Strategi Membangun Human Capital

Ilustrasi
Ilustrasi

Mengubah budaya birokrasi yang sudah lama tertanam dan terinternalisasi sesungguhnya bukan pekerjaan yang gampang. Sangat diperlukan proses dan upaya yang terus menerus dan berkesinambungan serta bertahap.

Human capital saat ini tidak bisa lagi bersifat reaktif yaitu menunggu dan menghindar dari risiko, mempertahankan status-quo, sikap menolak perubahan (resistance to change) dan sebagainya, akan tetapi harus lebih bersifat proaktif, “menjeput bola”, dan memiliki daya forecasting yang tinggi terutama dalam menghadapi perubahan dengan tingkat turbulance yang tinggi.

Ketujuh, sistem penggajian yang menarik. Persoalan yang mengemuka dalam membangun human capital yang berdaya saing tinggi adalah sistem penggajian yang belum memadai. Masih banyak organisasi yang menuntut agar karyawannya bekerja produktif dan efisien, namun melupakan aspek manusia sebagai salah satu sumber daya insani yang harus dihargai.

Kedelapan, sistem pengawasan yang efektif. Rendahnya sistem pengawasan mengakibatkan human capital tidak maksimal, sehingga Korupsi–Kolusi dan Nepotisme (KKN) pun semakin marak. Karena itu sistem pengawasan yang terprogram dan tersistem secara baik akan mampu menggugah kesadaran pegawai untuk bekerja sesuai dengan nilai-nilai etika kerja yang profesional.

Kesembilan, pengembangan e-governance. Kemajuan teknologi dan informasi yang semakin cepat dan canggih mengharuskan human capital mengembangkan pekerjaannya melalui e-governance, sehingga semakin cepat, tepat, akurat dan selalu mengikuti perkembangan zaman (update).

Kesembilan strategi di atas dapat terimplementasi secara ideal dan professional, manakala seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan human capital dalam organisasi bekerja dengan hati, jiwa dan pikiran yang bersih. Semoga. (*)

Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi Unri.