Pemerkosa dilepas Korban Ngamuk di Polres

 

(FOTO: NIKO)Petugas penyidik adu mulut dengan keluarga korban pencabulan.

(FOTO: NIKO)
Petugas penyidik adu mulut dengan keluarga korban pencabulan.

RANTAU– Tak senang majikan yang telah mencabulinya dibebaskan pihak kepolisian, IZ (19), seorang pembantu rumah tangga asal Kabupaten Gunung Sitoli, Nias ini mengamuk histeris di Mapolres Labuhanbatu, Rabu (8/8) siang, sekitar pukul 13.00 WIB.

Pantauan METRO, kejadian itu bermula ketika IZ dan keluarganya mendatangi ruang UPPA Polres Labuhanbatu untuk menemui petugas penyidik Aipda Rosvina sembiring yang menangani kasus tersebut. Di ruangan itu, IZ dan keluarganya kemudian mempertanyakan alasan pihak kepolisian membebaskan majikannya T  Waruwu yang telah dijadikan tersangka. Namun karena tidak terima dengan jawaban petugas penyidik itu, IZ dan keluarganya kemudian mengamuk di kantor tersebut.

“Berapa kalian rupanya dibayar hingga kalian bebaskan tukang cabul itu,” teriak IZ didampingi keluarganya. Tak hanya itu, IZ kemudian menangis histeris di lantai ruang UPPA Polres Labuhanbatu tersebut. “Mana keadialan itu, mentang-mentang aku seorang pembantu,” ujarnya sambil menangis.

Melihat kejadian itu, sejumlah petugas langsung membawa IZ dan keluarganya ke ruangan Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu AKP Wahyudi. Wakapolres Labuhanbatu Kompol Yusuf Syafruddin yang dicoba dikonfirmasi terkait pembebasan tersangka cabul itu enggan berkomentar. “Tanya sajalah sama Kabag Humas,” katanya.

Namun dari keterangan keluarga korban menyebutkan, jika pihak kepolisian telah membebaskan tersangka T Waruwu dengan alasan kurangnya saksi dalam kasus tersebut, hingga berkasnya dikembalikan pihak kejaksaan atau masih P19. Karena masa penahanan tersangka telah habis, pihak kepolisian pun kemudian membebaskan tersangka yang sempat ditahan itu. “Itulah alasan polisi kepada kami,” ujar Folala Zebua (39), salah seorang keluarga korban.

Menurut Folala, alasan pihak kepolisian itu sungguh tidak tepat hingga tersangka cabul itu dibebaskan. Karena katanya, pihak kepolisian masih bisa melakukan penambahan masa penahanan sembari mencari saksi lain agar berkas tersebut lengkap atau P21.

“Karena kita sudah diskusi dengan bapak Kajari Rantauprapat. Katanya, polisi masih punya waktu dengan melakukan penambahan masa penahanan untuk melengkapi berkas tersebut,” ungkapnya. Folala menilai, Polres Labuhanbatu tidak serius dalam menangani kasus pencabulan itu hingga tidak menemukan saksi lain untuk melengkapi berkas perkara tersebut.

“Karena korban sudah mengatakan kepada penyidik kalau ada saksi lain bernama Alvina, yang juga pembantu rumah tangga di rumah tersangka. Tapi sampai sekarang polisi belum juga menemukan saksi itu,” terangnya. Anehnya, tambah Folala, pihak kepolisian malah menyuruh ia dan keluarganya untuk mencari sendiri saksi tersebut.

“Masak kita yang malah disuruh cari si Alvina itu. Kan nggak mungkin kalau kita menggrebek rumah si Waruwu itu, karena kita bukan polisi. Ada-ada saja,” ucapnya. Seperti diberitakan sebelumnya, seorang pembantu rumah tangga sebut saja namanya IZ (19) asal Kabupaten Gunung Sitoli, Nias, dicabuli majikannya T Waruwu (45) warga Desa Leidong Timur, Kecamatan Aek Kuasan Kabupaten Asahan. Parahnya, setelah diperawani oleh majikannya itu, IZ dipaksa “main tiga,” dengan Yuni (35) istri dari T Waruwu.

Informasi yang dihimpun dari korban, aksi pencabulan yang dilakukan Waruwu terhadap IZ sudah dilakukan sejak awal Januari 2012 lalu. Saat itu IZ baru tiga hari bekerja menjadi pembantu rumah tangga di rumah Waruwu yang seharinya bekerja sebagai kontraktor di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Labura.

“Aku pertama kali di perkosanya di hari ketiga bekerja di rumahnya sebagai pembantu,” ujar korban. Diceritakannya, malam itu, sekitar pukul 23.00 WIB, Waruwu secara tiba-tiba memasuki kamar tidurnya dan mencoba memperkosanya. IZ pun mencoba melawan. Namun saat itu, ia kalah kuat. Akhirnya Waruwu berhasil mengerenggut keperawanan IZ.

“Malam itu saya di perkosanya dan tak sanggup melawan. Mulut saya di sumpel pakai tangannya,” ungkapnya. Keesokan harinya, IZ kemudian melaporkan tindakan Waruwu kepada Yuni (Istri Waruwu, red). Namun, laporan IZ malah ditanggapi dingin. Parahnya, Yuni malah menyarankan kepada IZ agar tidak menolak jika diajak berhubungan badan dengan suaminya.

“Kata Buk Yuni, saya harus mau melayani suaminya,” katanya.  Sejak itu, tindakan Waruwu semakin menjadi–jadi. Majikannya itu kerap kali memaksa IZ untuk melayani nafsu birahinya. Bahkan pengakuannya, ia pernah melayani nafsu majikannya itu bersama-sama istri Waruwu di dalam kamar tidur  majikannya tersebut.

“Sudah ada tiga kali kami main tiga. Aku dan istrinya bersama-sama melayani nafsu majikanku itu,” terangnya. Merasa tak tahan dengan prilaku pasangan suami istri tersebut, diakhir Mei 2012, IZ kemudian menceritakan prilaku majikannya itu kepada Palia (22), seorang wanita pekerja salah satu grosir sembako yang berlokasi tak jauh dari kediaman majikannya itu. Palia yang merupakan warga Damuli, Kabupaten Labura tersebut lalu membawa IZ kabur dari rumah majikannya itu.

“Dia kubawa kabur ke rumah kawanku di Aek Kanopan. Kemudian kami melapor ke Polsek Kualuh Hulu,” ujar Palia, Selasa (3/7) di Mapolres Labuhanbatu. Selain melaporkan Waruwu kepada polisi, Palia juga melaporkan peristiwa yang dialami IZ kepada Wakil Ketua Persatuan Marga Zebua Labuhanbatu Folala Zebua, yang kemudian mendampingi korban melapor hingga ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Labuhanbatu.

Sementara Kapolres Labuhanbatu melalui Kanit UPPA Polres Labuhanbatu Ipda O Galingging mengatakan pihaknya telah mengamankan Waruwu sebagai tersangka dalam kasus pencabulan tersebut. “Tersangka sudah kita tangkap dan masih kita periksa,” ujarnya singkat. (cr1)