Hidup di Sulang Aling Serba Sulit, Anak, Banyak Putus Sekolah

(foto/dok)
Warga Sulang Aling saat menyeberangi sungai Batang Gadis.
(foto/dok)

MetroSiantar.com,Madina – Ribuan warga di Desa Ranto Panjang, Lubuk Kapundung 1, Lubuk Kapundung 2, dan Desa Sale Baru sangat membutuhkan bantuan dan perhatian khusus dari pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Untuk tiba di ke empat desa itu harus melewati jalur sungai dan memerlukan waktu tempuh selama kurang lebih enam jam dan  biaya untuk menyeberangi sungai Batang Gadis juga cukup mahal dan mencapai ratusan ribu rupiah per orang.

Di sisi lain, infrastruktur jalan penghubung dan sarana atau fasilitas umum lainnya juga masih cukup memperihatinkan. Akibatnya hasil bumi dari Sulang Aling sangat sulit untuk diangkut. Kondisi ini menyebabkan harga hasil bumi masyarakat setempat jauh berbeda dibandingkan hasil bumi desa lainnya.

“Belum lagi berbicara soal kondisi pendidikan, banyak anak-anak yang tidak sekolah akibat tidak ada biaya. Untuk melanjutkan sekolah, mereka harus merantau jauh dari orang tua. Sementara penghasilan orang tua di sini tidak memadai untuk membiaya anaknya melanjutkan sekolah. Kondisi inilah yang dialami masyarakat selama puluhan tahun,” ujar tokoh masyarakat yang berasal dari Sulang Aling H Amiruddin Nasution saat bincang-bincang dengan Metro Tabagsel, Selasa (3/1) di Panyabungan.

Anggota DPRD Madina dari Partai Persatuan Pembangunan itu mengungkapkan, kondisi kehidupan masyarakat di Sulang Aling sudah sering disampaikan kepada Pemerintah Daerah. Namun sampai sekarang masih sebagian pembangunan yang terealisasi, dan masih banyak hak-hak hidup masyarakat yang tidak mereka peroleh.

(foto/dok)

(foto/dok)

“Kita cukup prihatin melihat kehidupan masyarakat di sana. Sulang Aling bukanlah pemukiman baru, tetapi sudah ada jauh sebelum negara kita merdeka. Artinya, sejak zaman penjajahan sampai sekarang masyarakat masih hidup di alam serba kesulitan,” ungkapnya.

Terpisah, Sekretaris PC Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Madina Kobol Nasution, juga menceritakan pahitnya hidup yang dialami masyarakat Sulang Aling.

Kobol berharap, Pemerintah Daerah baik Pemkab Madina maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengalokasikan anggaran yang cukup untuk membangun infrastruktur jalan penghubung antar desa maupun jalan sentra produksi pertanian di wilayah Sulang Aling, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kami tidak henti-hentinya berharap supaya pemerintah membuka mata, memberikan perhatian serius untuk masyarakat Sulang Aling. Sudah puluhan tahun kami hidup tertinggal. Untuk merubah nasib, kami harus rela terpisah dengan keluarga, karena disana akses pendidikan sangat sulit,” sebut Kobol yang juga putra asli Sulang Aling. (wan)