Rekonstruksi Pembunuhan Kapolsek, Keluarga Dilarang Peluk Tersangka

[FOTO: DHEV FRETES BAKKARA]
DIPUKUL – Rekonstruksi pembunuhan Kapolsek Dolok Pardamean AKP Andar Siahaan dihadiri ratusan warga dan para keluarga tersangka di Mapolres Simalungun, Jumat (12/4).

SIMALUNGUN – Teriakan histeris keluarga tersangka pembunuh Kapolsek Dolok Pardamean, memecah suasana di Polres Simalungun. Warga menangis histeris sembari melambaikan tangannya. Namun mereka dilarang menjabat atau memeluk anggota keluarganya yang hendak dimasukkan dalam sel.

Warga yang berada di luar polisi line terhalang blokade petugas yang tidak memberikan izin tersangka untuk bersalaman dengan sanak keluarga. “Bapak/ibu, kami berikan kesempatan untuk melihat keluarganya yang ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Kapolres Simalungun AKBP Andi S Taufik SIK kepada ratusan warga.

Kesempatan itu diberikan usai rekonstruksi kasus pembunuhan Kapolsek Dolok Pardamean AKP Andar Siahaan. Rekonstruksi dimulai pukul 10.30 WIB, hingga pukul 12.30 WIB di Mapolres Simalungun Pematang Raya, dengan 33 adegan.

Sebanyak 19 orang tersangka dengan mengenakan baju tahanan berwarna orange di hadapkan dengan sanak keluarganya. Akan tetapi, mereka tidak dapat memeluk keluarganya karena terhalang garis polisi dan blokade petugas.

Setelah Kapolres memberikan kesempatan, spontan para warga menangis histeris khususnya para kaum ibu yang melihat anaknya maupun suaminya mengenakan baju tahanan. Dalam tangisnya, mereka memanggil-manggil nama anggota keluarga mereka yang sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan Kapolsek Dolok Pardamean Rabu 27 Maret lalu.

Tidak luput juga para tersangka ikut menjerit menangis melihat keluarganya bersedih ketika digiring petugas. Sekitar 30 detik kemudian, para tersangka digiring dan dimasukkan ke Aula Mapolres Simalungun untuk selanjutnya dibawa ke sel tahanan.

Sejak mereka ditangkap 27 Maret 2013 hingga saat ini, polisi tidak memberikan izin kepada keluarga untuk berkunjung. Ke-19 orang tersangka tersebut masih dititip di sel tahanan Poldasu.

Kapolsek Tewas Berawal dari Togel
Kronologis peristiwa tewasnya Kapolsek Dolok Pardaman AKP Andar Siahaan yang terjadi pada 27 Maret 2013 di Nagori Buntu Bayu Raja, Kecamatan Dolok Pardamaen bermula dari penangkapan penulis togel.

Hal itu terlihat saat rekonstruksi di Mapolres Simalungun, Jumat (12/4) pukul 10.30 WIB dengan 33 adegan yang diperankan oleh tersangka langsung termasuk saksi-saksi.

Saat itu, Rabu 27 Maret 2013 sekitar pukul 20.30 WIB empat petugas Polsek Dolok Pardeman, yakni Aiptu Armada Simbolon, Bripka Lamsar M Samosir, Brigadir Leonardo Sidauruk dan AKP Andar Siahaan selaku Kapolsek berangkat ke Nagori Dolok Saribu.

Mereka berangkat menggunakan mobil Kijang BK 1074 FN milik Kapolsek. Mereka mengenakan pakaian preman dengan tujuan hendak memastikan informasi yang mereka dapatkan bahwa ada seorang warga Dolok Saribu bernama Kosdin Saragih menulis togel.

Setelah melewati perjalanan sekitar 5 km dari Polsek, mereka tiba di rumah Kosdin dan kemudian menemui Kosdin yang saat itu sedang berada di warungnya. Setelah mengenalkan diri sebagai petugas polisi, ponsel milik Kosdin pun diminta ditahan.

Sementara petugas lain mengambil kertas di atas kosen pintu dan setelah diperiksa kertas tersebut berisikan angka judi togel (toto gelap). Melihat aksi petugas itu, Tamaria br Aruan istri Kosdin tidak terima dan berusaha menghalangi petugas. Namun hal itu tidak dihiraukan. Selanjutnya polisi memasukkan Kosdin ke mobil untuk dibawa ke Polsek Dolok Pardamean.

Namun Kosdin awalnya menolak dibawa dan mengatakan dia akan datang sendiri ke Polsek dengan sepedamotor dengan alasan tidak ada barang bukti ditemukan. Kosdin juga mengaku kesal kenapa tokenya bernama Hendra Purba tidak ditangkap. Walau Kosdin berusaha melepaskan diri, petugas akhirnya memasukkannya ke dalam mobil dan kemudian mobil pun melaju.

Saat mobil melaju, Tamaria br Aruan menjerit-jerit hingga warga berkumpul. Tamaria mengaku suaminya ditangkap, padahal barang buktinya tidak ada. Kemudian Boing Sidebang, keluarga Tamaria datang dan mendengar penjelasan dari Tamaria.

Selanjutnya Boing pergi dan singgah di kedai tuak Pak Eca Nainggolan serta memberitahukan kepada Dedi Jan Ricardo Girsang, Jaserdin Saragih dan Fernandus Turnip dengan berkata, “ Nga i takkup polisi tulang, dang adong barang bukti na. (Sudah ditangkap Paman, tapi tidak ada barang buktinya),” ujar Boing pada saat adegan ke-8.

Setelah itu, ketiganya pergi menggunakan sepedamotor mengejar petugas. Bukan hanya mereka, warga yang lain juga turut mengejar. Sementara Tamaria br Aruan dibonceng Boing Sidebang. Saat mobil petugas dapat terkejar sehingga posisi sejajar, salah seorang warga, Dedi Jan Ricardo Girsang berteriak berulang-ulang kepada AKP Andar Siahaan yang saat itu menyetir mobil.

“Lepaskan dulu Bapaudaku itu Pak, lagi sakit itu,” teriaknya. Namun Kapolsek tetap melajukan mobilnya tanpa menghiraukannya. Sementara itu, warga lainnya yang turut mengejar berteriak-teriak sembari menghidupkan klakson. “Panakko kareta, panakko kareta (pencuri kreta, pencuri kreta),” teriak warga ke arah petugas.

Karena teriakan itu kuat, membuat warga yang masih dalam rumah mendengarnya. Karena berteriak pencuri kreta, salah seorang warga Jon Warinsen Saragih melepon Sariadi Malau yang tinggal di Desa Merek Rajani Huta dengan perkataan.

“Tolong kailan cegat dulu mobil kijang maling kreta,” ujar Jon Warinsen. Mendengar itu, warga mengiyakan dan kemudian mendorong gerobak pedati kerbau ke badan jalan. Sebelum tiba di Dusun Merek Rajani Huta mobil, Kapolsek juga sudah dua kali dihalangi dengan gerobak pedati, namun masih bisa dihindari.

Namun saat di Dusun Merek Rajani Huta Nagori Buntu Bayu Pane Raja, gerobak pedati yang ketiga tidak berhasil dihindari. Mobil Kapolsek akhirnya terperosok ke parit setelah menabrak gerobak pedati tersebut. Saat terperosok, salah seorang warga, Sofian Sitio berteriak. “Bakar, bunuh,” teriaknya.

Sementara itu warga sudah banyak berkumpul mengelilingi mobil Kapolsek. Kemudian Kapolsek bersama dua anggotanya keluar dari dalam mobil. Sedangkan Kosdin Sumbayak menjerit-jerit minta dikeluarkan dari dalam mobil.

Di hadapan warga, AKP Andar Siahaan mengatakan, dia adalah Kapolsek Dolok Pardemean yang sedang melaksanakan tugas dengan menangkap tersangka judi togel. Kemudian salah seorang warga, Karaen Tamba mendorong tubuh Kapolsek sambil mengatakan, “Kalau Kapolsek, kenapa rupanya,” ujarnya.

Saat itu juga beberapa warga masing-masing Dedi Girsang dan Fernandus Turnip, langsung menuju mobil dan memaksa membuka pintu sebelah kanan mobil sambil berkata, “Keluarkan Bapaudakku,” katanya.

Bersamaan itu Kosdin Sumbayak dari dalam mobil menjerit, “Saya diculik,” katanya. Lalu Jaresdin Saragih kemudian menusukkan besi pada kaca mobil hingga tembus. Sementara Fernandus Turnip berteriak bakar dan bunuh sembari memukul bodi mobil dengan kayu balok dan memukul kaca samping kanan bagian belakang hingga pecah.

Saat itu, Boing Sidebang dan Tamaria br Aruan bersama dengan 100 orang lainnya tiba di lokasi dan mengancam akan membakar mobil Kapolsek kalau Kosdin tidak dilepaskan. Oleh sebab itu, Aiptu Armada Simbolon memberikan perintah kepada anggotanya Brigadir Leonardo Sidauruk agar melepaskan Kosdin Sumbayak dan kemudian diserahkan kepada Dedi Girsang.

Setelah dilepaskan, Tamaria br Aruan dan Boing Sidebang langsung pergi membawa Kosdin Sumbayak ke rumah gamot (kepala dusun). Kemudian Jasarmen Sinaga berteriak, bakar sembari melempar mobil sebanyak menggunakan batu. Sedangkan Walsen Sinaga meneriaki maling termasuk juga Rudianto Sidabutar.

Karena para tersangka melakukan perusakan mobil terus menerus, petugas pun melarikan diri. Brigadir Leonardo Sidauruk dan Bripka Lamsar Samosir lari ke aeral perladangan. Sementara AKP Andar Siahaan dan Aiptu Armada Simbolon lari ke arah jalan menuju arah simpang.

Saat dikejar sekitar 50 meter dari jarak mobil, AKP Andar Siahan langsung terjatuh setelah dari belakang tersangka memukul kepalanya dengan menggunakan balok. Saat AKP Andar Siahan jatuh, para tersangka kemudian melakukan penganiayaan hingga AKP Andar Siahaan tewas dengan kondisi wajah yang mengenaskan.

Pada pelaksanaan rekonstruksi tersebut juga disaksikan oleh JPU dari Kejaksaan Negeri Simalungun Josron Malau, serta beberapa pengacara para tersangka. (pra)

Komentar