Mengolah Limbah Menjadi Fulus Berlimpah

JAKARTA – Kebutuhan mengelola limbah belum redup. Banyak perusahaan berskala kecil-menengah yang belum memiliki tenaga pengolah. Pasar lain yang bisa dirambah dari jasa pengolahan limbah terbilang luas, seperti penjualan bahan kimia. Bisnis pengolahan limbah ibarat kopi luwak. Kendati tidak berarti bagi si penghasil, limbah justru mendatangkan berkah bagi mereka yang bisa mengolah.

Kebutuhan untuk mengelola limbah muncul karena belasan aturan, mulai dari undang-undang hingga keputusan menteri. Regulasi itu mengharuskan perusahaan, apa pun industrinya, mulai dari pabrikan, hotel, maupun rumah sakit, harus mengelola residu dari kegiatan operasi mereka.

Di kelompok jasa pengolahan limbah, paling populer adalah pengolahan limbah cair. Jasa pengolahan air limbah atau waste water treatment plant (WWTP) merupakan proses pengolahan limbah berbentuk cairan yang berasal dari proses produksi. Hasil pengolahan adalah cairan yang terbebas dari bahan kimia industri, hingga aman dibuang. Biasanya air hasil pengolahan limbah akan dibuang ke sungai atau saluran air di sekitar pabrik.

Saat ini nyaris semua industri menghasilkan limbah cair dalam kegiatan produksinya. Yang membedakan antara industri yang satu dengan yang lain adalah jenis limbah yang dihasilkan serta jenis pengolahan yang diwajibkan. Dan yang patut diingat, kewajiban mengolah limbah tak mengenal skala usaha. Baik korporasi kelas dunia ataupun perusahaan yang pasarnya hanya sekabupaten pun tetap wajib mengolah limbah.

“Hampir semua pabrik berskala besar sudah memiliki vendor pengolah limbah. Namun, banyak pabrik skala menengah-kecil yang belum,” tutur Saprudin Ade Mulyana, pemilik CV Prima Multi Guna, salah satu pengolah limbah cair.

Jangan lupa, pabrik besar juga bisa saja mencari pengelola limbah baru. Peluang itu muncul bisa jadi karena pengelola pabrik hendak meningkatkan kapasitas produksi. Pebisnis olah limbah cair juga bisa menawarkan jasa pengolahan air limbah toilet, atau sewage treatment plant (SWP). Pasar lain yang bisa digarap adalah pemasangan instalasi pengolah limbah cair.

Untuk ilustrasi saja, suatu pabrik skala menengah bisa menghabiskan sekitar  Rp300 juta–Rp400 juta untuk proyek perawatan dan pengolahan air limbah. Dari nilai itu, margin yang bisa dinikmati pengolah limbah 7%–10%.

Yang perlu diingat, itu baru proyek dari satu pabrik. Padahal, pengolah limbah bisa mendapatkan banyak proyek per tahun. “Dalam setahun, kami menangani 7 proyek–8 proyek,” ujar Roni Mulyana, pendiri CV Bidara Pratama, pengolahan limbah yang berpusat di Bandung. Nilai per proyek Bidara serupa dengan contoh di atas.

Kisah Prima Multi tidak berbeda. Perusahaan yang didirikan Ade pada 2009 itu, kini, bisa mencetak omzet hingga Rp900 juta per tahun. “Kisaran laba 20%–30% dari nilai proyek,” tambah Ade.

Dari pengalaman kedua perusahaan itu, bisa disimpulkan potensi balik modal bisnis ini terbilang cepat. Baik Ade maupun Roni mengaku memulai usaha ini dengan modal sekitar Rp20 juta–Rp30 juta. Jika margin bersih sekitar 7%–10%, dan rata-rata nilai proyek Rp200 juta–Rp300 juta, berarti, modal awal bisa kembali dalam tempo 2–3 bulan  saja.

Sebelum terjun ke bisnis ini, bukan aneka kualifikasi teknis yang Anda butuhkan, melainkan jaringan. Anda harus punya daftar calon konsumen sekaligus akses ke para teknisi di bidang teknik kimia, teknik sipil,  dan teknik lingkungan.

Ambil contoh Roni yang giat menjalin relasi dengan para akademisi dan praktisi di bidang pengolahan limbah cair dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Para praktisi akan berperan sebagai insinyur, konsultan dan controlling untuk kualitas axirnya. Kita tidak perlu mempekerjakan mereka sebagai karyawan tetap, tapi merekrut per kontrak,” tutur dia.

Untuk mendapatkan konsumen, memang tak ada jurus yang cespleng. Layaknya usaha jasa, pengolah limbah akan lebih mudah mencari klien jika sudah memiliki referensi. Entah dari sesama pengolah limbah, atau dari perusahaan yang pernah menggunakan jasanya.

Roni menyarankan, mereka yang terhitung wajah baru, menyiapkan proposal semenarik mungkin. Tentu, ukuran menarik di sini bukan soal tampilan presentasi, melainkan isi proposal yang detail. Sesuaikan isi proposal dengan industri calon klien, mengingat regulasi pengolahan limbah berbeda-beda untuk jenis usaha.

Berburu dari Amdal
Pebisnis pengolahan limbah juga bisa berburu informasi dari perencana bangunan. Biasanya, perencana bangunan memiliki informasi pabrik mana yang akan dibangun. Sumber informasi lain adalah para pejabat pemerintah daerah yang mengurusi soal lingkungan ataupun para peneliti analisis dampak lingkungan (amdal).

Setelah memiliki relasi dengan para teknisi, perencana bangunan dan peneliti lingkungan, Anda juga harus membangun jaringan ke pemasok bahan kimia yang dibutuhkan untuk mencuci limbah cair.

Bahan yang biasa digunakan adalah PAC dengan harga pasaran Rp12.000/kg, kapur dengan harga pasaran Rp9.000/kg, asam sulfat (H2SO4) yang harga pasarannya Rp 15.000/lt. Lalu, kain filter pres dengan harga pasaran Rp300.000–Rp700.000 per lembar. “Rata-rata pemakaian dalam sebulan, 100 kg PAC, 100 kg kapur, 100 liter H2SO4 dan 1 lembar–12 lembar kain filter pres,” tutur Ade.

Apabila usaha Anda sudah bergulir, ekspansi sangat mungkin terlaksana. Maklumlah, bisnis pengolahan limbah punya banyak lini yang saling terkait, mulai dari perencanaan teknik (engineering), pengadaan barang, jasa fabrikasi dan instalasi (kontraktor), serta perawatan (maintenance).

Roni menuturkan, banyak pabrikan yang sudah mampu mengolah limbahnya kadang mengorder bahan kimia serta pembaharuan sistem pengolahan limbah cair. Bidara sekarang membukukan penjualan obat kimia untuk pengolahan limbah cair, sebanyak 40 ton per bulan. Omzet dari penjualan bahan kimia di Bidara sekitar Rp300 juta–Rp500 juta, dengan margin keuntungan 20%–25%.

Jika Anda ingin masuk ke bisnis pemasangan instalasi pengolahan limbah cair, jalan termudah adalah menjalin relasi dengan kontraktor yang khusus menyediakan jasa tersebut. Para pelaku di bisnis ini biasanya memiliki spesialisasi, hingga membutuhkan mitra untuk kerja yang di luar keahliannya. Margin yang menjadi jatah subkontraktor bisa mencapai 20%.

Jika sudah yakin dengan prospek bisnis ini, sebaiknya  Anda menyiapkan isi kantong. Menyimak kisah awal Ade dan Roni, investasi awal pengolahan limbah terbilang terjangkau, sekitar Rp30 juta–Rp40 juta. Adapun biaya operasional per bulan bisa mencapai Rp25 juta. Di kelompok biaya operasional, yang bisa dihemat adalah pengeluaran untuk sewa kantor.

Saat pertama kali merintis bisnisnya, tahun 2008, Roni menyewa sebuah ruko berukuran kecil dengan tarif sekitar Rp15 juta per tahun. Ade lebih hemat lagi, karena menggunakan rumah sendiri.

Roni menambahkan bahwa pengolahan limbah tidak termasuk usaha yang perlu tampil wah. Ini artinya, pebisnis limbah tak perlu berkantor di gedung nan megah. (int/osi)