Meningkatkan Kualitas Pendidikan Anak Lewat Membaca

Oleh: Hasian Sidabutar S.Pd
Kandidat Gelar Master Ilmu Hubungan Internasional UGM

Najwa Shihab, Duta Baca Indonesia, saat diwawancarai di berbagai acara mengatakan bahwa hanya 1 dari 1000 penduduk Indonesia yang suka membaca. Artinya, dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia hanya 250.000 orang yang suka membaca, selebihnya tak menjadikan buku sebagai modal untuk memperkaya wawasannya. Jadi, tidak salah berasumsi bahwa alasan mengapa pendidikan kita seolah-olah berjalan di tempat dan tak mengalami perbaikan secara signifikan.

Membaca buku harusnya menjadi sebuah kewajiban, bukan pilihan. Indonesia sangat tertinggal dalam hal hobi membaca. Jika dirata-ratakan, rakyat Indonesia tiap tahunnya membaca 0 (nol) buku. Sementara negara-negara asing yang sudah maju sudah jauh meninggalkan kita. Warga AS membaca rata-rata 25 buku setiap tahun, Jepang 20 buku dan Singapura 15 buku. Dari data tersebut, kita bisa melihat relevansi antara kemajuan suatu negara dengan hobi membaca bukunya. Jadi, wajar negara kita tak maju-maju, karena tak hobi membaca.

Pendidikan merupakan modal utama untuk mencerdaskan bangsa dengan tujuan akhir memandirikan dan memajukan bangsa. Melalui pendidikan yang mumpuni, negara tak akan dihimpit oleh derita kemiskinan, kebodohan, eksploitasi, kriminalitas, korupsi dan tindakan abnormal lainnya. Melalui pendidikan pula, sebuah negara bisa dinilai sebagai negara maju atau tertinggal. Membaca menjadikan seorang terdidik dan mampu bersaing.

Sebuah peradaban yang baik tidak akan tercipta jika generasi penerus tidak hadir sebagai orang-orang yang cerdas. Anak-anak menjadi harapan setiap orang untuk melanjutkan roda kehidupan/peradaban yang ada. Negara bisa musnah jika tak ada anak-anak muda yang diarahkan untuk menjadi penerusnya. Dan untuk mencapai itu semua, maka anak-anak sedari dini harus dibentuk menjadi pribadi yang cerdas, salah sautunya menanamkan budaya membaca kepadanya.

Orangtua Budayakan Anak Membaca
Anak-anak masa kini jauh lebih menyukai menonton program televisi ketimbang membaca buku, koran dan sumber belajar lainnya. Padahal tayangan televisi sudah tidak bersahabat dengan anak. Televisi menjebak anak ke dalam pengetahuan semu, yang tak benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Sebut saja program 7 Manusia Harimau, Ganteng-Ganteng Serigala (GGS), Anak Jalanan, Anak Menteng, FTV dengan konten kekerasan, serta program hiburan Happy Show, Pesbukers dan lainnya yang sama semaki tidak memberi dampak positif bagi pendidikan anak.

Itulah sebabnya, sembari menunggu pemerintah melalui Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) lebih tegas dalam mengealuasi pihak stasiun televisi untuk menyiarkan tayangan bermutu, orangtua atau wali anak bisa membudayakan membaca bagi anak-anaknya. Inilah momen yang tepat menghindarkan anak dari bahaya program televisi tak berbobot tersebut.

Watak anak di masa mudanya sesungguhnya modal utama orangtua untuk meluruskan orientasi anak di tengah pertumbuhan serta pendidikannya. Sifat alami anak adalah penurut, penyayang dan ceria. Jika orangtua memberi buku dan mendampingi anak saat membaca, maka hingga dewasanya kelak, anak akan cinta buku dan gemar membaca. Tentu,  untuk anak tidak boleh ada kepura-puraan. Jika orangtua ingin anak konsisten hobi membaca, maka orangtua terlebih dahulu rutin membaca.