Bulan Internalisasi Integritas Personal dan Sosial

Ramadan, bulan yang lebih baik dari dari seribu bulan, tamu agung yang dinanti-nanti itu kini telah hadir di hadapan kita. Terlepas dari perbedaan awal pelaksanaannya, mari berehat sejenak. Duduk sesaat untuk merenungkan kembali keutamaan bulan mulia ini. Lalu, mengkontekstualisasi keutamaan itu dalam kehidupan berbangsa yang bagi sebagian orang sedang meluncur ke titik nadir peradaban.

Ahmad Arif

Pelajaran-pelajaran Penting
Dua tahun silam, mantan Ketua MPR RI periode 2004-2009, Dr. Hidayat Nurwahid, dalam khutbah Salat Idul Fitri 1431 H, di Masjid Arief Rahman Hakim Universitas Indonesia Salemba, menegaskan bahwa puasa Ramadan sejatinya memediasi ummat Islam untuk dapat mengaktualisasikan kesalehan individual-personal mereka menjadi kesalehan sosial. Tanpa diiikuti kesalehan sosial, ibadah puasa dan juga ibadah ritual lainnya menjadi hampa makna dan fungsi sehingga terjebak kepada ritual formalitas belaka.

Dalam ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh, di sana ada pelajaran ikhlas atau kejujuran/integritas, sabar, rasa kasih, empati, solidaritas (ukhuwwah), kebersamaan, bagaimana mengendalikan godaan perut dan yang di bawah perut, dan demikian juga puasa mengajari kita untuk memiliki tekad yang membaja. Pelbagai pelajaran tersebut merupakan penawar dari racun-racun yang sudah menggerogoti jiwa dan perilaku bangsa ini, yang saat ini sudah banyak diwarnai (shibghah) kepura-puraan, saling sikut, ketidakpedulian, individulisme, ketamakan, kerakusan dan perasaan apatis.

Terkait Ramadan yang menegaskan pesan keikhlasan dan kejujuran (integrity), itu karena tidak ada praktek ibadah yang mengajarkan sedemikian besar makna ikhlas dan kejujuran kepada Allah dan kepada diri sendiri kecuali pada ibadah puasa. Pasalnya, ketika seseorang berpuasa, tak ada rangkaian gerakan fisik tertentu yang menggambarkan bahwa ia sedang berpuasa.

Kondisi itu berbeda misalkan dengan salat, haji, zakat, dan sedekah. Kita dengan sangat mudah dapat melihat seseorang yang sedang melakukan salat dari gerakannya, haji dari pakaiannya dan bahkan acapkali diembel-embeli dengan gelar hajinya, zakat dari wujud harta yang dibayarkannya, demikian juga sedekah. Sementara untuk orang yang tengah berpuasa, kita tak dapat memastikan apakah orang tersebut sedang berpuasa atau tidak. Hanya dia dan Allah yang mengetahuinya. Sehingga wajar saja Allah mengatakan bahwa “Puasa itu untuk-Ku”.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara sudah sedemikian mendesaknya kita membutuhkan pribadi-pribadi yang berintegritas kuat. Sekarang ini sangat sulit rasanya kita menemukan pribadi-pribadi yang jujur, amanah dan berintegritas tinggi. Betapa banyak orang-orang pintar dan cerdas di sekitar kita. Namun mencari orang jujur untuk saat ini seperti mencari sebuah jarum di tumpukan jerami.

Konsep takwa kepada Allah, tak dapat hanya diterjemahkan dengan sikap takut kepada-Nya, melainkan juga mengandung pengertian menjaga diri dari kehancuran total moral kita agar tidak dimurkai Allah dengan tetap konsisten dalam perilaku jujur dan lurus. Jika seseorang dapat teguh bersikap jujur kepada yang The Omnipresent, maka jauh akan lebih mudah baginya bersikap lurus dan jujur kepada yang profane.

Sabar juga merupakan ajaran yang sangat kentara pada ibadah puasa di Ramadhan, karena di Bulan Ramadhan ummat Islam dituntut kurang lebih tiga belas jam untuk bersabar dan menahan diri dari rasa haus dan lapar serta godaan syahwat lainnya, khususnya bersabar dari makan dan minum yang merupakan dua kebutuhan manusia yang paling mendasar dan primer, yang menentukan hidup atau tidaknya seorang anak manusia. Sehingga, diharapkan dengan latihan menahan rasa haus dan lapar serta nafsu lainnya itu akan muncul sikap-sikap positif lainnya seperti rasa kasih dan sayang, empati, solidaritas (ukhuwwah), kebersamaan dan tekad yang kuat.

Rasa kasih dan sayang, empati, kebersamaan, dan solidaritas terhadap sesama akan muncul manakala kita dapat merasakan penderitaan mereka yang mati lunglai akibat kelaparan dan kurang gizi karena sangat miskin atau didera bencana. Masih banyak dari anak bangsa Indonesia yang sehari makan dan hari berikutnya tidak dapat makan karena tak ada uang untuk membeli makanan. Tentu kita masih ingat betul saat kita dikejutkan banyaknya masyarakat kita yang mengkonsumsi nasi aking karena tak kuat lagi membeli beras. Sementara itu pada saat yang bersamaan kita juga sama-sama mengetahui bahwa negara kita merupakan negara yang paling banyak berseliweran mobil mewah di Asia. Bahkan, beberapa manusia terkaya pun bercokol di negeri ini. Sungguh ini merupakan sebuah ironi.

Di tengah masyarakat kita yang semakin individualistic-hedonist, puasa Ramadhan diharapkan dapat menghadirkan rasa kasih dan sayang, empati, kebersamaan, dan solidaritas (ukhuwwah). Ukhuwwah dapat diandaikan seutas tali. Ia mengikat hati dengan hati, mempererat komitmen sosial individu dengan komunitas dan segenap satuan sosio-kultural dan politis dimana individu tadi menjadi anggotanya. Tali itu pula yang mengikat hubungan individu atau kelompok dengan satuan sosio-kultural dan politis yang lebih besar yang bernama negara dan bangsa.

Ramadan juga mengajari kita bagaimana mengendalikan godaan perut dan yang di bawah perut, karena jikalau godaan tersebut liar dan tak dapat dikendalikan, yang tersisa hanya sikap tamak dan rakus. Sikap tamak dan rakus itulah yang menjadikan negara ini terpuruk dalam lilitan penyakit korupsi yang sudah seperti mengurat daging, yang memelaratkan jutaaan anak bangsa sehingga mereka hidup di jurang kenistaan dan tak berdaya. Korupsi yang merupakan kejahatan ekstraordinary, yang harus segera dicarikan penangkalnya. Ada baiknya kita merenungkan sebuah ungkapan bijak yang mengatakan, ”Dunia cukup untuk menghidupi setiap orang, tetapi tak cukup untuk melayani si rakus.”

Akibat ulah si rakus itulah kemudian bangsa ini bangkrut, pengangguran semakin menumpuk, jumlah orang miskin terus meningkat, kejahatan merajalela, bencana alam terjadi di mana-mana. Karena situasi itu tak kunjung usai, masyarakat kita sepertinya sudah bersikap apatis dan tak peduli lagi terhadap tumpukan masalah tersebut, yang pada gilirannya sikap apatis itu bukan saja tak menyelesaikan masalah, tapi justru akan menjadi bagian dari masalah. Pada titik ini, bangsa ini memerlukan sikap optimisme yang kuat, di mana sikap optimisme itu harus dibangun dari tekad yang kuat.

Karena, sikap optimisme yang hanya didasarkan pada tekad yang rapuh hanya akan menumbuhkan rasa angan-angan belaka. Dan puasa satu bulan penuh dapat dijadikan momentum bagaimana menumbuhkan mentalitas tekad yang kokoh. Muslim bangsa ini dilatih mempunyai tekad yang kuat untuk dapat menahan diri selama beberapa jam dari kebutuhan paling mendasar dalam kebutuhan hidupnya.

Cara Memaknai Ramadan
Demikianlah seharusnya dimensi Ramadan dimaknai, yang tidak hanya berdimensi individual belaka, yakni pribadi yang bertakwa, namun lebih dari itu, Ramadan juga memberikan dampak sosial, yang menginginkan terwujudnya masyarakat saling bekerja sama dan bergandeng tangan (Ta’âwun ) dan saling menanggung(Takâful) atau masyarakat yang berprinsip ‘ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul’. Masyarakat yang memiliki rasa senasib sepenanggungan itulah Insya Allah akan tercipta jika nilai-nilai seperti rasa kasih sayang dan sayang, empati, kebersamaan, dan solidaritas, itu semua kokoh tertanam kokoh di lubuk hati yang paling mendalam.

Maka, manakala ibadah puasa di bulan Ramadan itu memberikan fungsi individual-personal sekaligus sosial-komunal, bukan hanya rasa haus dan lapar yang kita dapat dari puasa kita. Lebih dahsyat lagi, kehidupan bermasyarakat dan bernegara kita pun akan merasa haus dan lapar dari nilai-nilai rasa kasih sayang dan sayang, empati, kebersamaan, dan solidaritas terhadap sesama.

Harus diakui, menginternalisasi fungsi ibadah-ibadah ritual ke dalam jiwa yang sudah berkarat dan menua sangatlah sulit, tapi juga bukan sesuatu yang mustahil. Mengerahkan segenap upaya dan daya untuk internalisasi fungsi ibadah tersebut harus terus dilakukan, terutama dengan sasaran kaum muda yang relatif berkarat ringan. Pepatah mengatakan, “Belajar di waktu tua, laksana memahat di atas air, dan belajar di waktu muda, laksana memahat di atas batu.” (***)

Penulis adalah pendiri dan pemilik RUMAN (Rumoh Baca Aneuk Nanggroe) Banda Aceh