Menanti Peran Konkret Indonesia di APEC

Asia Pacific Economic Cooperation atau biasa disingkat APEC merupakan forum tingkat dunia yang membicarakan isu-isu pertumbuhan ekonomi, kerjasama, perdagangan dan investasi di kawasan Asia-Pasifik. Event ini rutin diselenggarakan tiap tahun dengan tempat pelaksanaan bergilir.

Oleh: Fathur Anas

Pada 2012, Rusia mendapatkan kesempatan sebagai tuan rumah setelah tahun 2011 lalu diselenggarakan di Amerika Serikat.  Pertemuan ini dihadiri oleh delegasi dari 21 negara anggota APEC dan juga perwakilan organisasi internasional, seperti PBB, Bank Dunia, WTO dan IMF.

Indonesia adalah salah satu negara yang akan hadir akan membawa banyak isu. Serangkaian pertemuan APEC 2012 ini digelar di berbagai kota di Rusia setahun penuh, mulai dari awal tahun hingga penghujung akhir tahun. Pertemuan itu antara lain: First APEC Senior Officials’ Meeting (SOM1) and Related Meetings yang diselenggarakan di jantung ibu kota Moskow 30 Januari-19 Februari 2012. Peran Indonesia di APEC memang besar, Indonesia akan menjadi tuan rumah APEC di 2013, dalam situasi perdagangan global seperti sekarang ini.

Bergabungnya Rusia dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sejak Desember lalu membuat pejabat  Rusia berpartisipasi penuh dalam pembahasan liberalisasi perdagangan dan investasi. Presiden Medvedev menawarkan sejumlah inisiatif baru, termasuk rencana pembangunan koridor transportasi untuk rute perdagangan baru Asia ke Eropa melalui Rusia. Walau Rusia terletak di Eropa, secara geografis dua pertiga dataran Rusia berada di Asia.

Maka, Rusia juga berhak mengklaim sebagai bagian dari kekuatan Asia. Pilihan Vladivostok, kota besar di timur jauh Rusia, sebagai tempat KTT APEC. Dalam KTT APEC yang sedang berlangsung sekarang ini, memperkuat komitmen Rusia untuk berperan dalam kebangkitan Asia. Sementara ekonomi Eropa mengalami ketidakpastian dan pertumbuhan di Amerika Serikat bergerak lebih lamban dari harapan, Asia menjadi harapan untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi global.

Tujuan ekspor
Dukungan penuh Indonesia terhadap Rusia di Asia sangat penting, mengingat Indonesia akan mengambil alih tongkat kepemimpinan APEC tahun 2013. Indonesia harus memikirkan dan mempersiapkan sejumlah agenda untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi pasca-Rusia.

China, India, dan Indonesia membuktikan bahwa jumlah penduduk yang besar justru merupakan pasar andalan saat tujuan ekspor tradisional ke Eropa dan Amerika sedang lesu. Ketiga negara Asia ini mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi karena ditopang oleh konsumsi domestik. Pada gilirannya, pertumbuhan mereka menggerakkan roda ekonomi negara Asia Pasifik lain.

Dengan semakin terintegrasinya perekonomian anggota APEC, langkah selanjutnya adalah membangun sebuah komunitas ekonomi agar kerja sama ekonomi di kawasan ini naik ke level berikutnya. Indonesia dapat menggunakan kepemimpinannya di APEC tahun 2013 untuk mencanangkan gagasan Komunitas Ekonomi Asia Pasifik dan membuat sejarah di APEC.

Satu hal yang membedakan APEC dari organisasi antarpemerintah lain, termasuk WTO, adalah tidak ada ikatan pada anggotanya untuk melaksanakan sejumlah kesepakatan. Semua keputusan diambil lewat konsensus dengan semangat ”regionalisme terbuka” sehingga anggota terhindar dari pemaksaan agenda kekuatan eksternal.

Gagasan membangun komunitas di Asia Timur atau Asia Pasifik di antaranya muncul dari Kevin Rudd ketika ia menjadi Perdana Menteri Australia dan (mantan) Perdana Menteri Jepang Yukio Hatayama. Gagasan ini sudah dibahas di forum formal, seperti ASEAN+3, East Asian Summit (18 negara), dan APEC (21 negara), ataupun pertemuan-pertemuan informal.

Pembentukan Uni Eropa-terlepas dari masalahnya saat ini-juga diawali dengan kerja sama ekonomi yang kemudian ditingkatkan menjadi komunitas ekonomi Eropa. Melihat ekonomi di Asia Pasifik yang sudah terintegrasi, APEC hanya tinggal satu langkah lagi untuk menjadi komunitas ekonomi. Namun, jalan menuju komunitas ekonomi Asia Pasifik membutuhkan komitmen anggota APEC untuk meliberalisasi perdagangan dan investasi. Suatu hal yang berat di tengah krisis ekonomi saat ini sehingga banyak negara tergoda untuk memberlakukan proteksi.

Pemerintah juga harus memastikan agar integrasi ekonomi bermanfaat bagi bangsa kita. Perdagangan bebas yang kita inginkan adalah suatu sistem yang adil bagi semua anggota ekonomi APEC, bukan sekadar menguntungkan perusahaan besar. Usaha mikro, kecil, dan menengah merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia dan mereka sepatutnya mendapatkan kesempatan untuk berkompetisi.

Indonesia harus memanfaatkan kepemimpinannya di APEC tahun 2013 untuk mengajukan sejumlah agenda penopang kebijakan ekonomi nasional, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga interkonektivitas antara pusat kegiatan ekonomi dan pengembangan industri manufaktur untuk mengolah sendiri hasil bumi di Indonesia agar ekspor kita bernilai tambah.

Dalam KTT APEC kali ini Tim Indonesia memang layak diacungi jempol. Persiapan Panitia APEC dari Indonesia yang mantap, ditambah hampir seluruh delegasi Indonesia jarang absen dalam setiap forum. Hal ini disebabkan Indonesia termasuk negara ‘kunci’, karena pada tahun 2013 mendatang Indonesia didaulat sebagai tuan rumah APEC.

Jika Tim Indonesia dalam setiap forum internasional memiliki tingkat persiapan yang solid dan kompak seperti ini, tentu selain kepentingan nasional dalam tataran global bisa tercapai, citra positif Indonesia di mata dunia akan terangkat.  Welcome the next APEC 2013 in Indonesia. (**)

Penulis adalah Peneliti di Developing Countries Studies Center (DCSC) Jakarta

Komentar