Pendidikan Kita Kini, Masa Depan Anak-anak

Banyak orang percaya, dunia pendidikan mendekatkan kita pada tujuan dan capaian dunia dan akhirat.Pendidikan hampir selalu menjadi pertimbangan bagi pergerakan dan perkembangan manusia, terutama dalam hubungannya dengan profesi atau dunia kerja.

Dapat diamati, tingkat pendidikan pun selalu mengikuti kebutuhan akan kompetensi dan kompetisi lapangan. Jika sebelumnya cukup sekolah dasar atau sekolah rakyat untuk jabatan tinggi, kemudian naik menjadi sekolah lanjutan. Semakin banyak orang memiliki akses sekolah lanjutan, semakin tinggi pula kriteria yang ditetapkan pasar kerja.

Bahkan, untuk dunia pendidikan tinggi, setelah persyaratan tingkat master, akan segera diikuti dengan kenaikan level untuk mereka yang bergelar doktor yang bisa mengisi kebutuhan tenaga pendidik di perguruan tinggi. Sepertinya Indonesia masih mengikuti langkah-langkah yang sudah dilakukan oleh sejumlah negara yang lebih dahulu menerapkan tingkat pendidikan ini.

Akan tetapi, kompetensi dan kompetisi akan menciptakan kondisi kinerja yang lebih baik, sumber daya manusia yang lebih unggul. Dengan catatan, proses pendidikan itu sendiri terjamin mutunya, integritas keilmuan yang terjaga, dan mengupayakan proses pendidikan sebagai bentuk dari proses membangun kemanusiaan manusia.

Jika pendidikan sudah dijadikan sebagai modal dagang, karena pengelolanya melihat kompetisi ini sebagai lahan bisnis yang cerah, dengan menomorsekiankan misi dasar pendidikan, maka pendidikan hanya akan mengkhianati kemanusiaan. Sebagai kebutuhan dasar dan sudah dilaksanakan sedemikian lama, sistem pendidikan idealnya sudah mendapatkan model yang mapan.

Akan tetapi, yang dihadapi dari waktu ke waktu tidak lain mengubah kurikulum, bahan ajar, sarana dan prasarana, dan segala macam yang menghabiskan biaya dan waktu.Ditambah lagi, kita mendapatkan angin segar dengan adanya keharusan dan kewajiban penyediaan anggaran pendidikan Indonesia yang mencapai 30% dari APBN atau APBD, idealnya pendidikan akan menjadi lebih baik, tidak lagi memikirkan kekurangan sumber pembiayaan yang menguras energi. Apa yang terjadi di lapangan bisa jadi sebaliknya.

Selalu muncul masalah, seperti SBI/RSBI yang dibatalkan, korupsi dana pendidikan, buku ajar yang bermasalah materinya, mahalnya SPP dan pungutan liar, penyunatan dana sertifikasi, hingga kemudian masalah-masalah administrasi yang semakin ketat. Bagi masyarakat luas, khususnya orang tua, pendidikan menjadi persoalan utama.

Tuntutan persoalan di atas menjadi pokok pikiran rata-rata mereka. Banyak orang setuju bahwa pendidikan bagi anak-anak merupakan modal dasar dan investasi yang harus dilakukan, agar anak-anak mereka mendapat tempat yang bagus di masa depan. Harapan mereka tertumpu pada negara, yang berkewajiban menyediakan akses dan sarana pendidikan. Transisi kompetisi pasar kerja yang dikaitkan dengan level pendidikan ini telah memaksa masyarakat untuk bekerja keras mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

Dunia bisnis juga memahami ini dengan produk-produk asuransi pendidikan, layanan jasa memperoleh dan menyelesaikan pendidikan, kursus, atau konsultasi. Nyatanya, tidak sedikit yang menggunakan dan memanfaatkannya. Investasi yang luar biasa, bila dilihat fenomena ini sebagai wajah pendidikan kita dewasa ini.

Kenyataan yang ada, kompetisi ini datang terlalu dini, sebelum pendidikan itu sendiri merata di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Sering kali perubahan kebijakan di dunia pendidikan kita terjadi bahkan ketika kebijakan itu belum sepenuhnya terlaksana. Kita terus mengalami percobaan-percobaan, yang hanya berakibat buruk bagi pendidik, anak didik, dan pengelola pendidikan. Apa yang menjadi perhatian utama dalam bidang pendidikan haruslah dilaksanakan, sebelum mengubah berbagai hal yang mungkin saja bisa dilaksanakan kemudian.

Gedung-gedung dan ruang kelas yang masih belum cukup dan rusak, tenaga pendidik yang masih kurang, fasilitas sekolah dan perguruan tinggi yang jauh dari memuaskan, perpustakaan yang minim. Perbaikan pada sarana ini menjadi investasi pemerintah yang harus dilaksanakan segera dan terus menerus.Dosen dan Peneliti di Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand.

Bagi masyarakat, yang dilayani hak-haknya untuk menciptakan generasi yang cerdas, kebingungan akan perubahan pendidikan ini harus dikurangi. Misalnya saja dalam menghadapi ujian nasional yang sekarang menjadi bagian penting dalam usaha anak didik masuk ke perguruan tinggi, harus diberikan kesempatan dan suasana yang nyaman bagi mereka yang mengikuti ujian.

Contoh kecil mungkin dapat kita pelajari dari Korea Selatan, yang kualitas pendidikannya termasuk salah satu yang terbaik di dunia. Ketika ujian nasional berlangsung, hampir semua lapisan masyarakat mendukungnya. Siswa-siswa yang berada di kelas bawah akan bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan dan membawanya ke sekolah untuk dihidangkan bagi siswa yang akan mengikuti ujian.

Kantor-kantor dibuka lebih lambat dari biasanya agar jalanan tidak macet ketika siswa berangkat pagi hari. Klub-klub motor besar membantu memberi tanda bagi pengendara agar memberikan kesempatan bus berjalan lancar. Membantu mereka yang membutuhkan tumpangan ke sekolah. Ibu-ibu berdoa di tempat ibadah selama ujian berlangsung. Dan demikian hingga anak-anak pulang dan mengikuti ujian hingga selesai.

Contoh ini mungkin ganjil bagi dunia pendidikan yang berlandaskan kapitalisme, karena penuh dengan semangat dan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan sebagai investasi berharga bagi masa depan siswa dan kita semua ternyata harus dibarengi dengan semangat kemanusiaan, menjadikan siswa dan masyarakat luas memahami arti dan tujuannya. Dunia dan pasar kerja mungkin telah memengaruhi dunia pendidikan, tetapi kemanusiaan haruslah menjadi semangat dasar dari pendidikan itu sendiri.

Pasar kerja akan sangat terbantu ketika semangat seperti ini tumbuh dan berkembang, dengan pelaku-pelaku usaha yang memiliki nurani dan nilai kemanusiaan. Pasar kerja bisa jadi berkembang dan berubah, karena tuntutan konsumen dan perkembangan teknologi. Akan tetapi, pendidikan tetap menjadi ranah yang berproses terus menerus, dari generasi ke generasi, merangkum berbagai kepentingan, dan juga kepentingan pihak yang mencari untung.

Pendidikan sebagai instrumen yang dimanfaatkan banyak orang, untuk menggantungkan masa depan generasi berikutnya, memiliki dimensi kekinian dan masa depan. “Kemewahan” yang pernah dirasakan oleh banyak orang yang pernah mengenyam pendidikan beberapa tahun lalu merupakan cermin yang dapat dilihat kembali sekarang. Posisi apa yang didapatkan sebagian kita, salah satunya tersebab karena pendidikan.

Tidak mustahil juga kita bisa menoleh apa yang kurang dan lebih dari pendidikan yang selama ini dialami, untuk diteruskan dan diperbaiki. Kegelisahan akan muatan lokal atau pendidikan pekerti dan etika, bukankah karena perubahan lingkungan sosial budaya, yang mesti ditanggung oleh institusi pendidikan? Beban pendidikan semakin berat, karena apa yang seharusnya dipikul masyarakat kini dibe­bankan pada pendidikan. Sementara masa depan terus menunggu, alangkah lebih baik bila kini kita berbenah. (*)
Dosen dan Peneliti di Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand