Sidang Pembunuhan Kapolsek Dolok Pardamean Digelar

18 Terdakwa Terancam Hukuman Mati

[Darwis Damanik]
Para terdakwa berdoa saat pembacaan dakwaan pada sidang perdana pembunuhan Kapolsek Dolok Pardamean, Kamis (4/7).

SIMALUNGUN- Sidang perdana kasus pembunuhan Kapolsek Dolok Pardamean Kompol (Anumerta) Andar Siahaan digelar di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, Kamis (4/7), pukul 11.00 WIB.

Sebanyak 18 dari 19 terdakwa dituduh melakukan pembunuhan berencana melanggar pasal 340 KUHPidana, dengan ancaman hukuman pidana mati.

Pantauan METRO, sebelum menjalani persidangan, para terdakwa makan siang di ruang tahanan. Meski bersempit-sempitan, para terdakwa yang bergabung dengan terdakwa kasus lain tampak lahap mengonsumsi nasi bungkus.

Sebelum menyantap makanan, para terdakwa terlebih dulu berdoa bersama tanpa ada yang memimpin. Selanjutnya, dengan posisi jongkok, seluruh terdakwa melahap makanan masing-masing. Ketika hendak ditanya, para terdakwa kompak tidak mau menjawab dan hanya tertunduk.

Sidang kemarin beragendakan pembacaan dakwaaan terhadap ke-18 terdakwa disampaikan jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejari Simalungun secara bergantian di hadapan dua majelis hakim masing-masing diketuai Ketua PN Abdul Siboro dan Wakil Ketua Ramses Pasaribu.

Ke-18 terdakwa dimaksud adalah Tamaria Aruan (49), Rusdin Everi Sinaga (31), Kosdin Saragih (53), Sofyan Sitio (44), Wariyanto alias Anto (30), Jasarmen Sinaga (51), Jordan Silalahi (38), Karnain Tamba (41), Rudi Antoni Sidabutar (44), Dedi Jam Ricardo Girsang (41), Pandapotan Haloho (34), Jaresdin Saragih (39), Boing Sidebang (46), Mariden Sinaga (30), Fernandus Turnip (30), Juki Ardo Naibaho (41), Jadi Reofentua Sinaga alias Tua Sinaga (22), Reynaldo Manurung alias Edo (22).

Keseluruhannya adalah warga Huta Dolok Saribu, Kecamatan Dolok Pardamean.

Sedangkan terdakwa Walsen Malau (29), juga warga Huta Dolok Saribu, Kecamatan Dolok Pardamean, dalam dakwaan jaksa ia disebut berperan mengambil dompet milik Kapolsek Dolok Pardamean Kompol (Anumerta) Andar Siahaan, didakwa Pasal 365 Ayat (1) KUHPidana subsider Pasal 361 (1) ke-2 KUHPidana tentang pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan terhadap orang dengan ancaman hukuman paling lama sembilan tahun pidana penjara.

Dalam pasal 340 KUHPidana disebutkan, “barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain diancam karena pembunuhan dengan rencana (mood), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.”

Pada sidang tersebut, majelis hakim yang diketuai Abdul Siboro memegang lima berkas perkara atas nama sepuluh terdakwa. Sedangkan majelis hakim yang diketuai Ramses Pasaribu memegang enam berkas perkara atas nama sembilan terdakwa.

Sedangkan pembacaan dakwaan dilakukan secara bergantian. Pembacaan dakwaan pertama dilakukan langsung Ketua Tim JPU Edmon Purba dan berlanjut ke anggota lainnya hingga selesai.

Sidang berlangsung di dua ruangan berbeda, yakni di ruang sidang utama dan ruang sidang I PN Simalungun. Sidang dinyatakan selesai pukul 15.30 WIB dan kembali dibuka pada Kamis (11/7) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

Ditemui usai persidangan, Ketua Tim JPU Edmon Purba menyatakan, ke-18 terdakwa selain terdakwa Walsen Malau yang disangkakan sebagai pengambil dompet korban, didakwa dengan pasal 340 KUHpidana.

“Selain pasal 340, kita juga menyertakan pasal lainnya yang berkaitan dengan kasus itu. Mengenai pasal yang mana dikenakan kepada masing-masing, akan dibuktikan oleh fakta di persidangan dan dinilai oleh majelis  hakim,” ujarnya.

Ketua PN Simalungun yang juga sebagai Ketua Majelis Hakim ketika dikonfirmasi mengatakan, sidang tersebut merupakan sidang perdana dan akan kembali dibuka minggu depan. “Untuk sidang minggu depan, agenda kita mendengarkan saksi,” ujarnya.

Letusan Pistol Tak Disebut
Sepanjang pembacaan dakwaan terhadap ke-19 terdakwa, JPU tidak ada menjelaskan bahwa dalam kejadian itu salah satu anggota Kompol (Anumerta) Andar Siahaan, yang turut dalam peristiwa itu melepaskan tembakan.

Padahal, dalam rekonstruksi Jumat (12/4) lalu, pihak Polres Simalungun beserta terdakwa sangat jelas memeragakan bahwa Brigadir Leonardo Sidauruk melepaskan tembakan yang membuat masyarakat semakin mengamuk.

Ketika hal itu dikonfirmasi kepada Ketua Tim JPU Edmon Purba, dia menjelaskan bahwa dakwaan yang mereka bacakan hanyalah pengembangan dari hasil penyidikan pihak Polres Siumalungun.

“Kita melakukan sesuai fakta yang diberikan kepada kita. Tidak mungkin kita beropini atau menambahi maupun mengurangi BAP dari pihak penyidik Polres Simalungun,” pungkasnya.

Sementara itu, Kapolres Simalungun AKBP Andi S Taufik SIk ketika dikonfirmasi mengatakan, hal itu dapat dijelaskan langsung oleh Kasat Reskrim Polres Simalungun. “Coba konfirmasi kepada Kasat Reskrim saja ya. Beliau lebih jelas mengetahui itu,” ujarnya.

Sementara itu, Tumpal Sinaga, penasehat hukum para terdakwa ketika dikonfirmasi mengenai hal itu mengatakan, pihaknya akan melampirkan hal-hal tersebut dalam pledoi (nota pembelaaan, red) nanti. “Semuanya akan kita jelaskan nanti dipledoi,” ujar Tumpal Sinaga, mewakili rekan penasehat hukum lainnya.

Dari ke-19 terdakwa, salahseorang di antaranya Pandapotan Haloho, tidak didampingi pengacara. Dalam persidangan, tak terlihat seorang pun pengacara duduk di bangku penasehat hukum.

Mengetahui hal itu, majelis hakim menyatakan serta menunjuk pengacara prodeo yakni Kencana Tarigan. “Kita tunjuk penasehat hukummu ya, kita tunjuk pak Kencana,” ujar majelis hakim.

Ditemui usai pembacaan dakwaan, Kencana Tarigan mengatakan, tidak keberatan mendampingi terdakwa Pandapotan Haloho. Meski tak mendapat imbalan, dirinya mengaku siap. “Kita akan dampingi. Kita akan perjuangkan semaksimal mungkin. Kita akan lakukan upaya-upaya untuk mempertahankan hak-hak terdakwa,” imbuhnya.

Keluarga Pingsan
Saat pihak keamanan hendak membawa para terdakwa kembali ke Lapas, salah seorang pengunjung wanita yang diketahui keluarga dari salahseorang terdakwa tiba-tiba menangis dan berusaha mengejar terdakwa.

Tapi upayanya dihalangi petugas, wanita berkulit putih dan bertubuh sedikit gemuk itu pun pingsan. Melihat itu, para keluarga terdakwa lainnya langsung memeluk dan berusaha menyadarkan wanita berkaos biru tersebut.

Oleh salahseorang kerabat terdakwa, wajah dan kepala wanita itu dibasuh air bersih. Beberapa menit kemudian wanita itu sadar, namun kembali menjerit-jerit dengan wajah penuh kesedihan.

Dihadiri Kajari dan Kapolres

Kapolres Simalungun AKBP Andi S Taufik dan Kajari Simalungun Polin O Sitanggang turut hadir pada persidangan perdana pembunuhan Kompol (Anumerta) Andar Siahaan.

Dalam sidang perdana pembunuhan kapolsek Dolok Pardamean itu, hadir Kapolres Simalungun AKBP Andi S Taufik dan Kajari Simalungun Polin O Sitanggang. Keduanya duduk bersama mengikuti persidangan dipimpin Ketua PN Simalungun Abdul Siboro.

Kapolres AKBP Andi S Taufik SIk mengatakan, untuk pengamanan sebanyak dua pleton atau 60 personil dikerahkan.

Pengamanan yang dilakukan pihaknya merupakan hasil kordinasi dari pihak PN Simalungun. “Kita diminta untuk melakukan pengamanan agar persidangan berjalan lancar.

Tidak hanya jalannya persidangan, kita juga melakukan pengamanan terhadap pengunjung dan arus lalu lintas untuk kedatangan dan kepulangan para tahanan,” ujarnya.

Ditanya mengenai pengamanan selanjutnya, Andi menyatakan bahwa pihaknya akan tetap melakukan pengamanan sepanjang persidangan digelar hingga saat putusan nanti. Namun mengenai jumlahnya, Andi menyatakan belum dapat memastikannya.

“Kita lihat saja keadaan nanti. Jika kira-kira jumlah personil masih dibutuhkan sebanyak ini, kita akan kerahkan. Intinya bisa lebih banyak atau lebih sedikit. Tergantung keadaan,” pungkasnya. (wis/dro)