Oknum Anggota Polres Siantar Pukul Anak Polisi Simalungun

[FOTO: PRA EVASI HALOHO]
Marulitua Silalahi saat dirawat di RS Umum Djasamen Saragih, Sabtu (5/1).

SIANTAR – Seorang anggota Polres Siantar Aiptu Darwin Bangun, dilaporkan ke Mapolres Siantar karena melakukan pemukulan terhadap Marulitua Silalahi (23) yang juga merupakan anak anggota Polres Simalungun. pemukulan itu dilakukan, di komplek Asrama Polisi (Aspol), Jalan Asahan, Sabtu (5/1) pukul 02.00 WIB.

Akibat pemukulan tersebut, korban yang berstatus mahasiswa di Medan itu terpaksa harus dirawat di RS Umum Djasamen Saragih.

Kepada METRO, ibu korban Erlina br Silalahi menceritakan bahwa anaknya bukan hanya dipukuli pelaku, namun korban mendapat penghinaan yang mana telah dituduh berselingkuh dengan istrinya polisi tersebut bernama Evi br Pasaribu. Sehingga pihaknya sangat terpukul atas tindakan yang main hakim sendiri.

“Saat kejadian, aku lagi di Tiga Dolog dan suamiku juga lagi dinas di Perdagangan. Makanya kami sangat terkejut mendengar laporan anakku pagi-pagi buta mengatakan dia telah dipukuli,” ujar Erlina dengan kesal.

Kemudian, korban pun meceritakan awal kejadiannya. Di mana saat itu dia baru saja pulang dari rumah kelaurganya di Jalan Kertas. Saat melihat istri pelaku Evi br Pasaribu sedang berdiri bersama temannya Iska Hutagalung yang juga tinggal di Aspol, korban mengantar sepedamotornya ke rumah. Dia kemudian menemui Evi br Pasaribu.

Korban pun bertanya kepada Evi br Pasaribu kenapa masih di luar, padahal sudah larut malam. Saat itu Evi mengatakan kalau dia sedang bertengkar dengan suaminya. Lalu saat itu juga, Aiptu Darwin Bangun keluar rumah dan memanggil istrinya supaya masuk. Korban juga pulang ke rumahnya yang hanya berjarak sekitar 40 meter.

Akan tetapi, oknum polisi yang bertugas di Polsek Siantar Selatan ini ternyata menemui korban yang masih di depan rumahnya. “Saat itu aku ditanya, mana namanya Tua, lalu aku jawab aku sendiri. Dan langsung saja aku dupukulinya berkali-kali,” ujar korban.

Beruntung saat kejadian itu, Iska Hutagalung langsung datang dan menenangkan Darwin Bangun.
Korban yang tidak terima dihina dan dipukuli, saat itu juga langsung membuat laporan pengaduan ke Mapolresta Siantar. Akan tetapi oleh petugas Provos menganjurkan supaya melapor didampingi orangtuanya.

“Yang melihat aku dipukuli, sepupuku Karlos Simangunsong dan dia juga menjadi saksi,” kata korban.

Esok paginya, setelah orangtuanya datang, mereka pun resmi membuat pengaduan ke Mapolresta Siantar.

“Yang lucunya, masa dituduh aku berselingkuh dengan istrinya. Padahal saat itu niatku hanya menanyakan kenapa masih di luar. Tapi kok jadi lain pikirannya,” kesal korban.

Terpisah, saat Darwin Bangun ditemui di rumahnya, mengaku bahwa malam itu dia khilaf dan hanya emosional sesaat saja. Dari keterangannya, saat itu dia terbangun dan melihat istrinya tidak ada. Setelah dilihat keluar, dia melihat istrinya sedang ngobrol dengan korban.

Dia kemudian menyuruh istrinya masuk rumah dan manaruh curiga kepada korban, sehingga berujung ke pemukulan.

“Aku memang keliru dan terlalu cepat emosi. Selama ini hubungan kami baik saja,” ujar Darwin.
Pada kesempatan itu juga, istrinya Evi br Pasaribu mengaku ketika itu dia sedang bertengkar dengan suaminya dan untuk menenangkan diri dia keluar ke halaman rumah sebentar.

“Aku juga sudah nasehati dia, tapi selalu saja emosi. Dia ini bukannya minum, tapi  karena baru bangun aja,” kata Evi br Pasaribu.  Ditanya apa reaksinya setelah kasus tersebut telah dilapor, Darwin mengaku hanya berharap agar pihak kelurga korban bersedia memafkannya dan akan mencoba menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan.

“Aku akui saat itu khilaf dan salah sangka. Makanya aku tidak tahu harus bilang apa lagi,” katanya.
Sementara itu, Kasat Reskim AKP Daniel, mengaku belum mengethui informasi tersebut dan menyarakan dikonformasi ke KBO Reskrim Iptu Asmon. Kanit Reskrim Iptu Sugeng membenarkan adanya laporan tersebut dan sedang diproses.

Namun korban mengaku bahwa dia telah membuat laporan pengaduan lewat SPKT dan telah melampirkan nama saksi-saksinya. “Tapi aku lihat kenapa pasalnya 352 KUHPidana, kenapa mereka anggap kasus ini ringan,” ujar Erlina br Silalahi yang suaminya Aipda Halomoan Togatorop petugas Unit Lantas Perdagangan. (pra)

Komentar