Premium Langka di Tanah Jawa

Ilustrasi
Ilustrasi

MetroSiantar.com, TANAH JAWA – Sudah seminggu terakhir bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium langka di Kecamatan Tanah Jawa dan Kecamatan Hutabayuraja. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) selalu kehabisan premium walau konsumen datang di pagi hari. Kelangkaan premium menyebabkan sejumlah kegiatan warga menjadi terkendala.

Agus Situmorang (45) alias pak Jorri, penderes tuak warga Huta Ujung Majawa Nagori Muara Mulia kepada METRO SIANTAR, Minggu (16/4) mengatakan, aktivitas menderes dan mengantar tuak kepada pelanggan terganggu karena minyak bensin kosong. Sebab para pedagang eceran bensin di kampungnya sudah sering tidak jualan. Akibatnya mencari bensin susah. “Kalaupun dapat cuma 2 liter saja. Paling bisa 2 sampai 3 hari,” keluh Agus Situmorang.

Hal senada diungkapkan warga lainnya, Benget Simangunsong (46) alias pak Mita. Warga Huta Parbeohan Nagori Buntu Turunan Kecamatan Hatonduhan ini mengatakan sudah 3 hari ia tidak jualan sayur keliling kampung. Sebab BBM premium sulit didapat pada pedagang eceran.

“Kalaupun ada, namun harga yang ada di tingkat pengecer mencapai Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per liter,”katanya.
Benget merasa heran, BBM premium yang seharusnya ditujukan untuk masyarakat kecil dan menengah masih banyak digunakan oleh masyarakat kalangan atas yang mengendarai mobil mewah. Padahal ada jenis BBM yang lebih mahal sedikit, ditujukan untuk masyarakat kalangan atas yang tidak memerlukan subsidi lagi.

“Bensin itu khan harusnya hanya untuk masyarakat kecil, mobil penumpang umum, bukan untuk mobil mewah. Namun kenyataannya mobil mewah juga masih menggunakan bensin, pemerintah atau pihak SPBU harusnya membuat aturan tegas,”kata Benget.

Di tempat terpisah, pedagang bensin eceran, Torong Nainggolan (43) warga Huta Saloksok Nagori Bosar Galugur mengatakan, sudah 4 hari tidak jualan bensin. Sebab setiap pergi ke SPBU selalu tidak kebagian.

“Jika membeli BBM Pertamax , lambat habisnya. Lagian pun BBM Pertamax terbatas di SPBU Balimbingan,”katanya.

Sementara itu, pengawas SPBU Balimbingan M Samosir tidak berhasil ditemui di kantornya. Pesan singkat yang dikirimkan mempertanyakan penyebab BBM premium langka, juga tidak dibalas.

Para pekerja SPBU Balimbingan enggan memberi komentar ketika ditanya seputar kelangkaan premium.
“Bukan wewenang kami memberi komentar,”kata salah satu pekerja. (iwa)