Penyebab Ayam Mati Mendadak di Siantar

Bukan Flu Burung Tapi Faktor Cuaca

JAJANAN BUKAAN-Hari pertama bulan puasa, warga Kota Siantar khususnya umat Islam memadati tempat penjualan makanan bukaan berbuka puasa. Seperti terlihat di Jalan Ahmad Yani Pematangsiantar. Foto dijepret Rabu (10/7)

SIANTAR- Setelah dilakukan penelitian, ternyata penyebab kematian puluhan ekor ayam secara mendadak di Kelurahan Bah Kapul, Siantar Sitalasari dan di Kelurahan Siopat Suhu, Siantar Timur bukan karena flu burung, melainkan sesuatu penyakit yang kerab menyerang unggas bila pergantian musim.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Siantar Robert Pangaribuan, Rabu (10/7) ketika dikonfirmasi METRO mengaku, hasil uji laboratorium dengan mengambil sampel bangkai ayam milik Kobul Tambunan, terbukti negatif terinfekssi virus Flu Burung (H5N1).

Virus penyebab kematian ayam-ayam itu biasa menyerang unggas bila pergantian musim dari panas jadi dingin.

“Setelah diambil sampel satu ekor ayam milik warga, lalu diperiksa dokter di dinas kita, negatif virus flu burung,” kata Robert.

Dengan aadanya laporan dari warga dan kelurahan, pihak Distanak melakukan dua langkah. Pertama dilakukan sterilisasi lokasi matinya ayam. Kemudian pengambilan sampel ayam yang mati untuk diperiksa.

“Kematian ayam lebih karena akibat perubahan iklim.  Jika biasanya cuaca panas lalu mendadak hujan beberapa hari, mengakibatkan ayam mati mendadak,” katanya lagi.

Begitupun Robert  Pangaribuan meminta warga Pematangsiantar, jika menemukan ada ayam peliharaan yang mati mendadak, sebaiknya segera dilaporkan ke pihkanya agar bisa dilakukan tindakan preventif.

Informasi dihimpun METRO, ciri-ciri kematian ayam yang mati mendadak di Jalan Bulu Raya, Kelurahan Siopat Suhu, Siantar Timur tak ubahnya seperti penyakit pada ayam ternak milik Kobul Tambunan (65), warga Jalan Batu Permata Raya, Kelurahan Bah Kapul, Siantar Sitalasari. Hanya hitungan jam, ayam tersebut mati satu persatu dan ditemukan sudah menjadi bangkai di pagi hari.

“Saat memasukkan ayam sore hari, ayamku itu masih bugar. Tapi saat pagi ketika ayam hendak dikeluarkan, justru sudah tegang dan berbau,” kata J Panjaitan (40) di rumahnya, Rabu (10/7).

Dikatakan, penyakit itu hanya berlangsung empat hari hingga mematikan kurang lebih 45 ekor ayam miliknya. Padahal sempat memberi vaksin pada ayam tersebut, tatpi tetap ayam-ayam miliknya mati.

Dalam sehari, ayam yang mati bisa mencapi empat sampai lima ekor. Akibatnya pula, bapak empat anak ini mengaku merugi hingga Rp2.000 bila daging ayam kampung perkilonya seharga Rp50.000.

“Rugi besarlah, aku sudah mencegah dengan memberi vaksin. Tapi menurut tetanggaku sudah terlambat. Makanya tiap hari aku harus menguburkan tiga sampai lima delapan ekor ayam,” kata Panjaitan lagi. (dho/mer)

Komentar