Raja Parhata

D'Sang - Pangkalan Becak

Janggaleman: Lha! Itukan butuh waktu dan keseriusan juga. Dan ngak secara otomatis jika kita sering mengikuti acara adat langsung bisa sebagai raja parhata. Kita juga harus terus belajar dan belajar.

Ullus: Lho kok bisa seperti itu?. Kan sama sajanya adat dimana saja, misalnya adat penikahan batak Simalungun atau Toba.

Janggaleman: Disitulah para raja parhata ini perlu belajar menyesuaikan, pasalnya adat batak Simalungun misalnya tidak sama di Pematangraya dengan yang di Pematangsiantar, belum lagi dengan adat yang di Seribudolok dan Perdagangan. Demikian juga Toba, sangat berbeda adat penikahan di Porsea, Tarutung, Siborong-borong dan Siantar. Belum lagi di Medan dan Jakarta,

Nai Rundut: Bah seperti itu pula kondisinya ya, lalu gimana cara kalian untuk menyamakan persepsi jika ada dua pihak yang saling berbeda adatnya meskipun sama-sama batak?

Janggaleman: Disitulah dibutuhkan kearifan namanya. semuanya itu membutuhkan pemikiran yang matang, harus saling berkoordinasi antara dua raja parhata pihak-pihak yang berpesta.

Ullus: Apakah pernah gagal pesta hanya karena tidak sepakat dengan acara adat yang akan dilaksanakan?