Petani Mengeluh Harga Sayur Merosot

TOBASA - Para petani di Huta Gurgur, kecamatan Tampahan, Tobasa, banyak yang mengeluh terhadap harga sayuran yang terus merosot di pasaran. Merosotnya harga tersebut diakibatkan melimpahnya pasokan di Pasar Balige. Dampak penurunan dirasakan petani di Huta Gurgur, Kecamatan Tampahan yang dikenal sebagai salahsatu sentra produksi bunga kol Tobasa.

“Saat ini harga sayuran turun drastis, khususnya bunga kol. Dua minggu lalu, bunga kol dihargai Rp6 ribu per kilogram. Harga itu sudah dijemput ke kebun. Tetapi saat ini harga sudah turun menjadi Rp3 ribu per kilogram. Artinya dalam waktu dua minggu ada penurunan harga sebanyak Rp3 ribu,” ujar Barita Samosir, petani asal Desa Gurgur Kecamatan Tampahan, Rabu (10/10).

Bila harga bunga kol hingga pertengahan bulan ini tidak naik, petani diperkirakan bakal mengalami kerugian. Baritaa mengatakan, dampak merosotnya harga sayuran terasa dibanding harga biasanya. Bahkan, biaya pemupukan dan upah pekerja tidak sebanding dengan harga jual. Sementara upah tenaga kerja semakin meningkat.

”Sebelumnya, upah pekerja masih Rp35 ribu per hari, sekarang naik menjadi Rp40 ribu per orang,” ujarnya. Petani yang memiliki lima anak ini mengakui, selama ini, kebanyakan petani di daerah itu hidup dari hasil pertanian khususnya tanaman sayuran. Pemilik lahan sekitar satu hektare tersebut juga mengatakan, bahwa harga sayuran yang mengalami penurunan tidak hanya bunga kol, tetapi jenis sayur lainnya seperti kacang panjang, buncis, tomat dan sawi juga mengalami penurunan. (cr-03)