CARA GAMPANG MEMILIH GUBERNUR

Rektor USI Marihot Manullang
Rektor USI Marihot Manullang

MEMILIH itu bukan perkara mudah. Apalagi kalau semuanya menggiurkan. Saya pernah merasa sulit memilih antara Lontong atau Nasi Gurih ketika sarapan pagi. Dua-duanya terlihat enak. Apalagi di buku menu yang sudah di edit sedemikian rupa. Sering terlintas di benak saya, “hmmm…Kemarin kan sudah makan Nasi Gurih, sekarang lontong saja deh”. Nah, biasanya saya akan memilih makanan yang hari-hari sebelumnya belum saya makan.

OLEH: Rektor USI, Prof Marihot Manullang

Memilih memang tidak mudah. Otak seringkali cemas ketika memilih. Keadaan brain anxiety terjadi ketika manusia merasa takut kecewa akan pilihannya. Oke, mari kita beranjak ke pilgub. Apalagi, orang sumut itu bermacam-macam. Sukunya saja sangat beragam. Bahkan bisa dibilang lebih “bhinneka” daripada provinsi-provinsi di jawa sana. Misalnya saja suku batak yang masih terklasifikasi menjadi sub-suku yang sangat beragam.

Gini cara memilihnya.

  1. Memilih berdasarkan kebutuhan dan potensi

Jika umur sudah tua, kurangilah konsumsi lemak dan garam, perbanyak buah dan sayuran. Pilihlah sesuatu berdasarkan kebutuhan. Begitu juga dengan memilih gubernur. Sumut adalah salah satu provinsi yang berpotensi mengendalikan ekonomi Indonesia dari sisi barat karena dekat dengan selat malaka, dimana jalur ini merupakan lintasan perdagangan dunia. Selat malaka adalah hub antara samudra Hindia dan Pasifik.

Anda ragu ? Atau anda merasa saya mengada-ada ? Coba cek apa kata wikipedia dalam mendeskripsikan malacca strait. From an economic and strategic perspective, the Strait of Malacca is one of the most important shipping lanes in the world.The strait is the main shipping channel between the Indian Ocean and the Pacific Ocean, linking major Asian economies such as India, Indonesia, Malaysia, Singapore, China, Japan, Taiwan, and South Korea. Over 94,000 vessels pass through the strait each year (2008) making it the busiest strait in world.

Lalu kenapa gubernur sumut sejak jaman dahulu tidak pernah mengambil keuntungan dari posisi strategis kita ? Duh, sayang sekali. Padahal kita punya potensi besar untuk menjadi seperti Dubai. Belawan bahkan bisa menjadi ancaman bagi singapura (pelabuhan terbesar kedua di dunia setelah shanghai). Dari salah satu potensi diatas, terlihata bahwa pendekatan pemimpin sumut seringkali hanya berada di zona kekuasaannya.

Entah karena kehabisan ide, enggan untuk mengambil resiko, atau tidak mampu berkomunikasi di level yang lebih tinggi. Disaat provinsi ini punya potensi besar, pemimpinnya pun harus mampu memperjuangkannya, tidak hanya pada pemerintah pusat, tapi juga internasional.

Jadi apa yang dibutuhkan sumut ?

“Pemimpin yang punya solusi, berani ambil resiko, dan mampu berkomunikasi di segala level” Dibutuhkan seorang pemimpin yang cakap dalam personal approach terhadap pihak-pihak yang mampu membangun daerahnya. Entah itu kepada pengusaha asing, pemimpin dari negara lain, bahkan menteri dan presiden. Seorang sosok gubernur baiknya mencari peluang diluar untuk bisa membangun daerahnya bukan malah show-off pada warganya sendiri.

Masyarakat era milenial sudah sangat maju untuk mengukur kinerja dan prestasi pejabat publik, khususnya gubernur. Jadi gubernut tak perlu banyak pamer di daerahnya sendiri. Selain itu, lihatlah siapa yang punya keberanian dalam mengambil resiko. Karena setiap perubahan dan kebijakan baru, pasti memiliki resiko yang tinggi. Pilihlah mereka yang telah terbiasa untuk berani dalam memilih resiko perubahan. Itulah yang dibutuhkan SUMUT.

  1. Memilih yang mampu mengubah karakter buruk warganya 

Coba para pembaca sebut di dalam hati, apa saja kebiasaan buruk kita sebagai warga di Sumut ? Mungkin ada yang menyebut “suka-sukanya aja”, “tidak disiplin”, “pemalas”, “maunya serba instan”. Dari sekian banyak karakter buruk diatas, dapat kita simpulkan bahwa warga sumatera utara cenderung ingin cepat mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa peduli dengan proses sehingga menimbulkan ketidakadilan ditengah-tengah masyarakat. Misalnya saja saling serobot di jalanan, hingga menerobos lampu merah. Atau praktik suap dan sogok-menyogok supaya urusan bisa lebih cepat.