Keluarga Korban Pencabulan Batal Melapor Karena Tak Ada Biaya

[FOTO: DHEV FRETES BAKKARA]
KORBAN CABUL- Beberapa anak korban pencabulan sedang berkumpul di salah satu rumah warga, Selasa (7/5).

SIMALUNGUN- Kasus pencabulan anak di bawah umur yang dilaporkan dilakukan Kaliaman Gultom (52) terhadap 12 bocah, hingga saat ini masih satu keluarga korban yang mengadu.

Sementara sisanya, mengaku terkendala masalah biaya ke Polres Simalungun di Pematang Raya. Keluarga korban berharap agar pihak Polres Simalungun menjemput keluarga korban ke ke Huta II, Nagori Bah Gunung, Kecamatan Bandar Huluan, untuk memeriksa para korban dan saksi.

Informasi dihimpun METRO, Selasa (7/5), keluarga korban bukan tidak mau melapor ke Polres Simalungun. Saat ini, mereka terkendala biaya untuk keberangkatan dan keperluan lainnya, mengingat banyaknya korban dan jarak yang harus ditempuh lumayan jauh. Keluarga korban mengaku butuh biaya transportasi dan biaya lainnya.

Sementara itu, sebagian besar keluarga korban merupakan keluarga yang perekonomiannya tergolong lemah. Mereka hanya berharap agar pihak Polres Simalungun datang menjemput mereka.

Namun bila memang polisi tidak bisa menjemput, mungkin Sabtu (11/5) para korban dan keluarganya akan datang membuat laporan. Rencananya, mereka akan menggalang dana bantuan dari warga sekitar.

Ditinggal Orangtua, Hidup Bersama Nenek
Sementara itu, I br L (45) ibu KK br S menerangkan bahwa korban tersebut adalah anak ketiga dari 4 bersaudara. Saudaranya masing-masing D br S (18), L br S (13) dan adik lelaki mereka, PS.

Dia mengatakan, selama ini anaknya KK br S dititipkan kepada neneknya karena kelas V SD. Sedangkan D br S (18) dan PS ikut oragtuanya ke Pekanbaru. Begitu juga dengan L br S (13), sudah setahun bersama ibunya di Pekanbaru.

Mereka pergi untuk mengadu nasib dengan suami keduanya. Namun di sana, mereka tetap hidup serba pas-pasan. Mereka mengirim uang hanya sebulan sekali untuk anaknya.

Mendapat kabar bahwa KK br S demam hampir seminggu, I br L, suami keduanya dan anaknya D br S, pulang ke Nagori Bah Gunung. Setelah beberapa hari mereka di rumah, ternyata D br S melahirkan di bidan desa setempat. Karena kondisinya cukup kritis, dia terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Horas Insani Kota Siantar untuk operasi.

Hal itulah yang membuat mereka benar-benar kehabisan biaya dan kewalahan untuk ongkos ke Pematang Raya.

Sementara, nenek KK br S, kesehariannya hanya bekerja membantu tetangganya menjadi tukang cuci piring. Hal itu dilakukan demi mencukupi kebutuhannya dan cucunya. Mereka tinggal di rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan dengan atap yang lapuk, penuh lubang dan pintu rumah yang rusak.

“Kami ini sebenarnya mau melaporkan anak kami yang satu lagi, tapi dia di Pekanbaru pula. Sebenarnya aku sudah jijik sama Kaliaman (tersangka) itu,” terang I br L sembari menerangkan bahwa anaknya L br S juga pernah menjadi korban Kaliaman.

Orangtua korban lain juga hidup sederhana. Orangtua korban rata-rata bekerja sebagai buruh kasar, mulai dari kuli bangunan, pedagang hingga TKI yang kabarnya juga mengalami sakit dan sudah terjadi setahun terakhir.

Tersangka Keluarga Dukun
Menurut informasi dari warga sekitar, tersangka merupakan keturunan seorang dukun terkenal dari Sibunga-bunga, Kecamatan Jorlang Hataran. Namun beberapa puluh tahun lalu, Kaliaman datang ke Nagori Bah Gunung. Di nagori tersebut dia juga dikenal sebagi dukun yang dapat mengobati berbagai penyakit. Namun tak seorang pun warga sekitar yang percaya kepada tersangka.

Selain itu, Kaliaman sering menerima pasien dari berbagai kota, seperti Siantar, Medan dan sebagainya. Dulunya pernah ada pasien diperkosanya, namun kejadian tersebut tidak sempat menggegerkan warga dan korban tidak melaporkan perbuatan Kaliaman ke pihak berwajib.

Syarial (33), tetangga salah seorang korban mengatakan, beberapa tahun lalu dia pernah melihat anak Kaliaman, AG (13) menggali pekarangan belakang rumah Kaliaman.

Syarial yang penasaran menanyakan apa yang dilakukan AG. Dengan enteng AG mengatakan, mengambil tulang kukang (salah satu binatang primata). Tanpa curiga dia pergi meinggalkannya.

Selain itu Kaliaman juga dikenal sebagai pria yang suka membawa wanita malam ke rumahnya. Bahkan dia melakukan hal tersebut saat istri keduanya Imah (52) berada di rumah.

Parahnya lagi, anaknya DG (18) yang memiliki downsyndrome (keterbelakangan mental, red) mengerti perbuatan bapaknya. Ketika ditanya saat bapaknya sedang apa, dia mengatakan bahwa ayahnya sedang berhubungan badan dengan wanita lain dalam kamar.

Bahkan warga sudah beberapa kali memergoki Kaliaman membawa wanita pada tengah malam dan di antarnya kembali pada subuh. Namun warga tidak terlalu peduli dengan perbuatan Kaliaman.

Sementara istri kedua Kaliaman, Imah saat ditemui di rumahnya, membenarkan bahwa suaminya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari tidak punya keturunan, hingga penyakit yang menahun. Namun dia membantah suaminya menyimpan CD porno dan berbuat hal sebejad itu.

Memang selama ini suaminya sering memukulinya dan dia sempat pergi ke Medan karena tidak tahan dengan perbuatan suami yang menikahinya 28 tahun lalu itu.

Hari Ini, Polisi Turun ke TKP

Sementara itu, Kapolres Simalungun AKBP Andi S Taufik Sik mengatakan, pihaknya akan turun ke Bandar Huluan guna mencari informasi kebenaran adanya korban cabul lainnya yang dilakukan tersangka Kaliaman Gultom. Sebab hingga Selasa (7/6), korban yang melapor hanya K br S (11), sementara ada belasan lagi yang disebut menjadi korban.

“Kalau memang masih ada korban selain K br S dan belum melapor ke polisi, kita akan terjunkan anggota untuk turun ke lapangan guna mencari tahu apakah masih ada korban yang lain. Rabu (hari ini) akan turun ke lokasi,” ujarnya.

Dia mengharapkan, masyarakat tidak perlu takut dan segan-segan untuk melapor ke polisi.

“Kita baca di media ada 12 orang lagi yang mengaku korban pencabulan yang dilakukan Kaliaman Gultom. Sementara yang melapor hanya satu orang. Nah, kalau mereka tidak mau melapor maka kita yang turun langsung untuk mencari informasi itu,” katanya.

Setelah kasus cabul ditangani oleh Polsek Perdagangan, akhirnya Selasa (7/5) kemarin sudah dilimpahkan ke Polres Simalungun dalam hal penanganan dan tersangkanya juga telah dibawa ke Polres Simalungun di Pematang Raya.

Kaliaman ditangkap berdasarkan pengaduan orangtua korban K br S pada 26 April lalu atas tindakan pencabulan. Tersangka mencabuli K br S di rumah tersangka di Huta II Nagori Bah Gunung, Kecamatan Bandar Huluan.

Dari pengakuan tersangka, perbuatan itu dilakukan setelah dia menyaksikan film porno. Sebab sudah tiga bulan dia sempat ditinggal pergi istrinya. Akibatnya, dia pun nekad mencabuli anak di bawah umur.

“Dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka sudah melakukan perbuatan cabul sebanyak tiga kali kepada korban. Namun, tersangka mengakui korbannya hanya satu orang,” terang Kapolres.

Tersangka dijerat pasal 81 UU Nomor 23 tahun 2003 tentang perlindungan anak dengan ancaman penjara minimal 10 tahun. [mag-10/bli/pra]