19 Daerah Hanya Satu Paslon

MetroSiantar.com – Pilkada serentak 2018 di sejumlah daerah bakal berlangsung kurang greget. Pasalnya 19 daerah jumlah pasangan calon yang mendaftar hingga Rabu (10/1) malam, pukul 22.00 masih tunggal. Kondisi ini membuat KPU setempat harus membuka pendaftaran kedua, agar pasangan calon yang mendaftar ada lawannya.

Jumlah calon tunggal tersebut jauh lebih banyak daripada dua pilkada serentak sebelumnya. Pada pilkada gelombang pertama 2015, hanya tiga daerah di antara 269 daerah pelaksana pilkada yang calon tunggal. Sedangkan pada pilkada 2017 angkanya meningkat menjadi sembilan meski daerah pelaksana hanya 101.

Komisioner KPU Ilham Saputra menerangkan, 19 daerah yang hingga pukul 22.00 memiliki satu calon tunggal sangat beragam. Ada yang di Jawa maupun luar Jawa. Di Provinsi Banten, di Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Lebak baru ada satu paslon yang mendaftar. Di Jawa Tengah, Kabupaten Karanganyar juga mencatat hanya satu pasangan cabup-cawabup.

Di Jawa Timur, hanya satu paslon yang mendaftar juga terjadi di Kabupaten Pasuruan yaitu Irsyad Yusuf/Mujib Imron. Di luar Jawa, kondisi itu terjadi di Minahasa Tenggara di Sulawesi Utara dan Prabumulih (Sumatera Selatan).

Ilham menjelaskan, sebagaimana ketentuan UU Pemilu dan putusan Mahkamah Konstitusi, KPU diwajibkan membuat pilkada bisa diikuti lebih dari satu paslon. Karena itu, bagi daerah dengan calon tunggal, pihaknya akan membuka pendaftaran lagi. “Kita jeda tiga hari untuk sosialisasi dan memberikan kesempatan bagi koalisi partai,” imbuhnya. Seusai jeda tersebut, KPU akan kembali membuka pendaftaran selama tiga hari.

Sebagaimana ketentuan PKPU pencalonan, jika jumlah kursi partai tersisa masih memungkinkan dilakukannya pengusungan calon tambahan, koalisi partai yang sudah mendaftar tidak boleh diubah. Namun, jika jumlah kursi partai tersisa tidak memenuhi syarat pengajuan calon, koalisi paslon yang sudah mendaftar bisa diubah.

Hanya, jika selama masa pendaftaran tiga hari tetap tidak ada paslon tambahan, pilkada dilanjutkan dengan mekanisme calon tunggal. Dalam surat suara nanti masyarakat memilih calon tunggal atau kotak kosong di sebelahnya. Kalau kotak kosong mendapatkan lebih banyak suara, kepala daerah akan ditentukan dalam pilkada serentak berikutnya.

Sementara itu, Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi menjelaskan, tren meningkatnya calon tunggal disebabkan banyak faktor. Selain komitmen partai, beratnya syarat calon perseorangan bisa disebut sebagai salah satu penyebabnya. “Syaratnya kan diubah dari 3 persen sampai 6 persen menjadi 6,5 sampai 10 persen,” ujarnya. (far/c9/ang)