Mahasiswa Demo Kejari, Usut Tuntas Kasus di USI

SIANTAR – Puluhan Mahasiswa Universitas Simalungun (USI), demo ke kantor Kejari Siantar di Jalan Sutomo. Mereka menuntut Kejari Siantar dan kepolisian, mengusut tuntas masalah USI yang kian dilematis, Kamis (10/10).

Aksi yang berlangsung di depan kantor Kejaksaan Negeri Siantar ini menjadi perhatian para pengguna jalan yang melintas hingga sempat menyebabkan kemacetan. Beruntung aparat Polresta Siantar, segera menangani kemacetan tersebut.

Dalam aksinya, para mahasiswa menuntut agar Kejari dan Polresta Siantar segera menyelesaikan permasalahan yang ada di Yayasan USI. “Kami tidak memihak kepada siapa pun. Kami hanya butuh kepastian,” kata Kordinator Lapangan Chandra Malau dalam orasinya.

Dia mengatakan, permasalah di USI sudah lama terjadi, tetapi hingga sekarang belum ada penyelesaian. “Kami akan minta kasus USI segera diselesaikan Kejari dan Polres Siantar. Permasalahan ini sudah terjadi sejak sembilan bulan lalu, ibaratkan orang hamil, seharusnya sudah melahirkan dan perkaran ini sudah ada penyeleaiannya,” ujarnya.

Sementara, salah seorang mahasiswa menyatakan bahwa pada seminar sehari yang berlangsung di USI beberapa waktu lalu, Kapolres Siantar AKBP Slamet Loesiono menyatakan bahwa kasus tersebut sudah berada di tangan kejaksaan. “Kata Kapolres permasalahan itu sangkut di kejaksaan, bukan di kepolisian,” kata salah seorang mahasiswa berambut panjang.

Menyikapi aksi yang dilakukan mahasiswa USI, pihak Kejari Siantar yang diwakili Kepala Seksi Intelejen (Kasi Intel) Agusalim Nasution mengatakan, tuntutan para mahasiswa sebenarnya sudah ditangani dan sudah masuk ke tahap P18 dan P19 (petunjuk dari JPU ke penyidik polresta). “Kita sudah menangani kasus tersebut. Hanya saja, Jaksa Penuntut Umum masih menunggu penyidik untuk melengkapi petunjuk yang diberi,” ujar Agusalim Nasution.

Terkait permasalahan yang menyangkut Palentyno Girsang dan kawan-kawan, hal tersebut dapat dilihat dari penyidik, kenapa kasusnya masih P19 walaupun sudah 9 bulan masalah ini berjalan.
”Kalian semua bisa membaca itu di penyidik, karena itu jelas tertulis. Jadi silahkan datang ke penyedik. Kalau kalian sudah membaca, baru kalian bisa mengetahui apa yang menjadi kendala,” katanya.

Setelah mendengarkan penjelasan dari Kasi Intel, puluhan mahasiswa USI yang berunjukrasa membubarkan diri dengan tertib.

Disinggung soal pernyataan yang dilontarkan mahasiswa terkait pernyataan Kapolres Siantar soal kasus itu menyangkut di jaksa, Agusalim Nasution mengatakan, pernyataan tersebut hanya akal-akalan mahasiswa. “Itu jelas tidak mungkin kalau Kapolres bicara seperti itu,” katanya singkat.

Kasubag Humas AKP Efendi Tarigan mengatakan, proses dugaan pemalsuan surat tersebut sudah ditangani dan menetapkan tiga tersangka. Saat ini proses itu sudah tahap penyidikan untuk selanjutnya dilimpahkan ke Kejaksaan. “Laporan itu sudah kita proses dan kita mengimbau agar mahasiswa tetap mendukung kinerja kepolisian dengan tetap menjaga Kamtibnas di tengah masyarakat,” kata Efendi.

Biarkan Proses Hukum Berjalan
Dosen USI Riduan Manik menyebutkan, di USI tidak ada permasalahan. Hanya saja ada orang yang mempermasalahkannya. Sehingga asumsi masyarakat, USI itu kondisinya tidak kondusif. Padahal, kalender akademik tetap berjalan sesuai yang telah diprogramkan.

Dikaitkan dengan aksi para mahasiswa USI ke Polres dan Pengadilan Negeri Siantar, Riduan menyikapi bahwa proses di penegak hukum tidak bisa diintervensi. Artinya, kasus yang ditangani oleh pengadilan tidak serta merta dapat diintervensi oleh pihak ketiga yang berkaitan dengan perkara tersebut.

“Artinya, setiap prosesnya membutuhkan waktu. Apakah itu meminta keterangan saksi-saksi atau pun lainnya. Nah, dengan demikian biarkan proses hukum berjalan,” terangnya. Disinggung soal perkara gugatan terkait kepengurusan di Yayasan USI dan Rektorat, kata Riduan, perkara itu sedang ditangani oleh penegak hukum. (lud/pra)

Komentar