Sidang Lapangan Kasus Sengketa Tanah

Hakim & Penggugat Bingung Letak Lokasi Tanah Perkara

[FOTO: HORDEN SILALAHI]
SIDANG LAPANGAN: Ketua majelis hakim PN Tarutung, Dominggus Silaban SH, saat menanyakan batas tanah kepada tergugat Tinorma boru Nababan pada sidang lapangan sengketa tanah di Jalan Sanif, Siborongborong.

TAPUT – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tarutung kebingungan saat melakukan sidang lapangan untuk mengukur letak objek tanah berperkara antara penggugat Tinorma br Nababan (79) dengan tergugat Maruba Hutasoit (46), di Jalan Sanif, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Taput, Jumat (5/4).

Saat sidang lapangan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Dominggus Silaban SH itu, kedua pihak berperkara tampak hadir didampingi oleh sejumlah keluarga dekat mereka. Anehnya, saat pengukuran dilakukan, tanah seluas 2.398 meter persegi yang diklaim Tinorma br Nababan sebagai miliknya, dengan sertifikat hak milik nomor 251 yang dikeluarkan oleh BPN (Badan Pertanahan Nasional) justru sampai ke sejumlah rumah, tanah dan gudang milik warga lainnya.

Tak pelak, situasi itu membuat hakim bingung dan sempat bertanya kepada Tinorma br Nababan. “Yang mana sebenarnya tanah ibu,” tanya Dominggus kepada Tinorma. Menjawab pertanyaan itu, Tinorma Nababan mengatakan agar pihak pengadilan mengukur sesuai dengan sertifikat hak tanah miliknya.

Tanah milik warga lainnya yang sempat masuk pengukuran sesuai dengan sertifikat hak milik Tinorma adalah, di arah utara atas nama warga bermarga Pardede dan Manurung, bangunan rumah bermarga Nainggolan, serta gudang milik Rajun Aritonang. Sehingga, saat pengukuran sampai ke lokasi tersebut, tergugat dan banyak warga yang hadir tertawa menyaksikan pengukuran itu.

Untungnya, para pemilik tanah, rumah dan bangunan bertepatan tidak berada ditempat saat pengukuran. Sedangkan di arah selatan, tanah Tinorma berbatasan dengan tanah milik politisi PDIP Panda Nababan.

Walau telah membawa alat kompas dan meteran, majelis hakim tampak masih tetap kebingungan untuk menyesuaikan peta pada sertifikat dengan letak tanah sebagai objek perkara. Padahal, di lokasi tanah yang disengketakan itu sudah ada bangunan rumah milik tergugat Maruba Hutasoit.

Tinorma br Nababan sendiri, saat ditanya kapan dirinya membeli tanah tersebut, mengaku lupa. “Lupa ahu taon sadia (saya lupa tahun berapa),” ujarnya ketus sambil berlalu. Padahal, diatas tanah ia sengketakan itu sudah terdapat patok besi.

Karena majelis kebingungan, akhirnya sidang diundur hingga minggu depan dan akan menghadirkan saksi ahli yakni pihak BPN Tarutung. ”Sidang ini kita undur, kita akan panggil BPN untuk melakukan pengukuran dan menunjukkan lokasi tanah yang sesuai dengan peta ini,” tandas Dominggus menutup sidang lapangan tersebut.

Sementara itu, Maruba Hutasoit didampingi anaknya Henry Hutasoit mengatakan, bahwa bangunan rumah di atas tanah yang diklaim Tinorma br Nababan sebagai hak miliknya, telah mereka kuasai secara turun temurun dan memiliki hak alas tanah yang sah.

“Yang lebih herannya, dalam gugatan Tinorma menyatakan, bahwa batas tanahnya sebelah utara berbatasan dengan bondar. Sebelah selatan dengan Jalan Sanif, sebelah timur dengan Jalan Sanif dan sebelah barat berbatasan dengan bondar.

Padahal, kenyataannya, sebelah selatan ada tanah sertifikat hak milik Panda Nababan, sebelah barat berbatasan dengan Jalan Sanif, dan sebelah timur berbatasan dengan bondar,” ujar Maruba Hutasoit.

Ia menjelaskan, bahwa dirinya digugat Tinorma Nababan karena mendirikan bangunan rumah di atas tanah yang berperkara tersebut, yakni dengan lebar 5 meter dan panjang 7 meter. “Oppung kami yang menyerahkan tanah untuk pembangunan Jalan Sanif ini. Itu sebagai bukti tanah ini telah kami kuasai secara turun temurun. Makanya kami membangun rumah kami di sini.

Kalau nanti pada sertifikat tergugat benar masuk ke bangunan rumah kami ini. Kami siap membongkarnya. Tapi kalau tidak, kami akan ajukan gugatan balik,” tegas Maruba.(hsl)