Juli Gea Tewas Dikeroyok Anak Punk

Andika Bayu, salahseorang pelaku. [Foto: Fandho]

SIANTAR – Jalan Sutomo, Kelurahan Proklamasi, Siantar Barat, persisnya di depan Toko Kain Serba Indah, Senin (9/9) tiba-tiba heboh dengan aksi pengeroyokan oleh anak jalanan (punk) yang menewaskan Juli Gea (22).

Korban dikeroyok dan didapati luka tusuk dibagian dada. Sementara para pelaku pengeroyokan langsung kabur. Hanya satu orang di antaranya yang berhasil diamankan warga dan sempat dihakimi massa. Kejadian itupun sempat memacetkan Jalan Sutomo sepanjang satu kilometer.

Informasi dihimpun METRO, peristiwa itu bermula dari aksi kejar-kejaran oleh sejumlah pria yang mengenakan pakaian ala punk dari Terminal Pasar Horas sekitar pukul 17.30 WIB. Seorang pria yang belakangan diketahui bernama Juli Gea, bahkan sempat minta tolong saat dikejar para pelaku. Namun usaha korban menyelamatkan diri terhenti ketika para pelaku berhasil menangkapnya.

Dengan aksi cepat, salah seorang pelaku yang menurut saksi terdiri dari 7 orang, langsung menghujamkan sebilah benda tajam ke dadanya hingga membuatnya tersungkur tepat di teras Toko Kain Serba Indah atau satu meter dari trotoar. Saat itu juga, warga yang menyaksikan kejadian, langsung berusaha mengejar para pelaku hingga ke Jalan Surabaya.

Pengejaran warga berhasil menangkap seorang yang diduga kuat terlibat dalam perkelahian itu. Warga juga sempat menghakimi pelaku yang belakangan diketahui bernama Andika Bayu (35) di sekitaran Pajak Hongkong. Beruntung petugas Polantas yang mengetahui aksi pengejaran pelaku itu, sempat membuntuti dan berhasil mengamankannya dari amukan massa.

Sementara itu, korban yang sudah bersimbah darah, sempat dibiarkan sekarat di lokasi penikaman. Sekitar 15 menit kemudian, warga membawa korban ke RS Vita Insani. Akan tetapi, nyawa korban tidak tertolong. Saat masuk ke ruang IGD, korban divonis sudah tak bernyawa.

Meski demikian, teman-teman korban yang mengaku dari sekumpulan Suku Nias yang bermukim di Siantar, datang untuk menebus jasad korban. “Ya, kami dari kawan-kawan dia (korban), Bang,” cetus salah seorang teman korban bermarga Hia.

Kejadian itu, seperti pengakuan teman korban, Hadik Hia (22) bermula dari pertengkaran saat bermain Biliar di Pasar Horas Gedung II Lantai III. Saat itu, korban bersama seorang temannya Jepri Zebua, asyik bermain biliar dan tiba-tiba segerombolan orang datang seraya berteriak serang. Saat itulah, puluhan orang dengan membabi buta langsung menghajar Juli Gea dan Jefri.

Jefri bahkan terkena sayatan benda tajam di perutnya dan sempat berusaha kabur dari kejaran gerombolan pria yang mengenakan pakaian ala punk tersebut. Gea kabur ke Jalan Cipto dan sempat duduk kesakitan di halaman Losmen Vhinesia didampingi tiga orang temannya.

Sedangkan Gea kabur ke arah Jalan Sutomo. Namun dia tetap dikejar gerombolan pria tersebut dan akhirnya berhasil ditangkap hingga dianiaya dengan cara dikeroyok.

Salah seorang di antaranya bahkan mengeluarkan benda tajam dan langsung menikamkan ke dada kiri korban. “Itu yang aku tau ceritanya, Bang. Karena si Gea ini kerja di warung Makan Ahong di Jalan Wahidin,” kata Hia.

Diduga Terlibat 4 Orang Diamankan
Informasi yang dihimpun dari kepolisian, berkat seorang saksi yang identitasnya dirahasiakan, petugas berhasil mengamankan tiga pelaku lainnya setelah Andika Bayu ditangkap dan dimassakan warga.

Akan tetapi, Andika yang tengah kondisi mabuk dan sempoyongan, menolak dikatakan turut memukuli korban. “Mana ada aku berkelahi, Pak. Siapa lawanku,” kata Andika menantang polisi. Sedangkan ketiga tersangka lainnya, diamankan dari Jalan Merdeka, tak jauh dari Gedung Juang.

Tak jauh berbeda, para pria dengan pakaian kumal itu masih membantah keterlibatannya dengan aksi pengeroyokan yang terjadi di Jalan Sutomo depan Toko Kain Serba Indah itu.

Namun petugas masih membawa ketiga pria tersebut untuk menangkap pelaku lainnya yang diduga masih bersembunyi di sekitar Jalan Merdeka.

Dari catatan polisi, Andika Bayu sudah empat kali keluar masuk penjara, di antaranya kasus jambret dua kali, copet dan narkoba. Bahkan beberapa kali gelar razia aksi copet, Andika juga turut diamankan karena selalu berkeliaran di Pasar Horas.

“Kita masih mengembangkan kasus ini. Motif dan bagaimana pekelahian itu terjadi masih dikembangkan. Mudah-mudahan malam ini kita bisa menangkap para pelaku,” kata Kasat Reksrim Polres SIantar AKP Daniel Marinduri.

Ditikam di Pasar Horas
Jefri Zebua, rekan korban Juli Gea sebelumnya ditikam para pelaku di bagian perutnya di Gedung II Lantai III Pasar Horas. Jefri Zebua pun harus mendapatkan perawatan intensif di RS Djasamen Saragih setelah perutnya mendapatkan jahitan.

Menurut pengakuan Jefri, saat kejadian, dia bersama Juli sedang bermain biliar di Pasar Horas. Tak lama setelah bermain, sekelompok pemuda mendatangi keduanya dan langsug menyerang. Saat aksi pengeroyokan terjadi, Juli berusaha kabur dan meninggalkan Jefri seorang diri.

“Aku tidak tau lagi bagaimana Juli selanjutnya. Yang memukuli aku ada sekitar sepuluh orang dan bukan pakai tangan saja, aku juga dipukuli pakai stik biliar dan kemudian salah seorang dari mereka membawa pisau dan menusuk perutku dua kali,” katanya.

Dia mengatakan, tidak pernah mengenal para pelaku sebelumnya. Katanya, sebelum kejadian tersebut salah seorang pelaku mengatakan ‘Itu orangnya, hajar’. Kemudian sekelompok pemuda tersebut langsung menghajarnya.

“Habis ditikam, aku ditinggalkan gitu saja. Terus aku ditolong masyarakat dan ketemu polisi. Selanjutnya aku dibawa ke rumah sakit,” katanya singkat sebelum dibawa petugas ke Polresta Siantar untuk menjalani pemeriksaan.

Korban Dikenal Pendiam
Setelah METRO mencoba mendatangi kos-kosan Juli Gea di Jalan Diponegoro Gang Kopral, Siantar Barat, Raksa Panjaitan (50) bapak kos Juli Gea, mengaku mengenal korban sosok pemuda pendiam. Dia juga mengatakan, selama tinggal di rumahnya tidak pernah mendengar kalau Juli punya musuh.

“Anaknya agak pendiam, memang kalau pulang kerja dia langsung pulang ke rumah. Dia anak yang baik dan sudah setengah tahun kos di sini. Aku tidak menyangka kalau dia meninggal ditikam oleh sekelompok pemuda. Kok tega kalilah mereka itu ya,” katanya.

Dia juga tidak mengetaui di mana alamat pasti Juli. Selama ini dia tidak pernah meminta identitas anak kosnya. “Aku tidak tau alamat aslinya. Yang tau itu kawan-kawan sekampungnyalah atau kawan satu kosnya,” terangnya. (lud/(dho)

Komentar