita gak bisa (Memperketat). Karena itu sudah ada Undang-undangnya. Siapa saja yang berumur 17 tahun ke atas dapat mengurus SIM. Walaupun mereka masih sekolah, kita gak bisa melarang atau memperketat. Karna mengurus SIM bukan langsung keluar SIM-nya. Nanti dilihat sewaktu ujian praktik SIM. Kalau lolos, ya kita keluarkan (SIM),” sambungnya.