Siswi SMA HKBP Ditemukan Tewas

Sebelumnya Terima SMS dari Seorang Pria

Jasad siswi SMA HKBP yang tewas di dekat rumahnya disambut isak tangis di rumah duka. [Foto: TAMAN]

PARAPAT- Sebelum jenazah Evi br Sitorus ditemukan di ladang kopi, warga Aek Natolu Jaya, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Tobasa ini sebelumnya menerima SMS dari seorang pria benama Alex Sinaga, yang diduga pacar korban, Kamis (15/8), sekira pukul 20.00 WIB.

“Aku udah di Sipangan Bolon.” Begitulah isi SMS yang diterima Evi. Hal ini disampaikan oleh kakak kandung korban, Santri br Sitorus (21) yang ditemui METRO di rumah duka, Selasa (20/8).

”Malam itu saya dan adik saya (korban) di rumah dan saat korban lagi mandi di kamar mandi, Hp-nya bunyi. Ada SMS masuk ke Hp-nya, lalu saya buka dan baca, tertera identitas si pengirim SMS di Hp adik saya itu bernama Alex Sinaga. Setelah selesai saya baca, Hp saya letak kembali,” aku Santri br Sitorus.

Selanjutnya, selesai mandi dan berpakaian, Evi permisi kepadanya hendak menemui temannya di luar dan sejak itu Evi tidak pulang hingga ditemukan sudah jadi mayat.

Menurut Santri, dari pengakuan adiknya (korban) sebelum meninggal, Alex Sinaga merupakan pacar Evi yang bekerja di PT Aquafarm Nusantara (PT AN) dan tinggal di Girsang II, Kelurahan Girsang, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, tepatnya dekat dengan lapangan bola kaki Girsang Sipangan Bolon.

Namun setelah dicek personel Polsek Lumban Julu , karyawan PT AN tidak ada bernama Alex Sinaga dan di Kelurahan Girsang Kecamatan Girsang II, warga disana juga tidak mengenal pria bernama Alex Sinaga.

Sementara, menurut pengakuan warga di lokasi, saat mayat korban ditemukan, tidak ada barang bukti Hp korban ditemukan. Dan saat kakak korban menghubungi Hp korban, sudah tidak aktif lagi.

Jenazah Korban Disambut Tangis Histeris

Kondisi rumah keluarga Evi br Sitorus yang hanya berdinding papan. [Foto: Taman Haloho]

Tiba di rumah duka, Selasa (20/8), sekira pukul 13.41 WIB, jenazah siswi Kelas III SMA HKBP Parapat ini disambut tangis histeris oleh ibu, kakak dan keluarga korban.

Sementara jenazah Evi sudah di dalam peti dan tidak dapat dilihat oleh keluarga karena kondisi korban yang tidak mengizinkan. Ibu korban Lasmaria br Manik dan kakak kandung korban Santri br Sitorus tidak dapat membendung tangisnya.

Kepada METRO, bapauda (adik bapak, red) korban, J Sitorus mengatakan, korban merupakan anak bungus dari lima bersaudara.

Katanya, belum lama ini, kakak korban juga baru meninggal dunia karena sakit. “Kalau tidak salah, kakak korban bernama Hertiwati br Sitorus meninggal dunia pada Januari 2013 dan bapak korban sudah meninggal 20 tahun lalu. Saat itu kelima anaknya masih kecil-kecil,” ungkap Sitorus.

Untuk membesarkan kelima anaknya, ibu korban bekerja sebagai petani di ladangnya sendiri dan mengambil upah dari ladang orang lain.

Sementara, dari hasil otopsi di RSU Djasamen Saragih, korban dipastikan meninggal karena tersumbatnya saluran pernafasan yang diakibatkan banyaknya kotoran seperti debu dan beberapa sampah yang telah membusuk.

“Selain tersumbatnya saluran pernafasan, korban juga mengalami luka memar dan lecet pada bagian paha kanan dan bagian bokong. Kalau memastikan korban diperkosa atau tidak, itu sulit ditandai karena kondisi jenazah sudah parah. Hasil otopsi lainnya tidak dapat dipublikasikan karena untuk kepentingan penyidikan,” terang dokter Forensik Dr Reinhard Hutahaean.

Kapolsek Lumban Julu AKP G R Purba melalui Briptu C Hutapea yang menjemput jenazah ke INstalasi Jenazah mengaku tidak dapat memberikan keterangan karena hal ini bukan wewenangnya.

Rumah Berlapis Papan Tak Dapat BLSM
Pantauan Metro, kondisi rumah korban dan keluarganya memang tak layak huni, dimana rumah itu hanya berlapiskan papan dan sudah banyak bolong-bolong akibat pembusukan dimakan rayap. Diketahui, mereka juga memasak menggunakan kayu baker yang dikumpul setiap hari dari ladangnya.

Kepada METRO, Kepala Desa Aek Natulu Jaya P Sitorus yang ditemui di lokasi rumah duka mengatakan, di dusun tersebut ada 23 KK. Kades mengakui bahwa keadaan rumah korban memang tidak layak huni dan hal ini sudah didata pihak Badan Pusat Statistik (BPS). ”Masalah Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), ibu korban yang seorang janda tidak dapat,” akunya dengan wajah tampak bingung.

Kata kades, korban merupakan sosok pendiam, tertutup dan kegiatan sehari-harinya hanya ke sekolah dan di rumah mengerjakan pekerjaan rumah membantu ibunya. Ibunya bertani di ladangnya sendiri dan mengambil upahan dari ladang orang.

SMA HKBP Parapat Berduka
Pihak SMA HKBP Parapat menyampaikan duka sedalam-dalamnya atas kepergian korban. ”Semoga kita dan keluarga yang ditinggalkan oleh Evi Waty br Sitorus  lebih tabah  dan sabar.

Karena  mungkin Tuhan sangat mencintai dia sehingga Tuhan lebih cepat memanggilnya. Yah kita hanya dapat berdoa agar korban diterima di sisi Tuhan,” doa Wakil Kepala Sekolah SMA HKBP Parapat TB boru Manurung saat ditemui di kantornya, Selasa (20/8) sekira jam 10.00 WIB.

Katanya, Kamis(15/8), korban masih  masuk sekolah. Namun esoknya tak masuk lagi. (TH/lud)