Kritik Tokoh Adat Batak Karena Mangulosi Dahlan Iskan

Effendi Simbolon Tuai Kecaman

DIULOSI – Menteri BUMN Dahlan Iskan diulosi saat peresmian Bandara Silangit.

SIMALUNGUN – Mengkritik pemberian ulos bulang-bulang oleh sejumlah tokoh adat Batak kepada Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan, Calon Gubernur Sumatera Utara Effendi Simbolon menuai kecaman. Sejumlah tokoh adat dan budayawan Batak mengaku tersinggung dan balik menuding Effendi sebagai sosok yang tidak paham apa yang dia omongkan.

“Kita sangat menyesalkan pernyataan seperti itu. Kita (tokoh masyarakat Tapanuli Utara) menyerahkan ulos bulang-bulang kepada Bapak Menteri BUMN Dahlan Iskan, karena beliau seorang pemimpin yang memberikan perhatian untuk mendukung pembangunan di tanah Batak, khususnya di kawasan Tapanuli.

Salahsatunya dengan meningkatkan pembangunan Bandara Silangit,” kata Ompu Garuda Purba, tokoh adat Batak di Taput yang mengulosi dan menyerahkan tongkat tunggal panaluan kepada Dahlan Iskan, Jumat (11/1) lalu. Saat acara itu, tokoh Batak yang juga penasihat Presiden SBY, TB Silalahi, turut hadir.

Ompu Garuda menyebut, Dahlan Iskan telah menunjukkan komitmennya membangun Bandara Silangit menjadi Bandara Internasional. Di mana kehadiran Bandara Silangit tentu akan sangat mendukung perekonomian masyarakat Batak di kawasan Tapanuli.

“Pemberian ulos tersebut sebenarnya bukan atas nama pribadi Dahlan Iskan. Melainkan atas nama dirinya (Dahlan Iskan) sebagai salah satu pemimpin di negara ini, yakni Menteri BUMN,” sambungnya.

Atas pernyataan Efendi Simbolon tersebut, Ompu Garuda mengatakan, sangat menyesalkannya. “Bisa saja itu pernyataan politik, tapi kita tidak mau masuk ke dalam politik. Karena kita bukan orang politik. Dan apa yang ditafsirkan oleh Effendi Simbolon atas pemberian ulos itu sudah beda dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Yang jelas, pak Dahlan Iskan itu telah berbuat di Tapanuli,” tandasnya.

Senada dengan Ompu Garuda, salah satu tokoh pemuda pemerhati pembangunan di kawasan Tapanuli, Hotbin Purba mengatakan, Effendi Simbolon tidak pantas melecehkan keputusan yang sudah diambil oleh tokoh adat Batak. “Harusnya Efendi Simbolon berkaca dulu. Apa yang sudah diperbuatnya di Tapanuli, khususnya di tanah asalnya di Kecamatan Muara, Kabupaten Taput,” tandas Hotbin Purba.

Atas pernyataannya itu, lanjut Hotbin, Effendi justru mencoreng citranya sendiri di mata masyarakat Tapanuli. “Apalagi dia (Effendi Simbolon) jadi Cagubsu. Harusnya dia menghormati keputusan yang diambil oleh penatua dan tokoh adat Batak,” imbuhnya.

Terakhir, Hotbin menyebut bahwa Effendi sudah mengomentari apa yang tidak dia lihat dan apa yang tidak dia mengerti. “Jadi, biarkan saja dia (Effendi Simbolon) ngomong seenaknya. Sebab dia tidak tahu apa yang dia komentari,” pungkasnya.

Sebelumnya, Dahlan Iskan hadir di Bandara Silangit, Tapanuli Utara untuk menghadiri serah terima Bandara Silangit, Taput dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ke BUMN yakni PT Angkasa Pura (AP) II. Tujuan serah terima Bandara Silangit ke AP II yakni untuk memudahkan akses ke Kawasan Danau Toba melalui udara. Rencananya, setelah diserahkan dari Kemenhub ke PT AP II, Bandara Silangit bisa lebih berkembang dan bisa didarati pesawat Boeing 737 seri terbaru NG 800.

Karena melihat besarnya perhatian Dahlan Iskan mendukung pengembangan bandara yang pada akhirnya mendukung kemajuan di wilayah Tapanuli, sejumlah tokoh adat Batak di Taput memberikan tongkat Tunggal Panaluan sebagai simbol kepercayaan dari tokoh adat Batak di Tapanuli kepada Dahlan Iskan.

“Pemberian seperangkat pakaian adat Batak ini adalah sebagai simbol kepercayaan dan doa, agar Pak Dahlan Iskan tetap diberkati Tuhan dan dapat memimpin secara arif dan bijaksana,” ujar tokoh adat Batak di Taput, Ompu Garuda, usai mengulosi dan menyerahkan tongkat replika “Tunggal Panaluan” kepada Dahlan Iskan. Selain menerima tongkat tersebut, Dahlan juga dipakaikan seperangkat pakaian adat Batak.

Saat itu usai menerima tongkat, Dahlan Iskan menyampaikan terima kasih kepada tokoh adat Batak di Tapanuli Utara. Namun pascapenyerahan tongkat Tunggal Panaluan dan ulos kepada Dahlan Iskan, Cagubsu nomor urut 2, Effendi MS Simbolon menyatakan rasa keberatannya atas pemberian ulos tersebut.

Dalam sebuah acara di rumah Bupati Simalungun JR Saragih, Effendi kepada wartawan berkata: “Kalian ulosi orang gila itu? Masa kalian biarkan orang gila itu diulosi?”

Saat pernyataannya itu dikonfirmasi langsung kepada dirinya, kemarin, Effendi yang juga Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI-P itu membenarkan pernyataannya. “Iya, memang benar Dahlan Iskan itu gila. Bagi kami di DPR RI Komisi VII dari mana tokohnya? Apakah dia (Dahlan, RED) memberikan kontribusi membangun tanah Batak? Kalau memberikan, apa kontribusinya,” ucapnya kepada Sumut  Pos (grup METRO TABAGSEL), Rabu (16/1) yang menemuinya di Hotel Grand Antares, Medan.

Ketika disebutkan bahwa orang yang mengulosi Dahlan Iskan adalah tokoh batak di Taput, Effendi mengingatkan, jangan gampang memberikan sebuah ulos kepada seseorang. “Saya sebagai orang Batak ya prihatin. Harusnya ulos itu diberikan kepada kepada tokoh mumpuni dan memiliki kredibilitas serta teruji. Barulah diulosi. Makanya saya sebagai orang Batak keberatan bila Dahlan diulosi,” sebutnya.

Saat ditanya apakah pernyataannya itu berhubungan dengan masalah pribadi antara dirinya dengan Dahlan Iskan, Effendi membantah. Ia menyebutkan, selama dirinya menjabat sebagai Ketua Panitia Kerja (Panja) Listrik, tidak ada persoalan dengan Dahlan yang dua tahun memimpin di PT PLN. “Tidak ada urusan dengan proyek-proyek. Saya ketua Panja Listrik, saya juga yang memeriksa bos kamu (Dahlan Iskan),” ucapnya.

Dia menyatakan, pernyataan yang disampaikannya tidak ada kaitannya dengan Pilgubsu. Tentang kedatangan Dahlan ke rumah pribadinya di Jakarta saat Natal, menurutnya juga tanpa sepengatahuannya. “Saya tidak mau menanggapi kedatangan Dahlan saat open house di rumah saya,” katanya.

Budaya Sakral oleh Komunitas Adat
Masih terkait kritikan Effendi Simbolon yang menyebut Dahlan Iskan tak pantas diulosi, Ketua Perbappsu, Gandi Parapat mengaku tersinggung. Gandi mengatakan, perbedaan pendapat itu hal biasa. Ia juga tidak melarang jika ada orang yang keberatan dengan pemberian ulos ke Dahlan.

Namun, dirinya tidak mau diatur-atur oleh orang lain yang merasa lebih hebat. Gandi membalas pernyataan Effendi dengan kalimat yang tajam. “Nggak kita larang orang menjadi bodoh. Tapi kalau bisa pintarlah, jangan bodoh,” ujarnya.

Pernyataan keras Gandi menanggapi omongan Effendi Simbolon yang dimuat sebuah koran lokal di Siantar-Simalungun. Cagub Sumut dari PDIP itu mengecam pemberian ulos ke Dahlan. “Kalian ulosi orang gila itu. Masa kalian biarkan orang gila diulosi,” ucap Effendi seperti diberitakan koran itu.

Gandi yang juga pernah memberikan ulos kepada Dahlan di gedung Kementerian BUMN di Jakarta, Rabu (9/1) lalu, mengaku tidak terima atas kalimat Effendi itu. “Emang siapa Effendi Simbolon?” cetus Gandi.  Sementara itu, Ketua Umum Upaya Penyelamatan Aset Simalungun (UPAS), Januarison Saragih SH MH menilai, ada hubungan magis religius orang Batak terhadap acara pemberian ulos. Menurutnya, pemberian ulos merupakan acara budaya yang sangat sakral, dan bukan sembarangan.

“Tentunya pemberian ulos itu sudah didasari dengan perencanaan yang matang oleh komunitas adat. Mangulosi merupakan budaya Sumatera Utara bagi tamu yang datang. Jadi ini adalah hak istimewa komunitas adat dan tidak perlu dicampuri atau dikomentari,” ujar Januarison.

Dijelaskannya, Effendi Simbolon tidak tepat mengomentari pemberian ulos kepada tamu, yang merupakan acara budaya Batak yang senantiasa terpelihara. “Apa hubungan dia mengomentarai itu?” ujar Januarison.

Selain itu, pernyataan Effendi Simbolon yang menyebut Menteri BUMN Dahlan Iskan sebagai orang gila, merupakan pernyataan yang sangat konyol. “Yang berhak mengatakan seseorang itu gila adalah dokter spesialis kejiawaan. Atau sebaliknya, yang mengatakan itulah yang gila. Kalau mereka ada perseteruan secara pribadi, jangan dibawa-bawa ke sini,” kata Januarison yang juga praktisi hukum ini.

Senada dengan Januarison, Dosen FKIP Nommensen Antonius Goltom SPd MM mengatakan, pernyataannya menunjukkan kalau sosok Effendi Simbolon itu seorang yang sangat arogan dan tidak menghargai budaya di Sumatera Utara. “Sepertinya Effendi tidak paham dan tidak mengerti terhadap budaya. Sehingga ia mengomentari pemberian ulos yang adalah budaya Batak,” ucapnya. (ril/hsl/th/sam/pra)

  • Marvin

    Redaksinya bagus, komentarnya bagus, tanggapannya juga bagus. Perbedaan pendapat selalu ada dimana-mana. Kita gunakan itu semua untuk pencerahan dan kemajuan bangsa. Mari kita sukseskan PILGUBSU 7 Maret 2013. Yakinkan diri untuk kejayaan SUMUT kedepan, kita pilih pasangan nomor 2, Effendi Simbolon-Djumiran Abdi.

  • goes

    Mungkin ini cagub sampaikan karena dia ketua sedunia, sedangkan dahlan baru hanya menteri…RI