Pola Pendidikan Harus Mengarah Kepada Pencapaian Target Nasional

Undang–undang Dasar 1945 pasal 31 meyatakan bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pengajaran dan pendidikan yang layak. Oleh karena itu sudah tidak saatnya lagi kita perdebatkan mengapa dan bagaimana system dan pola pendidikan dinegara kita, sampai saat sekarang ini masih tetap seperti jalan ditempat, artinya belum ada peningkatan yang signifikan yang langsung menyentuh jantung pendidikan.

Risman Arbi Sitompul Guru SMA Negeri 1 Pinangsori

Dilihat dari peringkat negara, kualitas pendidikan Indonesia berada di urutan ke 160 dunia dan urutan ke16 di Asia. Bahkan secara ratarata, Indonesia masih berada di bawah Vietnam. Anak-anak kita sekarang malas belajar karena mereka merasa tidak perlu belajar. Mengapa merasa tidak perlu belajar karena mereka merasa belajar dan tidak belajar sama saja? Kondisi itu terjadi karena saat ujian naik kelas, murid yang pintar dan yang bodoh sama- sama naik kelas atau saat ujian akhir, siswa yang pintar dan bodoh semuanya lulus.

Budaya seperti itu terjadi akibat KKN, secara sadar dan tidak sadar, sudah diajarkan sejak dini di sekolah sehingga siswa yang mendapat nilai tiga dikatrol jadi lima atau yang dapat lima dinaikkan menjadi tujuh. Demikian juga siswa yang seharusnya tidak lulus, diluluskan juga. Karena itu, mulai sekarang semua guru harusnya membiasakan pakai tinta merah. Kalau memang nilainya merah, ya kita tulis dengan tinta merah, seperti duludulu lagi.

Pada saat ini kita juga perlu menyoroti penggunaan sistem koefisien nilai kewajaran yang diterapkan Depdiknas dewasa ini dalam menilai hasil ujian, hal ini  dianggap sebagai pembodohan terhebat dalam dunia pendidikan. Melalui sistem itu, secara sengaja sudah dirancang disparitas kualitas pendidikan antara satu daerah dan daerah lain di Indonesia sehingga muncul kastakasta dalam bidang pendidikan.

“Cara itu harus diubah karena merupakan suatu kebijakan yang betul-betul salah dan membodohi rakyat. Sebetulnya, upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan tidaklah terlalu berat karena hanya bersifat akan mengembalikan mutu pada posisi yang pernah dicapai tahun 1960-an. Kualitas pendidikan sekarang merosot dibanding dengan kondisi 40 tahun lalu, ibarat olahraga lompat tinggi.

Kalau 40 tahun lalu mistar pendidikan itu diletakkan pada ketinggian dua meter, karena banyak yang tidak bisa lompat, mistarnya diturunkan jadi 1,5 meter. Begitu seterusnya hingga mencapai tingkat yang sangat rendah. Seharusnya, bukan mistarnya yang diturunkan, tetapi atlet lompatnya itu yang digodok agar bisa melompat lebih tinggi seperti di Malaysia, Singapura, dan Hong Kong.

Sekarang, kita ingin mengembalikan mistar itu pada posisi semula ESQ Bimbel Smartplus – Mengejutkan. Ternyata negara yang paling oke tata kelola pendidikannya bukanlah Amerika Serikat, Jepang atau Jerman. Akan tetapi, kiblat pendidikans dunia saat ini mengarah ke negara Finlandia.Amerika Serikat sendiri berada jauh di bawah level Finlandia, tepatnya di urutan ke17. Lalu, di mana daya tariknya sistem
pendidikan di Finlandia dengan negaranegara lainnya khususnya Indonesia? Jawabannya adalah di kemandirian siswa dan gurunya.