Peserta Didik Baru Terima dengan Jujur

Praktek percaloan penerimaan siswa baru atau sekarang dikenal dengan nama penerimaan peserta didik baru (PPDB), masih dinilai sangat menakutkan. Banyak hal yang membuka peluang bagi para pelaku ‘pemeras’ orangtua calon siswa.

Sebagian pemerintah daerah membuat kebijakan menerima siswa baru melalui ujian tertulis. Atau, menetapkan rata-rata nilai UN namun, bisa kongkalikong dengan pihak sekolah melalui calo.

Sementara itu, keinginan besar orangtua agar anaknya masuk ke sekolah negeri bisa jadi satu alasan, kenapa timbul percaloan dan cara-cara kotor. Namun banyaknya peraturan yang muncul dengan tiba-tiba juga membingungkan orangtua calon siswa.

Di Kota Siantar sendiri, ada beberapa sekolah negeri yang akan melaksanakan ujian tertulis dalam menerima siswa baru. seperti, SMA Negeri 4 dan SMP Negeri 1. Sementara, Kemendikbud sendiri sudah mengimbau, agar penerimaan siswa baru melalui nilai UN.

Penghapusan sistem ujian tulis untuk masuk SMA ini juga membuat masyarakat tidak bingung. Saat ini sistem seleksi masuk SMA berbeda-beda di setiap daerah. Padahal beberapa tahun lalu, sekolah-sekolah di daerah kompak hanya menggunakan nilai rapor sebagai saringan masuk.

Nilai rapor para pelamar SMA di-ranking sedemikian rupa. Nama-nama siswa teratas dan sesuai dengan kuota siswa baru, langsung dinyatakan diterima tanpa melalui ujian tulis lagi.

Sejumlah kalangan menilai jika ujian tulis masuk SMA dipakai untuk bargaining masing-masing pemda. Selain itu muncul dugaan juga jika seleksi ujian tulis ini merupakan proyek daerah yang anggarannya lumayan besar.

Dalam praktenya ujian tulis ini rawan terjadi kongkalikong karena peserta tidak mengetahui secara langsung proses penilaian.  Berbeda dengan sistem pemeringkatan nilai UN yang bisa dipampang dengan transparan.

Intinya, dalam menerima siswa baru, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan harus bersih dan jujur, demi mengangkat kualitas pendidikan itu sendiri. (leo)