Impor 13 Jenis Tanaman Hortikultura Dilarang Pendapatan Petani Meningkat

SARIBUDOLOK – Keluarnya larangan pemerintah terhadap impor 13 jenis tanaman hortikultura, merupakan kabar gembira bagi petani hortikultura khususnya di Simalungun Atas. Mereka yakin pendapatannya akan meningkat dengan kebijakan ini.

Seorang petani hortikutura, Amden Saragih di Seribudolok kepada Metro, Selasa (12/3) mengatakan, kalau memang benar ada larangan impor  itu, merupakan kesempatan yang baik bagi petani untuk mengembangkan usaha pertanian sayur mayur, misalnya kol (kubis), kentang, cabai.

Menurut Amden, selama ini petani sering kali disakiti akibat masuknya tanaman hortikutura dari negara lain. Misalnya, harga kentang tiba-tiba jatuh dari harga Rp6.000 per kg menjadi Rp2.000 per kg. “Alasan harga jatuh yang kami peroleh, karena petani kentang di India panen raya, dan ribuan ton siap masuk ke Indonesia,” katanya.

Akibat banyaknya masuk tanaman hortikutura ini, petani merasa dirugikan, bahkan merasa tak mendapat perlindungan dari pemerintah Indonesia sendiri. “Kenapa pemerintah selalu menekan petaninya sendiri demi menyelamatkan petani negara lain,” tanyanya.

Petani lainnya, Sariaman Purba di Kecamatan Purba begitu mendapat imformasi tentang larangan impor 13 jenis tanaman hortikutura ini langsung bersemangat. “Kalau memang impor kubis sudah di larang, minggu depan saya akan menanam kentang sebanyak 35.000 batang.

Selama ini saya takut nanamnya karena resiko kerugiannya terlalu tinggi. Terlalu sering kubis dari Hongkong dan Thailand masuk ke pasar Indonesia dan membuat harga kol di daerah ini jatuh,” katanya.

Petani cabai di Kecamatan Purba Agusman ketika mendengar imformasi ini langsung mengucap syukur.  “Kebetulan saya sudah menanam cabai sebanyak 10.000 batang. Dengan informasi ini, semangat untuk mengurus tanaman cabai harus ditingkatkan, karena saingan pasar sudah berkurang,” katanya.

Dijelaskannya, selama ini harga cabai jatuh karena ‘cabai kirim atau cabai kotak’ dari luar negeri bebas masuk. Bahkan, demi menekan harga cabai dalam negeri, cabai dari luar negeri dikirim melalui pesawat terbang.

“Kalau hanya cabai lokal saja yang beredar di pasaran, saya yakin harga cabai akan sanggup bertahan di posisi terendah Rp15.000 per kg di tingkat petani,” katanya. Ketua Kelompok Tani Beringin Jaya II, Sendi Warto Purba, menanggapi larangan Impor ini mengatakan, larangan impor terhadap 13 jenis hortikultura akan berdampak positif bagi masyarakat petani di Simalungun.

Sesuai dengan hukum ekonomi, apabila konsumen bertambah sementara kebutuhan berkurang maka dengan sendirinya harga akan naik. “Dengan tidak masuknya sayuran luar negeri (kubis, kentang, cabai) ke Indonesia, maka persaingan di pasar akan kurang.

Selama ini tidak bisa dipungkiri, penyebab turunnya pendapatan petani hortikultura, karena banyaknya barang impor yang masuk,” katanya. Dengan adanya larangan ini, Sendi juga berharap kepada Pemkab Simalungun, agar mendukung petani dalam meningkatkan pendapatnnya, seperti peningkatan sarana pertanian, jalan pertanian, pupuk dan bantuan lainnya.

“Simalungun Atas merupakan sentra pertanian hortikultura di Simalungun, tapi sayang insfrastruktur jalan pertaniannya sangat memprihatikan,” katanya. (sp/mer)