Sidang Pembunuhan Reida Simanjuntak

4 Terdakwa Gemetaran

Para tersangka kasus pembunuhan Reida Simanjuntak saat mengikuti persidangan di PN Siantar, Kamis (26/9). (Foto: Dhev Fretes Bakkara)

SIANTAR- Empat terdakwa kasus pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan hilangnya nyawa Reida boru Simanjuntak (76) terlihat gemetaran saat menjalani sidang perdana yang dilaksanakan di ruang sidang I Pengadilan Negeri (PN) Pematangsiantar, Kamis (26/9).

Sebelum memasuki ruang sidang, para terdakwa tampak begitu tegang. Bahkan, ketika majelis hakim yang diketuai Ulina MArbun menyebutkan nama mereka satu per satu, para terdakwa terlihat seperti ketakutan. Ketika mengangkat tangan sesuai dengan panggilan majelis hakim, tangan mereka terlihat gemetaran. Keempatnya juga tampak sesekali secara bergantian mencuri-curi pandang ke arah pintu persidangan.

Keempat tedakwa, yakni Riki Saputra alias Putra (20),  Dwi Purmono alias Jefri alias Kancil (21),,  Imbun Marpaung alias Imbun (26) , dan Ilham Utama alias Tama (20), keempatnya warga Siantar Sitalasari.

Sidang digelar mulai pukul 14.00 WIB beragendakan pembacaan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Siti Martiti Manullang. Dalam surat dakwaan, JPU menerangkan, perbuatan keempatnya terjadi pada Maret 2013 lalu. Keempat terdakwa merencanakan pencurian di rumah Reida br Simanjuntak.

Pada Selasa (9/4) sekira pukul 01.30 WIB, mereka pergi ke rumah Reida dengan sepedamotor milik Tama.

Kancil dan Putra lompat pagar dan masuk dari jendela kamar yang mereka buka sebelumnya, sedangkan Imbun dan Tama di luar untuk memantau keadaan. Putra dan Kancil bergerak menuju ruang tamu membawa parang bengkok dan pisau dapur yang diambil dari rumah Reida.

Menunggu Imbun dan Tama yang tidak ikut masuk, Kancil dan Putra tertidur di dalam kamar tersebut. Pada Rabu (10/4) pukul 08.00 WIB, Putra dan Kancil terbangun, sedangkan Reida sudah tidak berada di rumah.

Lalu keduanya mencari barang yang mereka incar. Saat mencari, Putra dan Kancil dikejutkan kedatangan Reida. Keduanya bersembunyi di dalam kamar tempat mereka tidur sebelumnya. Saat itu, Putra bersembunyi di balik horden sambil memegang parang bengkok.

Kemudian Reida masuk ke kamar tersebut dan membuka horden tempat Putra sembunyi. Melihat Putra dan Kancil, Reida terkejut dan berteriak.Namun saat Reida akan berteriak Putra langsung mengayunkan parang di kepala Reida hingga terduduk di lantai.

Putra kembali membacok kepala Reida berulang kali hingga Reida telentang di lantai dan tewas. Lalu menarik kalung emas dan dua cincin yang dipakai Reida.

Berhasil mengambil emas nenek itu, Kancil menyembunyikan parang bengkok yang dipakai Putra untuk membacok Reida, obeng dan pisau dapur ke bawah kasur di dalam kamar belakang rumah Reida. (lud)