Syekh Syihabuddin Nasution, Pejuang Kemerdekaan yang Terlupakan

[Foto: Ist]
Mahasiswa STAIN Psp foto bersama di depan Masjid Syekh Syihabuddin Nasution yang tidak terawat dan butuh perhatian Pemkab Tapsel, Senin (13/5).

TAPSEL – Dosen Jurusan Dakwah Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) STAIN Psp Barkah Harahap menyebutkan, Syekh Syihabuddin Nasution merupakan pejuang kemerdekaan yang terlupakan. Terbukti, masjid yang didirikan syekh ini di Desa Aek Libung, Kecamatan Sayurmatinggi Tapanuli Selatan, tidak terpelihara dengan baik.

Menurut Barkah Harahap kepada METRO, Selasa (14/5), Syekh Syihabuddin adalah seorang ulama sekaligus tokoh Tapanuli Selatan yang ikut mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada periode Mei-Juni 1949. Saat itu, kolonial Belanda ingin memasuki daerah Angkola Jae dan ingin menuju daerah Mandailing.

Namun di Desa Huraba, Kecamatan Angkola, terjadi pertempuran sengit antara TNI, Brimob dan rakyat untuk melawan kolonial Belanda. Dalam pertempuran itu, Syekh Syihabuddin menggoreskan tongkatnya yang dipegang komandan TNI di jalan raya dari tepi kanan ke kiri arah kiblat.

Dengan ikhtiar yang dilakukan Syekh Syihabuddin itu, tentara kolonial Belanda tidak dapat melewati jalan yang telah digaris. Karena mereka melihat daratan berubah menjadi laut yang luas.

Bahkan ada sebagian tentara Belanda yang seolah-olah berenang, padahal yang mereka lewati adalah daratan. “Di sinilah kesempatan TNI, Brimob dan rakyat memerangi tentara kolonial Belanda. Akhirnya peperangan itu dimenangkan TNI, Brimob dan rakyat,” jelasnya.

Bukti sejarah ini diabadikan di Desa Huraba yang disebut dengan Monumen Benteng Huraba atau BENHUR dan sebuah masjid. Sejarah ini adalah hal yang sangat berharga yang tidak bisa dilupakan, begitu juga Pemkab Tapanuli Selatan, diharapkan bisa memerhatikan sejarah yang ada dengan menjaga dan melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah.

“Namun saya miris ketika saya dan rombongan mahasiswa dari STAIN, Senin (13/5) berkunjung ke Masjid Syihabuddin yang ada di Desa Aek Libung yang didirikan Syekh Syihabuddin, kondisinya sangat memprihatinkan.

Sangat butuh perhatian, baik dari bangunan dan perawatan bangunan. Kebudayan dan sejarah adalah ilmu yang sangat berharga. Jadi saya sangat berharap pemerintah memerhatikan tempat-tempat bersejarah yang ada di Tapanuli Selatan ini,” ungkap Barkah.

Dikatakannya, Masjid Syekh Syihabuddin merupakan salah satu masjid bersejarah dalam pengembangan ajaran dan kebudayaan Islam di Tapanuli Selatan. Masjid ini didirikan Syekh Syihabuddin pada tahun1337 Hijriah atau 1919 Masehi.

Masjid ini adalah tempat Syekh Syihabuddin mengajarkan Islam kepada masyarakat, tentang Tasauf Thariqat Naqsyabandiyah, agar masyarakat senantiasa berbudi pekerti yang baik.

Disebutkan, kegiatan seperti ini adalah kegiatan rutinitas mahasiswa jurusan dakwah dalam menggali sejarah kebudayaan Islam di Tapanuli Selatan, bertujuan memberikan pengetahuan dan mengembangkan kemampuan mahasiswa di bidang jurnalistik.

Karena mahasiswa akan dituntut mampu menceritakan kembali sejarah yang terdapat di lokasi ke dalam sebuah tulisan. “Ini adalah kegiatan mahasiswa yang kita bentuk untuk menggali sejarah kebudayaan Islam dan akan dituangkan dalam tulisan.

Ini akan memberikan pelatihan bagi mahasiswa kita di bidang jurnalistik,” jelasnya lagi. (ral)

Komentar