Oknum PNS Hamili Pacar

PANDAN – Seorang PNS di Dinas Perhubungan Tapteng berinisial DSG diduga menodai pacarnya NES hingga hamil 8 bulan. Namun DSG menolak bertanggung jawab. Akibatnya dia dilaporkan korban ke Mapolres Tapteng, Senin (11/2).

Kepada METRO, NES mengaku, sudah pernah membicarakan masalah tersebut dengan pria yang dicintainya itu saat kandungannya berusia dua bulan. Tetapi, DSG sengaja menolak seolah tidak ingin mempertanggung jawabkan. Bahkan DSG sempat menyarankan korban agar menggugurkan janin yang ada di kandungan korban.

“Saya sudah berupaya menjelaskan ke dia (DSG, red) perihal kehamilanku ini. Tetapi dia mengelak. Bahkan, dia menyarankan aku menggugurkannya,” kata NES seraya mengatakan, Juni lalu baru mengetahuinya positip hamil.

Meski kehamilannya di luar nikah, namun NES tetap berusaha menjaga kandungannya hingga usia 8 bulan. Bahkan, saat diperiksakan ke dokter, diperkirakan bayi laki-laki dalam kandungannya akan lahir awal Maret mendatang.

“Marga apalah anakku ini nanti? Apa jawabanku kepada semua saudara dan teman-teman sekampungku?” keluh NES sambari mengelus-elus perutnya.

Diceritakan NES, sebelum peristiwa itu terjadi, tujuh tahun lalu, mereka resmi menjalin hubungan atau pacaran sejak tahun 2006. Saat itu, NES baru tamat SMA dan janjian bertemu di Ketapang, Sibolga. Beberapa bulan kemudian sejak resmi pacaran, NES pun rela melepaskan kesuciannya kepada DSG karena dia sangat mencintai pria itu. Satu tahun kemudian, karena butuh pekerjaan yang layak, NES berangkat ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Tak lama di Jakarta, NES diterima di salah satu perusahaan elektronik di Bekasi.

“Saat itu komunikasi kami masih baik. Hingga akhirnya DSG diberikan kesempatan untuk mendapat pendidikan tata negara di Bandung pada tahun 2009. Sejak kedatangannya ke Bandung, kami sering bertemu dan melakukan hubungan suami istri itu lagi. Kadang saya yang ke Bandung, kadang DSG yang datang ke Bekasi,” jelas NES.

Demikian selanjutnya hingga pertemuan itu membuat NES hamil. Begitu telat dua bulan, NES lalu menceritakan hal itu ke DSG dengan harapan janin itu bisa mempersatukan keduanya. Namun bukan berita baik yang didapat NES. Justru sebaliknya. NES mulai dijauhi DSG. Bahkan sejak kabar itu, hubungan mereka mulai renggang. DSG beralasan bahwa dia tidak lagi cinta kepada NES dan sudah punya wanita lain.

“Karena saya tahu saat itu dia (DSG, red) sedang ujian akhir pendidikannya, aku tidak bisa memaksakan. Meski berat, aku terpaksa bersabar dengan apa yang aku alami,” isaknya wanita ini.

Tepatnya, Oktober 2012, kuliah DSG selesai dan pulang ke Tapteng untuk kembali bekerja di Dinas Perhubungan. Lagi-lagi, NES tidak mau menanggung aib sendiri, dia kembali mencoba dan memberikan pengertian terhadap DSG. Saat itu, NES bak disambar petir karena tiba-tiba DSG mengatakan bahwa janin yang ada di kandungan NES bukanlah anak kandungnya.

“Desember 2012 aku pulang ke kampung dan menceritakan yang sebenarnya kepada keluarga. Oleh keluarga menyarankan aku menemui siapa ayah bayi yang kukandung ini. Kemudian, aku menemui dia lagi. Tetapi, begitu ketemua, dia tidak mengaku kalau bayiku ini bukan anaknya. Sudah berbagai cara aku lakukan. Baik secara kekeluargaan juga sudah, menemui Kepala Dinasnya juga sudah. Bahkan ke BKD.

Namun DSG tetap tidak mau bertanggung jawab. Karena sudah buntu, terakhir aku melaporkan hal ini ke polisi. Saya berharap, dengan laporan itu mendapat keadilan. Namun, lagi-lagi polisi menyarankan agar kami berembuk sebelum masalah ini diproses,” beber NES.
Kepala Dinas Perhubungan Tapteng Binton Simorangkir yang dikonfirmasi terkait keterangan NES, mengakui sudah mendengarkan permasalahan ini. Namun salah satu stafnya yang dituding yaitu DSG tidak mau bertanggung jawab.

“Benar, seorang wanita bernama NES datang dan mengadu ke kita. Wanita itu sedang hamil tua. Namun itu kita pertanyakan ke DSG, dia tidak mau mengakui bahwa anak dalam kandungan wanita itu adalah anaknya. Hanya saja, dia mengakui, saat dia pendidikan di Bandung, mereka pernah berhubungan suami istri di kamar kosnya di Bandung. Namun DSG tidak yakin kalau anak dalam kandungan NES itu adalah anaknya,” ujar Binton saat dikonfirmasi melalui selulernya.

Saat itu, lanjut Binton, mereka menyarankan agar permasalahan tersebut diselesaikan secara kekeluargaan. Namun tidak terwujud juga. “DSG sendiri kita undang untuk dikonflontir langsung dengan NES, tak bersedia datang. Alasan DSG tak mau dipertemukan, karena NES baru memberitahukan setelah usia kandungannya lima bulan. Itu lah yang membuat DSG tidak yakin bahwa anak yang dikandung NES adalah anaknya. Hanya saja DSG memang mengaku pernah melakukan hubungan suami istri itu,” terangnya.

Berbeda dikatakan DSG. Dia yang diwawancarai melalui selulernya mengaku tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan NES. Katanya, bila anak dalam kandungan NES memang anaknya, mengapa NES dari awalnya tidak pernah memberitahukan hal itu. “Setelah usia kandungannya 5 bulan, baru saya diberitahu dan diminta bertanggung jawab. Wajar kalau kita tidak percaya dan curiga,” kilah DSG.

Ditanya pengakuan NES yang mengaku telah memberitahukan kehamilannya setelah usia kandungannya dua bulan, DGS membantah. Dia mengaku tidak pernah dapat informasi itu. Ditanya apa tanggapannya terhadap laporan NES ke polisi, DSG mengaku tidak percaya.

“Terserah apa yang mau dia bilang ke Polisi. Yang jelas bagaimana mungkin saya bisa percaya, selama 5 bulan kami tidak ada komunikasi, tiba-tiba setelah usia kehamilannya 5 bulan baru saya diberitahu kalau dia sedang hamil. Terserah dia lah mau melaporkan apa. Tetapi saya tidak yakin kalau dia melaporkan hal ini ke Polisi,” pungkasnya.  (fred/des)