Lokasi Penemuan Mayat Tanpa Kepala Sering Suara Rintihan Minta Tolong

(FOTO: DHEV FRETES BAKKARA)
Mayat diduga korban mutilasi saat akan diatopsi.

SIDAMANIK - Sejumlah warga Kelurahan Sarimatondang, Kecamatan Sidamanik, Simalungun, sering mendengar suara rintihan minta tolong yang berasal dari kawasan kebun teh PTPN IV Sidamanik. Asal suara itu merupakan lokasi penemuan mayat wanita tanpa kepala. Hingga Minggu (9/9), pihak Polsek Sidamanik belum berhasil mengungkap kasus temuan mayat tersebut. Sementara warga sekitar sudah mulai resah dengan kondisi setelah penemuan mayat diduga mutilasi tersebut.

Sondang boru Sialagan (46) dan Lisbet boru Damanik (41), warga Kelurahan Sarimatondang, ditemui METRO, Minggu (9/9) mengaku kerap mendengar suara rintihan minta tolong dari kawasan kebun teh Sidamanik itu.  ”Sehari setelah mayat itu ditemukan, kami sering mendengar suara jeritan minta tolong dari lahan kebun teh itu. Soalnya setiap malam saya harus ke Pematang Sidamanik untuk mengambil kopi hasil panen,” katanya diamini Lisbet boru Damanik.

Kemudian, suara rintihan tersebut kerap terdengar ketika dirinya melintas bersama dengan anaknya, dan lama kelamaan suara tersebut makin samar. Warga yang ketakutan pun memilih tancap gas karena takut. Mereka mengaku, suara-suara rintihan ini sudah berulang kali didengar warga, sehingga warga kerap resah dengan kondisi ini. ”Kadang suaranya jelas, tetapi kadang juga samar-samar dan suaranya seperti anak gadis minta tolong. Namun suara itu selalu pindah- pindah, makanya kita juga takut sekali dengan kondisi ini,” katanya.

**Minta Kebun Teh  Dipagar
Atas kejadian ini, warga Sidamanik meminta agar lokasi kebun teh milik PTPN IV Sidamanik dipasangi pagar keliling. Tujuannya, mengurangi jumlah pengunjung yang masuk secara bebas.  ”Seharusnya PTPN IV Sidamanik memasang pagar di sekeliling lokasi kebun teh, agar pengunjung tidak bebas masuk sehingga aksi kriminal dapat terhindarkan,” katanya.

Sementara selama ini, lokasi kebun teh banyak digunakan pelaku kriminal untuk melakukan aksi kejahatan, seperti penemuan mayat karyawan perkebunan teh Sidamanik, setahun lalu. Lokasi ini pun cukup sunyi dan jarang dikunjungi warga. Bahkan tanaman teh setinggi satu setengah meter ini juga sudah mulai terlihat semak dan kondisi kebun yang menurun, sehingga warga yang melintas dari jalan umum Sidamanik kesulitan melihat langsung dari pinggir jalan.

”Kalau dari pinggir jalan umum Sidamanik ini saja tidak terlihat ada orang masuk, soalnya jalannya menurun. Makanya kami minta supaya angka kejahatan berkurang, lokasi kebun teh ini harus dipagar,” katanya.  Terpisah, Kapolsek Sidamanik AKP Delami SH saat dihubungi METRO, Minggu (9/9) mengaku pihaknya belum menemukan identitas korban yang diduga dimutilasi. Sementara kepala korban juga belum ditemukan hingga. ”Kami belum berhasil menemukan identitas korban. Bahkan kepalanya juga belum terlihat, padahal di sekitar lokasi kebun teh tempat temuan mayat sudah kami telusuri semuanya,” katanya.

Dia mengatakan, selama ini pihak Polsek Sidamanik terkendala dengan kondisi kebun teh yang cukup semak. Sementara untuk mengecek di mana lokasi kepala korban dibuang, pihaknya harus memeriksa kebun teh ini secara keseluruhan. ”Dulunya lokasi kebun teh itu akan direplanting pihak PTPN IV Sidamanik, namun gagal. Makanya sampai sekarang lokasi itu tidak diperhatikan, sehingga tanamannya sudah tinggi sekali,” katannya.

Pihak Polsek juga meminta kerja sama warga Sidamanik yang memiliki kecurigaan tentang keberadaan korban agar memberikan informasi kepada polisi. Katanya, selama ini pihak Polsek Sidamanik belum ada menerima laporan orang hilang dari masyarakat sekitar. ”Kita juga belum ada terima laporan orang hilang, makanya kami sedikit kesulitan. Namun begitu kita akan terus cari identitas dan penyebab kematian korban,” katanya. (mag-02)