Polisi Tetapkan 12 Tersangka & Buru Aktor Intelektual

Batangtoru Membara, 37 Warga Diamankan

(Foto: Parlindungan Pohan)
Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro menjelaskan kepada wartawan soal kerusuhan di Batangtoru, Rabu (31/10).

SIDIMPUAN - Polisi telah menetapkan 12 tersangka dari 37 warga yang diamankan saat Batangtoru membara, Selasa (30/10) lalu. Sisanya dipulangkan karena tidak terbukti bersalah. Sejauh ini, polisi masih terus memburu aktor intelektual di balik peristiwa itu.

Hal ini disampaikan Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro didampingi Kapolres Padangsidimpuan (Psp) AKBP Andi Syahriful Taufik SIk Msi, kepada sejumlah wartawan media cetak dan elektronik, Rabu (31/10) siang. “Setelah dilakukan sidik dan lidik maka polisi menetapkan 12 warga sebagai tersangka sedangkan sisanya (25 orang) kita pulangkan,” jelas Kapoldasu.

Kapoldasu menegaskan, salah satu aktor di balik kerusuhan itu adalah Ino warga Batangtoru. “Salah satunya si Ino itu. Perannya; menggerakkan dan menyediakan truk. Dia juga yang bilang; heii…, kita serang aja, kita bakar!” ujar Kapoldasu menirukan ucapan Ino.

Selain menyampaikan penetapan tersangka, Kapoldasu juga meminta masyarakat agar jangan mudah terpancing sekaligus berpikir cerdas. Sebab, saat ini banyak orang-orang yang tidak jelas dan tidak punya pekerjaan mengail di air keruh.

“Seharusnya kita berbangga masih ada investor yang mau masuk ke daerah kita untuk menanamkan saham yang jumlahnya triliunan. Hal ini akan membawa kesejahteraan kepada rakyat banyak terutama Tapsel. Paling tidak ada tenaga kerja yang berasal dari daerah yang jumlahnya ada 2 ribuan,” ujar Kapoldasu. Kapoldasu menambahkan, perusahaan tambang emas ini legal alias resmi.

Semua persyaratannya lengkap bahkan izin kontrak karyanya ditandatangani Presiden.“Mereka ini belum mau buang limbah, baru mau buat infrastruktur atau pipa. Begitu pipa dipasang dan limbah yang mau dibuang dicek terlebih dahulu. Apakah tidak berbahaya tapi direkomendasikan untuk tidak diminum, makanya mereka minta dibangun bak air minum dan masjid,” terang Kapoldasu.

Sekarang, sambung Kapoldasu, persoalannya masyarakat yang tidak jelas diprovokasi oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, kasihan sebetulnya ini. Terus aparat kepolisian sama TNI itu tugasnya menjaga keamanan, bukan hanya perusahaan. Siapa saja punya hak untuk diberikan perlindungan baik itu harta, benda, dan jiwa. Itu wajib hukumnya. Siapa saja yang menginginkan perlindungan hukum akan diberi.

“Unjuk rasa boleh tapi ada aturannya. Kalau sampai menutup jalan, kan jadi terganggu. Bukan hanya rakyat setempat tetapi juga rakyat yang menggunakan jalan raya ke Sibolga atau sebaliknya ke Psp akan terhambat. Belum lagi angkutan barang-barang terhambat, akhirnya harga barang naik, siapa yang terbebani? Rakyat juga kan?” tanya Kapoldasu.

Kapoldasu juga menegaskan, pihaknya masih tetap memburu aktor intelektual lainya. “Soal aktor-aktor intelektual dalam persoalan ini, nanti saya sebutkan. Jangan di sini, nanti orangnya kabur. Indikasinya sudah ada. Dari dulu kita (polisi) sudah tahu ada yang mengendalikan,” pungkasnya.

2.000-an Karyawan akan Dipanggil Kembali
Perusahaan tambang emas Martabe mulai kembali pemasangan pipa air sisa proses yang dialirkan ke Sungai Batangtoru, pada Senin (29/10). Sebelumnya, pada awal dan akhir September lalu, pemasangan pipa sepanjang 2,7 km ini terpaksa ditunda karena perusahaan masih membutuhkan waktu untuk melanjutkan sosialisasi kepada masyarakat.

Pemasangan pipa yang akan mengalirkan air sisa proses yang sudah dibersihkan di Instalasi Pengolahan Air ini dijadwalkan berlangsung selama tiga minggu. Aparat  keamanan akan turut membantu mengawasi  jalannya pemasangan pipa. Dan, kontraktor G-Resources yang melaksanakan pekerjaan ini adalah PT Duta Graha Indah dan PT Tapanuli Selatan Membangun (TSM).

Dalam siaran persnya, Presiden Direktur G-Resources Peter Albert menerangkan, jenis pipa yang digunakan adalah HDPE dengan diameter 60 sentimeter, tebal 3 sentimeter dan panjang 11 meter. Pipa akan ditanam dengan kedalaman 1 (satu) meter.

Perusahaan  berharap pekerjaan pemasangan pipa tidak menghadapi kendala. Setelah pekerjaan ini diselesaikan, perusahaan akan memanggil kembali 1.200 karyawan yang telah dirumahkan sejak awal Oktober. Peter menambahlan, pabrik pengolahan bijih emas juga mulai dioperasikan Senin (29/10) setelah penghentian sementara. Perusahaan kemudian melakukan berbagai modifikasi dan pekerjaan mekanikal untuk sesegera mungkin mengembalikan produksi ke tingkat sebelumnya.

Perusahaan menargetkan, awal 2013, kegiatan produksi Tambang Emas Martabe sudah dapat berjalan dengan normal. Target produksi Tambang Emas Martabe tahun 2013, untuk emas 250.000 oz emas dan 2-3 juta oz perak. Dengan dimulainya kegiatan produksi, masyarakat dan pemerintah daerah akan mendapatkan manfaat yang signifikan dari keberadaan Tambang Emas Martabe.

“Kami sangat senang melihat konstruksi instalasi pipa dimulai lagi setelah diskusi intensif dan menyeluruh dengan stakeholder lokal dilaksanakan. Sekarang proses produksi kembali dimulai. Kita bisa terus menunjukkan keunggulan proyek pertambangan kelas dunia ini,” katanya.

Sekilas Tambang Emas Martabe
Tambang Emas Martabe terletak di sisi barat pulau Sumatera, Kecamatan Batang Toru, Provinsi Sumatera Utara, dengan luas wilayah 1.639 km2, di bawah Kontrak Karya generasi keenam (“CoW”) yang ditandatangani April 1997.

Tambang Emas Martabe kini telah memiliki sumberdaya 8,05 juta oz emas dan 77 juta oz perak dan ditargetkan mulai berproduksi di bulan Juli 2012, dengan kapasitas per tahun sebesar 250.000 oz emas dan 2-3 juta oz perak berbiaya rendah.

Pemegang saham Tambang Emas Martabe adalah G-Resources Group Ltd sebesar 95 persen, dan pemegang 5 persen saham lainnya adalah PT Artha Nugraha Agung, yang 70 persen sahamnya dimiliki Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan 30 persen dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.  Dua ribu orang saat ini bekerja di Tambang Emas Martabe, 70% nya direkrut dari masyarakat di empat belas desa di sekitar tambang.

Martabe akan menjadi standar acuan bagi G-Resources untuk menjalankan bisnisnya di Indonesia dan di wilayah lainnya, dan terus bertumbuh dengan tetap mengutamakan keselamatan kerja, kelestarian lingkungan, dan pengembangan komunitas.

Mendagri Minta Pemkab Ambil Tindakan
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi, meminta kepala daerah di Sumatera Utara cepat mengambil tindakan sedini mungkin. Guna mengantisipasi aksi massa yang menolak pemasangan pipa pembuangan limbah ke Sungai Batangtoru, tidak meluas menjadi aksi yang lebih anarkis. “Yang kita perlukan itu adalah tindakan preventif.

Pemda maupun tokoh-tokoh masyarakat kita imbau untuk cepat mengambil tindakan. Sehingga tidak terjadi gerakan-gerakan massa yang akhirnya berujung tindakan-tindakan anarkis. Penyelesaian bisa dengan berunding. Makanya selain kepala daerah, peran tokoh masyarakat juga sangat diperlukan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (31/10). (phn/rel/ran/gir)

Komentar