Kasus Pembunuhan di Rantau Banyak Tak Terungkap

Kabag Humas: Keterangan Saksi Belum Mengarah ke Tersangka

(FOTO:RIZKI)
Plt Sekdakab Ali Usman memantau kehadiran para PNS di hari pertama kerja, Kamis (23/8).

RANTAU-Polres Labuhanbatu dinilai lamban dalam menangani kasus pembunuhan yang terjadi di wilayah hukumnya. Pasalnya, dari sejumlah kasus pembunuhan yang terjadi dari Januari hingga Juni 2012, hingga sekarang banyak yang tidak terungkap siapa pelakunya. Seperti kasus pembunuhan Martua Aritonang pewaris tunggal RS Kasih Ibu Rantauprapat dan dan Reni Mayasari pekerja salon di Jalan By Pass.

Hingga kini, Polres Labuhanbatu belum berhasil menangkap pelakunya. Bahkan, penyelidikan kasus tersebut terkesan diam di tempat. Kasus pembunuhan pewaris tunggal RS Kasih Ibu Rantauprapat bahkan sudah dua bulan berlalu. Namun penanganan kasus pembunuhan itu belum jelas juga penanganannya. Bahkan polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus ini.  Kondisi ini menimbulkan penilaian miring dari warga Labuhanbatu terhadap jajaran kepolisian. Warga mengaku kecewa dengan kinerja polisi yang dianggap lamban dan hanya menunggu bola saja.

“Di bulan Juni ini saja sudah ada dua kasus pembunuhan terjadi di Rantauprapat. Tapi tak satupun pelakunya yang berhasil ditangkap. Makanya kita sangat kecewa dengan kinerja Polres Labuhanbatu,” ujar Ahmad Muhazir (31) warga Jalan Dewi Sartika Rantauprapat, Kamis (23/8). Hal serupa disampaikan Kodrat Alamsyah (42), warga Jalan Sirandorung Rantauprapat.  Kodrat menilai, jajaran Polres Labuhanbatu terkesan tidak serius dalam menangani kasus pembunuhan yang terjadi hingga para pelaku pembunuhan itu tidak terungkap.

“Sepertinya kepolisian tidak terlalu serius menangani kasus pembunuhan yang baru-baru ini terjadi. Malah seolah-olah lepas tangan. Buktinya kasus pembunuhan Martua Aritonang yang hingga kini belum ada perkembangan siapa pelakunya. Padahal disejumlah media diungkapkan kalau korban mati secara tidak wajar,” ungkapnya. Terpisah, Kapolres Labuhanbatu AKBP Hirbak Wahyu Setiawan melalui Kabag Humas Polres Labuhanbatu, membantah jika pihaknya disebut lambat dalam menangani beberapa kasus pembunuhan yang terjadi.

Dijelaskannya, terkait kasus Martua Aritonang, pihak kepolisian masih mendalami kasus dan sudah memeriksa beberapa saksi. Hanya saja dari beberapa saksi yang diperiksa belum ada satu pun saksi yang mengarah ke tersangka. Sehingga polisi belum bisa menentukan siapa tersangkanya. Aritonang meminta wartawan untuk bersabar dalam menangani kasus tersebut.  “Nggak mungkin kita menetapkan tersangka, jika keterangan saksi saja belum ada yang mengarah ke sana,” katanya.

Sekedar mengingatkan, pewaris tunggal Rumah Sakit (RS) Kasih Ibu Rantauprapat Martua Aritonang (37), ditemukan tewas di depan pintu salah satu kamar di lantai tiga bangunan komplek rumah sakit, Senin (4/6) sekitar pukul 01.00 WIB. Kuat dugaan, korban dibunuh ayah tirinya Sahat Tampubolon (50) karena rebutan harta warisan. Sejumlah pegawai RS Kasih Ibu yang memohon namanya jangan dikorankan, kemarin siang menyebutkan, sebelum Martua ditemukan tewas, Sahat dan istrinya yang juga ibu kandung Martua, Eslina Warna Br Sembiiring (52) bertengkar. Keduanya bertengkar di lantai tiga RS Kasih Ibu. Katanya, mereka ribut terkait harta.

Pertangkaran didengar puluhan pegawai RS Kasih Ibu. Namun para pegawai tak berani mencampuri. Apalagi yang bertengkar itu pemilik RS dan suaminya.
Masih kata para pegawai, di tengah pertengkaran, Sahat yang emosi memecahkan kaca lemari di kamar tidur Eslina. Tak terima, Eslina segera pergi meninggalkan RS Kasih Ibu. Ia menuju Polres Labuhanbatu untuk membuat pengaduan.

“Awalnya kami mendengar Ibu Eslina dan Pak Sahat bertengkar. Dalam pertengkaran itu, ada menyebut-nyebut harta warisan. Tak lama setelah Ibu Eslina pergi ke Polres Labuhanbatu untuk membuat pengaduan, ia kembali ke rumah sakit bersama dua polisi. Lalu bersama kedua polisi, Ibu Eslina menuju lantai atas. Ia menemui Pak Sahat Tampubolon yang masih berada di kamar Bu Eslina,” kata beberapa perawat.

Namun tak lama berselang, dua polisi yang menemui Sahat, turun dari lantai atas bersama Martua dan Eslina. Lalu Martua mengantarkan ibunya, Eslina dan kedua polisi ke halaman depan RS Kasih Ibu. Eslina kembali ke Polres untuk membuat pengaduan. Setelah kedua polisi pergi, Martua kembali naik ke lantai tiga untuk menemui Sahat, yang masih berada di kamar Eslina. Selanjutnya, terdengar pertengkaran Martua dengan Sahat. “Waktu mereka (Sahat dan Martua, red) bertengkar, Ibu Eslina belum pulang dari Polres Labuhanbatu,” tukas seorang perawat.

Selanjutnya, seorang perawat bernama Ira, masuk ke salah satu ruangan rumah sakit untuk beristirahat. Sekitar pukul 01.00 WIB, Ira dan tujuh perawat lainnya dipanggil Henita boru Sinaga, istri Martua. Menurut Ira, Henita meminta bantuan Ira dan tujuh perawat lainnya untuk membawa Martua yang tergeletak di kamar Eslina. “Kami perawat nggak tahu persis kejadiannya. Yang kami tahu, korban sudah tergeletak di depan pintu kamar Ibu Eslina. Saat itu sepertinya korban sudah tidak bernyawa. Jadi, kalau mau tahu penyebab kematiannya, tanya saja langsung sama istri korban,” kata Ira.

Sementara Henita Br Sinaga yang coba ditemui wartawan terkait kematian Martua, enggan memberikan komentar. Henita hanya diam. Terpisah, Kapolres Labuhanbatu AKBP Hirbak Wahyu Setiawan melalui Kaurbin Ops Reskrim Iptu T Panggabean membenarkan kematian Martua tidak wajar. Pihaknya juga mengaku telah mengamankan Sahat sebagai saksi untuk dimintai keterangan terkait kematian anak tirinya.

“Kita masih melakukan penyelidikan dan belum menetapkan tersangka dalam kasus tersebut. Sahat Tampubolon masih kita periksa sebagai saksi untuk dimintai keterangan. Karena sebelum tewas, korban sempat bertengkar dengan ayah tirinya itu,” kata Panggabean. Panggabean menambahkan, Polres Labuhanbatu memang telah menetapkan Sahat sebagai tersangka, namun dalam kasus pengrusakan, sesuai laporan Eslina, istrinya.

“Beberapa jam sebelum korban tewas, Sahat Tampubolon juga sempat dilaporkan istrinya atas kasus pengrusakan,” tambahnya.  Pundak Dipukul Benda Keras  Informasi diperoleh di RSU dr Djasamen Saragih Pematangsiantar, Martua tewas diduga akibat dipukul benda tumpul di pundak.  Kepada wartawan di RSU dr Djasamen Saragih Pematangsiantar, Eslina menyebutkan, malam sebelum anaknya tewas, ia tidur dengan cucunya, Edo dan Catherine, anak Martua dan Henita.

Kemudian, Eslina mendengar suara berisik dari luar ruangan. Penasaran, Eslina keluar kamar. Saat itu Edo hendak ikut keluar, namun dilarang Eslina. Setelah dicek Eslina, ternyata barang-barang yang ada di dalam kamar sudah berserakan. Di situ terlihat Sahat berkelahi dengan anak keduanya, Martua. Melihat perkelahian itu, Eslina langsung pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian tersebut. Kembali dari kantor polisi, ia melihat Martua ditemukan tewas. Saat Martua ditemukan Henita, Sahat masih berada di kamar Eslina. Lalu Eslina memanggil polisi. Tak Lama, polisi datang dan mengamankan Sahat.

Keesokan harinya, Senin (4/6) sekira pukul 12.00 WIB, mayat Martua tiba di kamar mayat RSU dr Djasamen Saragih Pematangsiantar untuk diotopsi. Setelah tiga jam diotopsi, ahli forensik dr Reinhard JD Hutahaean mengatakan, korban sudah terlebih dahulu diformalin sebelum dibawa ke kamar mayat RSU dr Djasamen Saragih. Walau begitu, untuk sementara korban dinyatakan tewas akibat benturan benda keras di pundak belakang.  “Untuk keterangan lebih lanjut, akan diberitahukan dua minggu lagi kepada pihak keluarga korban,” kata dr Reinhard. (riz/ing)

Komentar